Tulisan Yang Tidak Akan Terselesaikan

Kau memintaku menuliskan kisahmu?

Lalu, dari mana hendak kumulai?
Dari awal kenalan hingga masa-masa indah dengan teman tidurmu?
Ah, maksudku, kekasih belahan hatimu itu?
Atau langsung kumulai dari cerita picisan pen-campakan dirimu saja?
Ah, maksudku, cerita putusmu itu?

Tapi, haruskah kutuliskan juga tentangmu yang tidak pernah mensyukuri hidup?
Apakah berarti kau ingin semua orang tau tentang kecerobohan dan kebodohanmu?
Seingatku, kau adalah wanita dengan harga diri tinggi, bukan?
Lantas untuk apa kutuliskan?
Agar semua tahu?

Atau, kau masih belum mengerti?

Advertisements

Ide Abstrak “Moralitas” Para Millenial: Pacaran Dan Pelacuran

“Pacaran” sebuah istilah yang umum digunakan untuk mengekspresikan sebuah hubungan terdengar tidak lebih baik dari kata “pelacuran”. Sebuah istilah yang bagiku semakin tampak sebagai bentuk pembenaran dari para moralis untuk melegitimasi hubungan seksual antara dua individu. Untuk terlepas dari pengadilan moral yang mereka ciptakan sendiri.

Disaat lawakan-lawakan dan meme-meme tentang kesendirian ramai di dunia maya, seolah-olah sendiri adalah hal yang menyedihkan, tidak memiliki tempat dan tidak lagi menjadi hal yang istimewa.
Justru di mataku, aku kasihan dengan mereka yang membanggakan pacaran (hubungan yang bagiku telah mengalami pereduksian makna yang sangat jauh) namun membenci pelacuran. Karena tampak bagiku perbedaan diantara keduanya hanyalah pada jangka waktu dan harga yang ditawarkan. Saat ini, kedua istilah tersebut sama-sama melayani hasrat seksual pasangannya; yang pacaran disewa (dalam bentuk hadiah tiket liburan ke luar negri) untuk kurun waktu relatif lama, sedangkan pelacuran memiliki waktu yang cenderung singkat dan dibayarkan langsung oleh sepotong kertas.

Meskipun memiliki kesamaan dalam esensi, namun ketidakadilan yang hadir sangatlah kontras; jika yang pacaran mendapat perlindungan ekslusif dan memiliki citra baik atau paling buruk tidak diakui, maka yang pelacur sering menerima kesewenang-wenangan dan direndahkan oleh orang-orang sekitarnya.

Naif jika kita berpikir hanya pelacur yang memiliki motif ekonomi dalam dorongan menjual diri, karena pada kenyataannya saat ini kita tinggal dalam dunia di mana penderitaan dan pengangguran merajalela, akan banyak orang yang akan menjalani profesi apa saja yang masih lowong; selama pacaran bisa menaikkan status sosial seorang, maka kebanyakan orang akan lebih memilih pacaran, karena pekerjaan ini tidak beresiko dan mendapat gaji lebih baik dari pelacuran.

Sering dipertanyakan, mengapa ia memililih pelacuran? mengapa ia tidak mencari pekerjaan lain?
Perlu dicatat, untuk satu hal, pelacur tidaklah memiliki kebebasan lebih dalam memilih seperti yang didapati pekerja pacaran, karena proporsi besar dari para pelacur, dulunya, adalah para pembantu rumah tangga. Tereksploitasi, diperbudak, lebih diperlakukan sebagai benda daripada manusia, tidak dapat mencari perkembangan pada nasibnya. Dari perbudakan rumah tangga dan menjadi subjek seksual, ia jatuh ke dalam perbudakan yang tidak lebih merosot. Lalu ide abstrak mengenai moralitas sama sekali bukan sebuah halangan.

Seorang pacar dan pelacur terkadang merasakan adanya perselisihan dan penolakan kepada pasangannya; tapi, ia tetap berada di bawah kekuasaannya dengan ketakutan, karena ia terus mempertahankan cengkeraman kepadanya untuk supaya ia tetap dapat menlanjutkan kehidupannya.

Bukan situasi moral dan psikologis yang membuat nasib para pelacur dan pacar berat untuk ditanggung. Kondisi material merekalah yang paling sering menyedihkan. Oleh karena itu akan sulit bagi seseorang menemukan pacar yang hadir dari teori-teori cinta.

Tapi pada akhirnya di mata para moralis; apapun alasannya, kebenaran selalu milik mereka.

