Archive for the 'blog' Category

Tentang Surat Yang Tidak Untuk Tersampaikan

Seberapa kuat aku mencoba untuk mengabaikan hadirnya, justru semakin terasa nyata dalam bayangan. Lamunan-lamunan yang biasanya kuhabiskan untuk memikirkan hal-hal absurd tentang kehidupan, silih berganti eksistensinya yang mengalihkan nuansa keheningan. Ia terlampau indah untuk aku abaikan. Foto-fotonya teramat menarik perhatian untukku yang penasaran.

Apakah salah jika aku mencintai seseorang yang selama ini tak pernah kujumpai? Tidak kukenal dan mengenalku secara personal?
Jika memang cinta harus selalu terobjektifikasi, mengalah pada hal-hal fisikal, maka barang tentu aku tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk tahu rasanya mencintai dengan tulus seseorangpun. Dan selamanya aku hanya akan terjebak dalam keilusifan yang orang lain ciptakan.

Tapi bukankah katanya cinta adalah sesuatu yang tidak pernah dapat benar-benar kita mengerti sepenuhnya? Bukannya cinta juga tidak pernah menciptakan tepi-tepinya? Bukankah cinta adalah sesuatu yang sebegitu luas dan tak berbatasnya? Lantas mengapa apa yang aku rasa, apa yang kusebut sebagai cinta tampak sebegitu anehnya di mata orang lain? Apakah karena aku tidak menjalani apa yang orang lain biasa lakukan? Apakah memang sebuah rasa harus sedangkal itu? Mengapa bagi mereka makna ‘pembebasan’ dalam hubungan sebegitu sulit untuk dipahami? Ataukah aku yang memang selama selalu salah dalam mengartikan semua hal?

Ah… Terserah saja, meskipun pasti akan sulit mengabaikan setiap mulut dan kebisuan yang diam-diam tertawa di belakangku, biar.
Karena bagiku, apa yang aku rasa saat ini adalah manifestasi cinta yang aku tahu, inilah cinta yang kupahami dari keseluruhan pengalaman yang pernah menjatuhkanku ke jurang paling dalam pesakitan akan pencarian, kemudian kembali berjuang lagi dan hancur kembali.
Yang aku tahu, cinta dengan syarat harus saling memiliki satu sama lain hanya berakhir pada kengerian yang lebih dalam. Itulah yang aku tahu, itulah yang aku rasakan.

Biarkan aku tetap menjaga cinta yang kutemui kali ini dalam gairah kebisuan yang berteriak, agar apa yang kurasa tetap abadi, tidak lagi terobjektifikasi hanya sekedar menjadi pemuas kebanalan.

Untuk kali ini, aku tidak ingin membicarakan apa yang kurasakan ini pada sesiapun secara langsung, apalagi pada dirinya yang kumaksud. Aku tidak ingin ketidaktahuan maluku yang menyedihkan ini tampak semakin menjijikkan. Aku tidak ingin menambah jarak yang sebelumnya jauh kian tak terlihat. Aku hanya berharap tetap dapat melihatnya dari sudut-sudut yang tak ia sadari. Agar aku terus dapat menuliskan tentangnya, tentang segala kekagumanku yang tidak masuk akal ini. Menjaga mimpi dalam tidurku.

Inilah yang aku tahu; surat terbaik ialah surat yang tidak pernah tersampaikan. Pun cinta bagiku ialah perasaan yang ada untuk terabadikan.

Advertisements

Kekaguman Dalam Realitas Dirinya

IMG_20190126_160401.jpgAku pernah berkata jika perasaan cinta dapat datang kapan saja, dan di mana saja ia mau. Cinta tidak selalu dimulai, ia bisa saja hadir dalam lamunan, hadir di sela-sela pencarian makna kehidupan, hadir ketika kau sedang menggulir akun media sosialmu dan cinta tidak selalu berakhir seperti keinginan kita.
Cinta adalah pertempuran; ialah pergumulan tanpa akhir, kekaguman tanpa jeda.
Juga bagiku, cinta tidak mesti tersampaikan.
Aku memilih untuk menyimpannya sendiri, menjaga nyala hasrat agar ia yang kucintai dan kagumi tetap menjadi bagian dari diriku yang tak terpisahkan.

