Dalam Lupa Ada Manusia

Ungkapan plato tentang manusia yang terkesan sulit untuk menemukan dirinya sebagai manusia, terdengar masuk akal bagiku. Tak tampak, tapi, desiran desire yang dikatakan Plato sebagai salah satu muasal manusia tersebut menciptakan mimpi-mimpi kejayaan kehidupan, lalu menjelma destruktif; menghancurkan diriku sendiri.

Aku menjadi pelupa ulung, membiarkan catatan masa laluku terus terulang sampai aku lelah dan letih kemudian bersandar untuk kembali menyegarkan hasrat tersebut, mengulangnya lagi agar aku kembali jatuh dan kalah. Karena bagiku, lupa tidaklah seburuk anggapan sebagian besar orang-orang. Justru di balik pertentangan itu, aku ingin terus melupa, biar ia menjadi sang penjaga, pengantar, menuju apa yang disebut kebaikan. Sebuah kelemahan yang bisa juga berarti ketulusan paling tinggi.

Dan sekarang aku akan kembali membenci, mencinta, sebagai alasan untuk dapat terus memelukmu, memeluk setiap dari mereka dalam hasrat yang kupikir mati namun masih menyala di kedalaman abisal yang gelap tak berpendar ini.
Biar segala kecamuk, pertikaian, dan pertumpahan darah dalam kemanusiaanku ini terus merongrong kedamaianku, aku akan terus mengulangnya. Kembali lupa.
Mengulik makna dari hasrat ini ditemani dirimu, juga mereka.

Dan kini, biarkan aku mencoba kembali menyelami lautan desire tentangmu, tentang mereka, melanjutkan hidup atau mati cepat, atau sebaliknya.

Advertisements

Akhir Dari Sebuah Cerita Yang Berawal Dari Komedi

Lama sudah aku coba menghindari hubungan dengna wanita-wanita kota, dimataku sebagian besar dari mereka tampak makin buruk, terlihat bagaikan budak dari kehendaknya sendiri, terpenjara dalam hasrat eksistensinya yang tidak pernah terpenuhi. Tumbuh dalam budaya hedonisme yang menggerogoti kehidupan mereka.
Alasan yang membuatku mencoba hubungan dengan wanita-wanita yang bagiku tampak sederhana, seorang wanita dengan simplisitasnya sendiri, jauh dari keglamouran kota. Kupikir mereka akan mampu memberiku definisi baru tentang cinta, kacamata berbeda dalam mengarungi kehidupan, menyajikan kehangatan pada sebuah hubungan yang entah sudah berapa lama tidak lagi kutemukan dari wanita-wanita di sekitarku.

Namun kenyataannya semua itu hanyalah bayang imajiner yang tercipta dari persepsiku sendiri, hasil dari kebencianku yang sekian lama menumpuk atas kehidupan orang-orang di sekitarku.
Yang kudapati justru kekecewaan yang luar biasa hebat. Bukan cinta tak terbalas yang membuatku gundah. Ada hal lainnya yang tidak mampu kutuliskan dalam catatan absurd ini, sesuatu yang tidak dapat kusamakan dengan wanita-wanita yang selama ini pernah menemaniku.

Ada sekelebat memori merasukiku setiap kali aku mengingat dirinya. Bukan kenangan indah tentang matanya yang tajam, simpul senyumannya yang nampak anggun, atau segala lembut peluknya, hangat bersamanya. Namun memori yang hadir saat ini, memori yang ia tinggalkan ini membuatku merasa jika tubuhku tak lagi memiliki gravitasi. Melayang jauh tidak terbaatas. Tanpa jejak. Jiwaku datang dan pergi. Aku sesekali menarik dalam nafasku, tersenyum tipis diantara kegamblangan pikiranku.

Setelah semua hal yang terjadi, aku baru menyadari jika selama ini, ia menganggap keseriusanku tak berarti apapun, ia tidak peduli tentang ketulusan yang coba kuberi. Ia hanya hadir sekilas dikehidupanku, untuk menghakimi diriku yang buruk menjadi semakin buruk.