Surat Untuk Matahari Yang Terenggut Tuhan

Selamat datang kembali nona penanam aster, mungkin semalam kau bosan terus-menerus mendengarku mengoceh. Aku terlampau bersemangat.
Ah, kau tentu tahu itu, aku yang masih saja selalu antusias meskipun kita kerap berjumpa di sepertiga malam.
Karena hanya kaulah yang selalu saja setia mendengar ceritaku, tidak perduli yang keluar dari mulutku hanyalah omongkosong. Aku tahu kau bosan, tapi kau masih saja duduk mendengarkan, masih saja menjawab pertanyaan-pertanyaanku yang tak bermakna.

Ah iya, ingatkah kau dimalam ketika aku bercerita tentang seorang wanita yang mungkin saja dapat menggantikan sosokmu untuk kesekian kalinya? Kau pun selalu tersenyum sukacita. Raut wajahmu yang ceria selalu mengisyaratkan berjuta cerita dan lalu kau pasti memberiku ucapan selamat, meyakinkan jika aku dapat menjalani hubungan tersebut.
Kau selalu saja percaya pada diriku ketika aku bahkan tidak lagi memiliki kepercayaan pada diriku sendiri.
Dan lalu untuk kesekian kalinya aku akan datang kembali dengan keluhan yang sama, bahwa ternyata aku salah lagi, dan kau pasti akan berujar “itu semua adalah jalan dari keseluruhan cerita, jalani saja”.

Bahkan hingga kini aku tak pernah benar-benar mengenal sosokmu, kau yang begitu tangguh, kau yang begitu setia, dan kau yang selalu menjadi matahariku terbenam.
Sampai kapan aku dapat lepas dari bayangmu? pada siapa aku dapat menemukan sosokmu? Sampai kapan aku harus mencari? Apakah ini juga adalah alur dari keseluruhan cerita?

Jika iya, maka aku ingin berhenti dari skema ini, aku terlampau lelah, aku terlanjur tenggelam dalam keselarasan ketidak sempurnaan dirimu, seperti yang sering kau ucapkan.

Aku tidak lagi ingin menjadi pemeran dalam pementasan apapun, toh di akhir cerita aku selalu menjadi pecundang yang dipecundangi. Pada akhirnya aku yang selalu kalah dan dikhianati.

Dengan begitu aku dapat mencumbu dirimu setiap saat datangnya sepertiga malam, dengan begitu kau akan abadi dalam pandanganku, dengan begitu aku tidak akan lagi pernah terluka oleh tipuan-tipuan dan pengkhianatan di luar sana. Dengan begitu aku tidak lagi perlu lelah mencari sosokmu pada yang lain. Bolehkah?

Tentu kau akan murung mendengar perkataanku ini, tentu kau kan kecewa, namun dimana lagi aku dapat menemukan seseorang yang mampu menyusutkan diriku ke ukuran mikrosopis dan berenang pada relung terkecil kolam hatiku?

Enam tahun kau pergi, tapi aku tidak yakin kehilanganmu, aku pun tidak yakin orang-orang yang mencintaimu kehilanganmu. Karena kau terlalu baik bagiku, kau terlalu baik bagi setiap orang yang mengenalmu.

Untuk itu, di sepertiga malam aku akan selalu membuka lebar pintu dan jendela kamarku, agar angin leluasa masuk membawa rindu.

Titip salamku untuk Tuhanmu yang pencemburu itu, Tuhan yang merenggut matahariku, yang mengambil lentera kehidupanku.

Salam rindu.

Dalam Lupa Ada Manusia

Ungkapan plato tentang manusia yang terkesan sulit untuk menemukan dirinya sebagai manusia, terdengar masuk akal bagiku. Tak tampak, tapi, desiran desire yang dikatakan Plato sebagai salah satu muasal manusia tersebut menciptakan mimpi-mimpi kejayaan kehidupan, lalu menjelma destruktif; menghancurkan diriku sendiri.

Aku menjadi pelupa ulung, membiarkan catatan masa laluku terus terulang sampai aku lelah dan letih kemudian bersandar untuk kembali menyegarkan hasrat tersebut, mengulangnya lagi agar aku kembali jatuh dan kalah. Karena bagiku, lupa tidaklah seburuk anggapan sebagian besar orang-orang. Justru di balik pertentangan itu, aku ingin terus melupa, biar ia menjadi sang penjaga, pengantar, menuju apa yang disebut kebaikan. Sebuah kelemahan yang bisa juga berarti ketulusan paling tinggi.