Namun, bohong jika aku berkata bahwa aku tidak ingin, barang secuil, menjadi bagian dari seorang yang aku kagumi tersebut.
Tetapi, apakah alasan itu cukup untuk membuatku lalu menyeberangi tembok tak kasat mata antara aku dengan dirinya? Apakah itu cukup menjadi alasan hingga aku menghilangkan kebebasan demi kepuasan egoku sendiri? Maksudku, kita tak mengenal satu sama lain.

Entahlah, mungkin ini semua terasa lebih berat karena aku terlalu menganggap dirinya kekaguman yang terlalu jauh.

Juga bagaimana ia yang sebelumnya dalam bayangku termistifikasi lambat laun menjadi begitu nyata, aku cukup malu menyampaikan jika beberapa kali ia hadir dalam mimpiku sebagai sosok yang benar-benar berbeda.

Tentu aku tak mengenal dirinya lebih dari apa yang aku lihat dalam layar media sosialku, namun aku cukup percaya pada kemampuanku dalam membaca seorang dalam dunia maya sekalipun.

Dari apa yang kutahu, ia tidak jauh berbeda dengan wanita lainnya, melakukan rutinitas yang mungkin hampir sama setiap harinya. Bekerja delapan hingga sepuluh jam per hari, lalu pulang untuk beristirahat dan esok kembali mengulangi hal yang sama.

Namun, sejak aku mulai menganggumi setiap gambar-gambar yang ia cipta, lambat laun aku juga melihat foto-foto lainnya yang ia unggah, entah ketika ia berada di tempat-tempat umum, pantai ataupun dalam ruangan sekalipun, ia dapat menangkap momen-momen itu dalam simplisitasnya yang memukau. Biasa namun tetap terlihat spesial.

Dari semua pengamatanku tentangnya tersebut, bagiku ia sungguh indah, namun sekaligus pasif dan sendu, seperti setangkai bunga yang terinjak.
Wajahnya yang mungil dan lembut, rambutnya yang tertutup hijab, terlihat tanpa hasrat, tanpa jiwa yang membara. Ia masih muda, tapi mimpinya seakan ia biarkan bersemayam di atas permukaan bintang yang telah mati di langit sana. Ia bagaikan satu bintang penyendiri di antara berjuta-juta bintang di seantero Bima Sakti, bintang semu yang selalu bersembunyi di balik bayang-bayang, tak lagi berpendar bahkan di kala bulan menampakkan dirinya, memantulkan cahaya.

Sedangkan di satu sisi, bagiku ia seperti cahaya natural yang persisten marasuk melalui kisi- kisi jendela di balik tirai di pagi hari, datang dan pergi, selalu bergerak.
Jika bayangan artifisial membuat bayangan seakan menjadi batu, tetapi tidak dengan dirinya. Ia adalah cahaya yang membuat bayang-bayangnya tetap hidup, bergerak dan bernafas, sambil terus membiarkan bayang-bayang tersebut mengikutinya, kemanapun ia pergi.
Seperti diriku yang kini mulai kusadari, menjadi bagian dari bayang-bayang atas dirinya.

Ah, aku rasa, aku begitu mengaguminya hingga aku mencintai absensinya, begitu mencintainya hingga aku mencintai pengharapanku sendiri yang kulalui atas nama dirinya.

Namun pada akhirnya, satu-satunya yang kutahu pasti mengenainya adalah kemungkinan, mungkin dan mungkin. Aku tidak pernah tahu pasti tentang dirinya. Semuanya relatif, subyektif.

Ah…mencintai itu hal yang biasa. Percayalah, dewasa ini, tidaklah begitu sulit untuk mencintai. Memutuskan apa yang aka kau lakukan dengan cinta dan pengharapanmu, di situ kesulitannya dimulai.