Dulu, ia lah yang membuatku berpikir jika masih ada oase di padang gersang yang terselimuti debu kegagalan. Kemudian kini ia juga lah yang mencerabut semua harapan yang selama ini ia berikan.
Lebih dari itu, ia juga yang membuatku salah menafsirkan tentangnya, membuatku malu pada diriku sendiri, dan menjadikanku tampak bodoh dan tidak tahu diri di hadapannya.

Aku merasa ia telah mengoyak luka yang selama ini ia torehkan, karena justru akulah yang terpaksa meminta maaf atas sesuatu yang ia ciptakan sendiri. Tapi aku memang harus melakukannya, sebagai ode kejujuranku kepadanya, dimana selama ini aku benar-benar tulus mencintainya sepenuh hatiku, dan perpisahan itu memang layak untuk berakhir baik, seperti saat aku baru mengenalnya. Untuk itu aku benar-benar ingin melihat kehidupannya kedepan menjadi lebih baik, menjadi wanita yang suatu saat mampu menjadi matahari untuk orang sekitarnya.

Untuk semua yang ia berikan kepadaku itu, aku hanya bisa menerimanya sepenuh hati. “Yasudahlah, aku tidak punya kuasa atasmu, kamu punya kehidupanmu sendiri, begitulah cara yang kamu pilih…”, ujarku pelan atas perlakuannya yang membuat nafasku terasa berat tercekat.

Tetapi bagiku ini adalah akhir yang sempurna, karena cerita yang berawal dengan komedi memang haruslah berakhir tragedi.

Kecerdasan Sebagai Ekspresi Hubungan. Bag. (I)

Alvy singer : kalian terlihat seperti pasangan yang sangat bahagia. Benar?

Pasangan (wanita) : Iya

Alvy Singer : bagaimana kalian melakukannya?

Pasangan (wanita) : aku sangat dangkal dan kosong, dan tidak tahu apa-apa… dan tak ada hal yang menarik yang perlu dikatakan.

Pasangan (pria) : aku juga.

Alvy Singer : Wow… Menarik. Jadi itu cara kalian menjaga hubungan?

Pasangan (wanita dan pria) : Iya…

Alvy Singer : …..

— Annie Hall, 1977

Di bawah cahaya remang lampu kafe, sepasang kekasih duduk di depanku dengan salah satunya membelakangiku, dua manusia yang sedang tampak intim dalam pembicaraannya. Aku tak tahu banyak tentang mereka, namun aku tahu jika mereka sedang bahagia dan kuyakin mereka sedang jatuh cinta, atau setidaknya, mereka pikir sedang jatuh cinta.

Tidak banyak yang menarik dari penampilan keduanya, hanya suara-suara hambar yang mengganggu telinga hingga membuatku terpaksa mendengarkan percakapan mereka yang kosong.
Percakapan merekapun sesederhana percakapan pemuda kelas menengah (seperti diriku) lainnya, dan kuyakin sangat membosankan. Sungguh tidak menarik sama sekali untuk kutuliskan di sini.

Hingga akhirnya mereka beranjak pergi, aku telah memesan gelas kopi kedua, melanjutkan pekerjaan dalam layar monitorku dengan pikiran yang tak karuan.
Ingatan tentang percakapan mereka sukar menghilang, sebuah percakapan yang olehku enggan terucap bahkan dalam candaan sekalipun, dan topik yang mereka berdua bicarakan selama dua jam itupun adalah obrolan yang kosong dan repetitif. Candaan merekapun membosankan. Cenderung dangkal. Topik sebatas fashion, kendaraan, materil, dan terkadang mencoba romantis menggunakan quote-quote yang berseliweran dimedia sosial.
Namun, justru obrolan yang dangkal tersebutlah yang menggangguku; memunculkan pertanyaan tentang bagaimana cara mereka mempertahankan hubungan dalam badai kedangkalan dan kekosongan kata-kata.

Karena selama ini aku percaya jika obrolan dan pembicaraan yang menarik adalah hal terpenting dalam menjalin hubungan, terlebih hubungan jangka panjang yang mengatasnamakan cinta. Karena kata-kata ialah tentang mengkomunkasikan isi hati dan pikiran dalam sebuah kalimat. Gambaran kepribadian seseorang.