Dan sekarang aku akan kembali membenci, mencinta, sebagai alasan untuk dapat terus memelukmu, memeluk setiap dari mereka dalam hasrat yang kupikir mati namun masih menyala di kedalaman abisal yang gelap tak berpendar ini.
Biar segala kecamuk, pertikaian, dan pertumpahan darah dalam kemanusiaanku ini terus merongrong kedamaianku, aku akan terus mengulangnya. Kembali lupa.
Mengulik makna dari hasrat ini ditemani dirimu, juga mereka.

Dan kini, biarkan aku mencoba kembali menyelami lautan desire tentangmu, tentang mereka, melanjutkan hidup atau mati cepat, atau sebaliknya.

Akhir Dari Sebuah Cerita Yang Berawal Dari Komedi

Lama sudah aku coba menghindari hubungan dengna wanita-wanita kota, dimataku sebagian besar dari mereka tampak makin buruk, terlihat bagaikan budak dari kehendaknya sendiri, terpenjara dalam hasrat eksistensinya yang tidak pernah terpenuhi. Tumbuh dalam budaya hedonisme yang menggerogoti kehidupan mereka.
Alasan yang membuatku mencoba hubungan dengan wanita-wanita yang bagiku tampak sederhana, seorang wanita dengan simplisitasnya sendiri, jauh dari keglamouran kota. Kupikir mereka akan mampu memberiku definisi baru tentang cinta, kacamata berbeda dalam mengarungi kehidupan, menyajikan kehangatan pada sebuah hubungan yang entah sudah berapa lama tidak lagi kutemukan dari wanita-wanita di sekitarku.

Namun kenyataannya semua itu hanyalah bayang imajiner yang tercipta dari persepsiku sendiri, hasil dari kebencianku yang sekian lama menumpuk atas kehidupan orang-orang di sekitarku.
Yang kudapati justru kekecewaan yang luar biasa hebat. Bukan cinta tak terbalas yang membuatku gundah. Ada hal lainnya yang tidak mampu kutuliskan dalam catatan absurd ini, sesuatu yang tidak dapat kusamakan dengan wanita-wanita yang selama ini pernah menemaniku.

Ada sekelebat memori merasukiku setiap kali aku mengingat dirinya. Bukan kenangan indah tentang matanya yang tajam, simpul senyumannya yang nampak anggun, atau segala lembut peluknya, hangat bersamanya. Namun memori yang hadir saat ini, memori yang ia tinggalkan ini membuatku merasa jika tubuhku tak lagi memiliki gravitasi. Melayang jauh tidak terbaatas. Tanpa jejak. Jiwaku datang dan pergi. Aku sesekali menarik dalam nafasku, tersenyum tipis diantara kegamblangan pikiranku.

Setelah semua hal yang terjadi, aku baru menyadari jika selama ini, ia menganggap keseriusanku tak berarti apapun, ia tidak peduli tentang ketulusan yang coba kuberi. Ia hanya hadir sekilas dikehidupanku, untuk menghakimi diriku yang buruk menjadi semakin buruk.

Dulu, ia lah yang membuatku berpikir jika masih ada oase di padang gersang yang terselimuti debu kegagalan. Kemudian kini ia juga lah yang mencerabut semua harapan yang selama ini ia berikan.
Lebih dari itu, ia juga yang membuatku salah menafsirkan tentangnya, membuatku malu pada diriku sendiri, dan menjadikanku tampak bodoh dan tidak tahu diri di hadapannya.

Aku merasa ia telah mengoyak luka yang selama ini ia torehkan, karena justru akulah yang terpaksa meminta maaf atas sesuatu yang ia ciptakan sendiri. Tapi aku memang harus melakukannya, sebagai ode kejujuranku kepadanya, dimana selama ini aku benar-benar tulus mencintainya sepenuh hatiku, dan perpisahan itu memang layak untuk berakhir baik, seperti saat aku baru mengenalnya. Untuk itu aku benar-benar ingin melihat kehidupannya kedepan menjadi lebih baik, menjadi wanita yang suatu saat mampu menjadi matahari untuk orang sekitarnya.

Untuk semua yang ia berikan kepadaku itu, aku hanya bisa menerimanya sepenuh hati. “Yasudahlah, aku tidak punya kuasa atasmu, kamu punya kehidupanmu sendiri, begitulah cara yang kamu pilih…”, ujarku pelan atas perlakuannya yang membuat nafasku terasa berat tercekat.

Tetapi bagiku ini adalah akhir yang sempurna, karena cerita yang berawal dengan komedi memang haruslah berakhir tragedi.


ME

Bankbenkz

Bankbenkz

Know nothing

Personal Links

Verified Services

View Full Profile →

Archives

February 2018
M T W T F S S
« Dec    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728  

Twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Follow KNOW NOTHING on WordPress.com

Blog Stats

  • 3,551 hits
Advertisements