Setelah ini, mungkin ia juga mempunyai konsepsinya tersendiri mengenai siapa diriku. Sahabatnya, kawannya, pengagumnya, budaknya, apapun itu. Itu bukan masalah. Karena aku memang akan selalu pengagum dirinya dari balik belukar realitas.

Yang pasti bagiku saat ini adalah aku akan selalu manaruh rasa iri pada setiap orang yang pernah dan sedang di dekatnya.

Remaja, Merangkai Asa Pada Kecemburuan Buta (Bag. I)

maya1

Bermula dari perkenalan yang sederhana, lambat laun, aku mendapati diriku terkatung di atas jurang terjal, di antara tebing cinta dan kebingungan yang curam. Hingga saat aku menulis untuk mengisi kegelisahan abisalku ini, pikiranku masih berputar dan melayang, di dalamnya masih tersisa serpihan-serpihan tentang pertemuan singkat dengan dirinya, dengan intensitas yang pekat dan tajam.
Selalu, rasa penyesalan memang selalu berakhir dengan kebuntuan.

Mungkin ada yang salah dengan diriku; kesalahanku dalam menafsirkan sebuah rasa, salah dalam mengartikan perjumpaan yang teramat singkat itu?

Betapa muram. Sejak aku tahu ia memiliki seorang yang dicintainya, aku menyadari bahwa aku dan dirinya hanya akan menjadi kepingan-kepingan yang tercerai berai tak pernah utuh menjadi satu. Naif. Aku tau uluran tangan sang dewi tidak akan pernah datang. Tetapi lumrah bagi manusia, pun aku masih saja mengharapkan uluran tangan darinya agar terbebas dari kejatuhan kolosal.

Mungkin benar jika hati manusia tacipta dari kertas belaka, ia mudah terbakar dan binasa, hanya karena sepercik emosi, ia dapat tereduksi ke level binatang. Seperti diriku. Kesepianku, keterpurukanku, kebinasaanku sendiri, adalah konsekuensi dari jiwa yang tersulut oleh api asmara.

Aku juga menyadari kegelisahan ini sebagian besar disebabkan oleh diriku sendiri, aku yang memulai menggores tinta pada lembar miliknya, namun aku pula yang tidak mampu untuk melihat keseluruhan cerita dalam keparsialannya.
Aku selalu berusaha melihat segala sesuatunya dari kacamata obyektif, melihat sudut-sudut bukan dari ego personalku saja, melainkan secara keseluruhan: dampak, reaksi dari setiap aksi yang membentuk suatu konstelasi yang bisa dilihat dan dimengerti secara keseluruhan. Obyektif. Tapi, apakah itu sepenuhnya salah? Jika memang benar begitu, lantas apakah cinta masih patut untuk diperjuangkan?

Setelah menyadari kondisi dan reaksi yang mungkin akan terjadi, apa yang selanjutnya kulakukan? Apakah sebaiknya aku kembali memilih untuk terus bergelayutan di tepian jurang terjal itu? Apa selanjutnya?
Betapa pengecut diriku. Mencinta tak mampu, menderita pun tak mau.

Entah kenapa aku selalu terjebak dalam kebingungan yang mendalam ketika dihadapkan pada obyek asmara semacam ini. Aku tidak mampu membebaskan obyek asmara dari apa yang mengikatnya.
Semua hal yang mengikatku pada dirinya adalah tentang keindahan yang terus hadir dalam keheningan. Keindahannya itu terletak pada karakteristik, pada gestur di pertemuan pertama—begitu memikatku. Ia menggores cinta pada dinding-dinding khayalku.

Sekali lagi aku mendapati diriku merindu, kerinduan atas sesuatu yang mustahil; kerinduan untuk berada di sampingnya, menghirup aroma tubuhnya, merasakan sentuhan dari jarinya yang lentik dan tentu kerinduan untuk mendengar setiap kata yang keluar dari bibirnya.