Aku tahu idealnya pasangan ialah berbeda-beda bagi setiap orang, aku yakin itu. Namun apakah komunikasi yang sempit dan kosong dapat menjamin mereka (yang cantik, gagah, mempesona, baik dan sebagainya) dapat mempertahankan sebuah hubungan? Apakah hal itu tidak lantas membuat mereka bosan?

Dan memang, mereka yang pandai tidak menjamin keharmonisan, hanya saja ia dapat memberi warna berbeda pada sebuah hubungan tersebut dengan candaan-candaan random/absurd dan pembahasan-pembahasan yang setidaknya tidak monoton (itu-itu saja)

Aku tentu tidak cerdas dengan pandangan luas. Aku hanya berpikir jika sebuah hubungan tidak hanya tentang berbagi suka duka, namun juga dedikasi, berbagi pengetahuan dan segala hal yang dapat mencerdeskan satu dengan lainnya. Hal-hal yang dapat membangun bukan malah membodohkan dengan pembicaraan-pembicaraan yang dangkal dan kosong.
Tahu kapan serius dan tahu kapan bercanda.

Kukatakan lagi, aku tidak cerdas dengan pandangan luas, namun aku yakin jika aku dapat membuat pasanganku jauh lebih bahagia dibanding pria di kafe tersebut.

Kekalahan Dalam Keabadian Dirinya

Hadirnya adalah ketidakpastian dari masa depan yang menjelma menjadi harapan. Harapan kosong nan-melelahkan, namun tak kunjung sirna. Sekalipun semesta di ambang kehancuran dan hidupku dipenghujung nafas kematian. Selama harapan ini masih ada, perasaanku pun tetap terjaga.

Aku tahu bahwa harapan selalu hadir tanpa aba-aba, ia menggerogoti relung rasaku yang kering dan haus. Aku tahu harapan seharusnya kuperjuangkan dengan kegigihan, hingga akhirnya aku dapat memberi yang terbaik bagi dirinya yang kuharapkan.

Tidak pernah terpikir olehku sebelumnya untuk berbalik dan menyerah. Namun, bagaimanapun, berjuta harap itu hanya akan menjadi sekedar ilusi hampa ketika ia yang kuharapkan tak bergeming bahkan tak perduli sama sekali.

Aku sejak lama selalu menganggap bahwa cinta memang selalu mengenai perjuangan. Individu-individu yang terikat oleh cinta, adalah mereka yang tetap berjuang meski menyadari kenyataan bahwa yang ia perjuangkan tidak memperdulikan bahkan tak menghiraukan dirinya.
Tetapi sejak beberapa tahun terakhir aku mulai menganggap bahwa semua itu memang benar adanya adalah omong kosong, produk dan nilai-nilai yang tercipta dari remaja yang enggan mengakui kekalahan dan kelemahan dirinya.

Tapi, mengapa ketika aku baru saja berpikir telah mampu untuk berharap kembali, justru aku menyadari bahwa ternyata semua itu hanyalah ilusi yang tercipta dari ketidaktahuan maluku yang semu? Namun, mengapa harapan kali ini terasa lebih mencabik perasaanku dari harapan-harapan sebelumnya? Mengapa kini aku takut menyirami harapan tersebut dengan angan-angan jumawa tengang cinta?
Mengapa aku justru diliputi ketakutan yang menembus sukma? Apakah karena aku begitu lama menanggalkan pengharapan pada diriku?

Entahlah,

Yang jelas, ketakutan yang ter-realisasi, adalah merupakan sebuah mimpi buruk. Ketakutan akan menjadi baik-baik saja ketika ia tidak akan pernah tercapai. Seperti hal nya diriku sekarang, terus mencoba untuk merengkuh luka, dan berusaha untuk membangun kembali ketakutan dari harapan yang sebelumnya telah hilang karena tereduksi oleh waktu.

Namun, apapun hasil yang akan kudapat, aku percaya bahwa cinta yang paling baik, sama hal nya dengan sepucuk surat, adalah cinta yang tak terbalas.
Cinta semacam ini tak akan pernah tergerus oleh ganasnya waktu, bahkan jika waktu telah kehilangan maknanya, ketika yang tersisa hanyalah kehampaan. Cinta tetapla abadi.