Ah sialan, sekali lagi aku memantik api namun tak siap terbakar. Betapa egoisnya aku memaksakan kehendak untuk masuk dalam kehidupannya yang sedari awal aku tahu bahwa dirinya memiliki yang ia cinta.

Aku sangat menyadari, hubunganku dengan dirinya ini tidak mungkin akan berlanjut ke tahap selanjutnya, jika aku teruskan ia hanya akan kehilangan waktunya dan mungkin menjadi penyesalan yang teramat bagi dirinya.
Maka dari itu; perjalanan singkat ini hanya akan menjadi sebuah cerminan dari betapa tidak tahu malunya aku.
Namun, apapun hasil yang kudapati, aku tidak pernah menyesal berpikir pernah mencintai dirinya. Untuk itu, sesingkat apapun perjalanan dengan dirinya, ia selalu memiliki tempat dalam kehidupanku. Manyimpannya rapi bersama dengan catatan-catatan kegagalan cintaku lainnya pada rak kehidupanku.

Tetapi, sesadar apapun aku, seobyektif apapun diriku dalam keputusanku kali ini, tetap saja aku tidak bisa menyembunyikan seberapa besar rasa iri yang kusimpan terhadap lelakinya saat ini.

Tidak akan pernah mampu aku sembunyikan asa ini.

Tentang Sebuah Akhir Di Lembar Terakhir

11759

Entah mengapa, hal-hal yang dahulu menurutku biasa-biasa saja kini berubah berat dan menyesakkan dada. Tak yakin, tapi mungkin semua ini erat kaitannya dengan mengecilnya kacamataku memandang hidup, sebuah sudut pandang yang menyempit hingga membuatku tidak lagi mampu melihat keseluruhan cerita yang sedang kujalani. Aku merasa kehilangan kapasitas untuk memahami hal-hal yang esensial, aku menyadari segala sesuatunya tampak tak beraturan, namun tetap saja aku tidak memiliki kecakapan yang cukup untuk menyusun kepingan-kepingan itu menjadi satu skema utuh sehingga dapat membantuku memetakan solusi dan langkah-langkah yang akan kuambil selanjutnya.
Dalam hal ini, aku menyalahkan lingkungan tempatku tinggal dan tentu diriku sendiri secara pribadi.

Namun, apa yang tersebut di atas tidak sepenuhnya kuyakini, karena apa yang sekarang kujalani adalah tentang sebuah perasaan yang terluka, sentimen berubah kecewa, dan jiwa yang jemu. Sesuatu yang menurutku tidak selalu dapat dirasionalkan. Ialah sesuatu yang bergerak tanpa pernah kita sadari, lantas menjadi musuh bagi rasionlitas manusia. Ialah hasrat yang hadir dari tabula rasa sepi dan terasing, meski tak mandiri, akan tetapi ia selalu menemukan jalannya; menghendaki kebebasannya sendiri.

Seperti apa yang kualami sejak beberapa bulan ini, bermula saat aku bertemu dengan seorang teman wanita yang belakang mencuri fantasi dari harapanku (sekarang aku menyadari semua itu hanya bayang semu dalam menafsirkan egoku), ia mampu membuatku percaya bahwa ternyata kebahagiaan masih tersisa untukku, meyakinkanku bahwa kebahagiaan bisa hadir dalam bentuk melodi-melodi tak terduga, sebuah dentuman penghentak untuk hidupku yang monoton.
Aku tahu, aku bersamanya tidak lama, memang; namun dirinya berhasil membuatku merasakan kebahagiaan itu, penting ataupun tidak baginya, yang jelas dalam waktu sesingkat itu aku benar-benar mencintai seluruh atribut yang melekat pada dirinya. Aku mencintai seluruh eksistensinya.

Kupikir, bukan salahku jika aku seketika mencintainya, karena kemunculannya pertama kali bertepatan dengan diriku yang sedang berada pada titik terendah hidup, dimana satu-satunya keyakinanku bahwa kebahagiaan hanya dapat dimiliki mayat kaku tak bernyawa. Karena bagiku kematian juga berarti tidak lagi melekatnya perasaan pada tubuh.

Hingga saat ini, sekelebat ingatan tentang pertemuan singkat dengannya itu selalu merasuki setiap kali aku melihat dirinya di laman media-sosial milikku.
Aku dapat menelusuri jejak kenangan dengannya, ke saat-saat aku menatapnya tersenyum lepas, tanpa dipaksakan—simpul senyumnya yang diterangi lampu tamaran malam hari, atau segala celotehnya di bar terbuka kala itu, lalu sebuah pohon di samping tempat duduk kami tak ayal menjadi saksi bisu atas kebahagiaanku yang efemeral.

Ah iya, aku juga ingat wangi parfum yang masih menempel di pakaian kerjanya kala itu, aku ingat karena, entah kenapa, aku selalu suka aroma parfum yang sudah bercampur, lekang oleh panas dan keringat—wanginya menjadi lebih berkarakter ketimbang harum artifisial yang polos dan menyengat.

Aku juga ingat ketika ia mulai menunjukkan kegelisahannya, ia sesekali tersenyum tetapi tidak lagi lepas, lalu sesekali memejamkan mata. Aku sempat menanyakan hal yang menganggunya, namun ia hanya terdiam, matanya pasif, dan menggelengkan kepala, tanpa kata-kata. Aku menghormati kegelisahannya, bila ia percaya padaku, pasti ia akan bercerita. Bila ingin bantuanku, ia pasti memintanya. Aku sadar ia tak butuh keduanya, terlebih dariku.

Gesturnya malam itu dapat kumaknai dengan jelas, apa adanya. Tidak perlu ia menjelaskan panjang lebar padaku.

Belakang aku menyadari kehadiran dan keseriusanku seakan tak berarti baginya, ternyata ia tidak begitu perduli dengan hasil yang timbul setelah pertemuan itu. Jamuan dan hadirnya malam itu, ternyata hanya cara untuknya mengakhiri ketidak-tahuan diriku yang terus memaksakan ego kepadanya, dan sepertinya; saat ini ia mulai kehabisan cara untuk mengatasi gangguan yang terus membebani dirinya, yang berasal dari diriku.

Akan tetapi, berakhir ataupun tidak, sesakit apapun realitas yang diberikannya; ia telah menjadi seseorang yang tidak mungkin mudah untuk kulupakan. Dan meskipun ia tetap tak menghirau, akan tetapi sekarang ini aku tidak lagi malu mengaku kepada dirinya tentang kenyataan bahwa beberapa hari yang lalu aku masih mencintainya sepenuh hatiku, toh ini adalah hal yang etis.

Meskipun sekarang aku memutuskan untuk mengambil langkah mundur dari kehidupannya, bukan karena menghilangnya perasaanku, juga bukan karena menyesali perjuanganku yang berakhir percuma, bagiku, mencintai bukan tentang menjadi kesatria pongah yang selalu ingin menang, mencintai ialah menjadi pecundang pincang yang tegar, seorang yang memahami—tahu kapan harus mendekap dan kapan harus merelakan. Lalu, untuk kesekian kalinya, lagi, lagi, aku harus merelakan seorang yang ingin kubahagiakan.

Sekali lagi, aku menyelesaikan lembar akhir sebuah cerita dengan tinta pesakitan, untuk lalu memulai kisah lainn yang bahagia, atau lebih banyak air mata.

Pada akhirnya, untuk saat ini; biarkan aku bersedih, meronta dan berteriak—mengepakkan sayapku untuk terakhir kalinya, untuk lalu jatuh ke lubang abisal tak berdasar.

Aku binasa.


ME

Bankbenkz

Bankbenkz

Know nothing

Personal Links

Verified Services

View Full Profile →

Archives

July 2019
M T W T F S S
« May    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Twitter

Follow KNOW NOTHING on WordPress.com

Blog Stats

  • 5,289 hits
Advertisements