Tentang Undangan Buka Bersama Dan Tanggung Jawab Pertemanan Di Dalamnya

 

bukber3

Omong kosong lainnya

Pertemanan itu seharusnya adalah hal yang spesial, seorang yang dapat melihat yang lainnya lebih dari apa yang terlihat. Mereka yang mampu melihat sesamanya lebih jauh dari hanya sebatas darimana ia berasal, seberapa elegan penampilannya, atau seberapa mewah kendaraannya. Seorang teman yang baik adalah mereka yang dapat melihat sesamanya lebih jauh dari masa depan. Mereka yang menerima apa adanya.
Melumat segala macam teori-teori ketidakmungkinan menjadi kemungkinan.

Undangan buka bersama tahun inipun tak kalah ramainya dengan undangan-undangan tahun sebelumnya, duapuluh lebih antrian dalam kanal SMS-ku yang belum sempat kubalas semua. Tidak, aku tidak berniat mengabaikan mereka yang menganggapku kawan, aku hanya selektif dalam memilih perihal semacam ini, karena bagiku momen buka bersama ini bukan hanya sekedar ajang bernostalgia ria sembari menghabiskan waktu dengan omongkosong.
Alasanku adalah karena sebagian dari undangan tersebut hanyalah berisi kumpulan orang yang hanya sekedar ingin menghabiskan uang mereka dengan makan-makan di luar rumah lalu mengisinya dengan tawa-tawa hambar.

Ada yang lebih esensial daripada sekedar euforia melepas rindu semacam itu.

Hal yang lebih penting bagiku dalam acara buka bersama adalah untuk melihat jalan seperti apa yang saat ini kawan-kawanku tempuh, dan untuk melihat mereka yang kini telah menikmati puncak kesuksesan dan yang sedang terpuruk dalam mendakinya.
Tentu aku tidak akan mampu merubah kehidupan seorangpun dari mereka yang terpuruk, maka dari itu hal yang paling utama dari buka bersama bagiku adalah keinginan untuk mempertemukan mereka yang beruntung dan kurang beruntung. Untuk saling bantu-membantu.

Keinginan terbesarku untuk melihat mereka melangkah di jalan yang sama, jalan yang dipenuhi bunga musim semi, menghirup semerbak wewangian bunga yang diterbangkan hembusan angin, lalu mengajak mereka yang sedang berada di jalan terjal ,  menyusuri bebatuan licin dan rapuh.
Aku ingin mereka bergenggaman tangan erat, mengulurkan ke yang membutuhkan, memapah bagi yang  kesakitan.

Namun tentu ini bukanlah kisah fiksi dengan akhir bahagia.

Kenyataannya, justru undangan dari mereka yang tidak kuharapkan lebih ramai dibanding beberapa acara buka bersama yang kuharapkan untuk terealisasi.
Mungkin mereka tidak lagi menganggap pertemanan sebagai hal yang luar biasa, atau juga karena sebagian mereka justru sungkan untuk hadir karena merasa tidak lagi punya kecocokan dengan yang lainnya; entah karena kini mereka merasa ada ditingkatan yang lebih tinggi atau mungkin juga karena merasa berada di tempat yang lebih rendah. Entahlah.

Yang jelas, apapun alasannya akan sama-sama menyakitkannya, bukan karena aku akan ditinggalkan, aku terluka karena hingga saat ini aku belum juga mampu mengemban tanggung jawab sebagai teman, yang bisa membantu meski tidak mereka minta.
Aku merasa sedang mengkhianati tanggung jawabku selama ini karena telah mengatasnamakan pertemanan.

Lalu, pada akhirnya, pencapaianku saat ini hanya kunikmati sendiri, angan-anganku hanya menyublim menjadi retorika-retorika imajinatif yang tidak dapat terealisasikan.

Aku teman yang gagal.


ME

Bankbenk

Bankbenk

Know nothing

Personal Links

Verified Services

View Full Profile →

Archives

September 2017
M T W T F S S
« Aug    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Follow KNOW NOTHING on WordPress.com

Blog Stats

  • 3,202 hits