Archive for the 'blog' Category

Tentang Sebuah Akhir Di Lembar Terakhir

11670

Entah mengapa, hal-hal yang dahulu menurutku biasa-biasa saja kini berubah berat dan menyesakkan dada. Tak yakin, tapi mungkin semua ini erat kaitannya dengan mengecilnya kacamataku memandang hidup, sebuah sudut pandang yang menyempit hingga membuatku tidak lagi mampu melihat keseluruhan cerita yang sedang kujalani. Aku merasa kehilangan kapasitas untuk memahami hal-hal yang esensial, aku menyadari segala sesuatunya tampak tak beraturan, namun tetap saja aku tidak memiliki kecakapan yang cukup untuk menyusun kepingan-kepingan itu menjadi satu skema utuh sehingga dapat membantuku memetakan solusi dan langkah-langkah yang akan kuambil selanjutnya.
Dalam hal ini, aku menyalahkan lingkungan tempatku tinggal dan tentu diriku sendiri secara pribadi.

Namun, apa yang tersebut di atas tidak sepenuhnya kuyakini, karena apa yang sekarang kujalani adalah tentang sebuah perasaan yang terluka, sentimen berubah kecewa, dan jiwa yang jemu. Sesuatu yang menurutku tidak selalu dapat dirasionalkan. Ialah sesuatu yang bergerak tanpa pernah kita sadari, lantas menjadi musuh bagi rasionlitas manusia. Ialah hasrat yang hadir dari tabula rasa sepi dan terasing, meski tak mandiri, akan tetapi ia selalu menemukan jalannya; menghendaki kebebasannya sendiri.

Seperti apa yang kualami sejak beberapa bulan ini, bermula saat aku bertemu dengan seorang teman wanita yang belakang mencuri fantasi dari harapanku (sekarang aku menyadari semua itu hanya bayang semu dalam menafsirkan egoku), ia mampu membuatku percaya bahwa ternyata kebahagiaan masih tersisa untukku, meyakinkanku bahwa kebahagiaan bisa hadir dalam bentuk melodi-melodi tak terduga, sebuah dentuman penghentak untuk hidupku yang monoton.
Aku tahu, aku bersamanya tidak lama, memang; namun dirinya berhasil membuatku merasakan kebahagiaan itu, penting ataupun tidak baginya, yang jelas dalam waktu sesingkat itu aku benar-benar mencintai seluruh atribut yang melekat pada dirinya. Aku mencintai seluruh eksistensinya.

Kupikir, bukan salahku jika aku seketika mencintainya, karena kemunculannya pertama kali bertepatan dengan diriku yang sedang berada pada titik terendah hidup, dimana satu-satunya keyakinanku bahwa kebahagiaan hanya dapat dimiliki mayat kaku tak bernyawa. Karena bagiku kematian juga berarti tidak lagi melekatnya perasaan pada tubuh.

Hingga saat ini, sekelebat ingatan tentang pertemuan singkat dengannya itu selalu merasuki setiap kali aku melihat dirinya di laman media-sosial milikku.
Aku dapat menelusuri jejak kenangan dengannya, ke saat-saat aku menatapnya tersenyum lepas, tanpa dipaksakan—simpul senyumnya yang diterangi lampu tamaran malam hari, atau segala celotehnya di bar terbuka kala itu, lalu sebuah pohon di samping tempat duduk kami tak ayal menjadi saksi bisu atas kebahagiaanku yang efemeral.

Ah iya, aku juga ingat wangi parfum yang masih menempel di pakaian kerjanya kala itu, aku ingat karena, entah kenapa, aku selalu suka aroma parfum yang sudah bercampur, lekang oleh panas dan keringat—wanginya menjadi lebih berkarakter ketimbang harum artifisial yang polos dan menyengat.

Aku juga ingat ketika ia mulai menunjukkan kegelisahannya, ia sesekali tersenyum tetapi tidak lagi lepas, lalu sesekali memejamkan mata. Aku sempat menanyakan hal yang menganggunya, namun ia hanya terdiam, matanya pasif, dan menggelengkan kepala, tanpa kata-kata. Aku menghormati kegelisahannya, bila ia percaya padaku, pasti ia akan bercerita. Bila ingin bantuanku, ia pasti memintanya. Aku sadar ia tak butuh keduanya, terlebih dariku.

Gesturnya malam itu dapat kumaknai dengan jelas, apa adanya. Tidak perlu ia menjelaskan panjang lebar padaku.

Belakang aku menyadari kehadiran dan keseriusanku seakan tak berarti baginya, ternyata ia tidak begitu perduli dengan hasil yang timbul setelah pertemuan itu. Jamuan dan hadirnya malam itu, ternyata hanya cara untuknya mengakhiri ketidak-tahuan diriku yang terus memaksakan ego kepadanya, dan sepertinya; saat ini ia mulai kehabisan cara untuk mengatasi gangguan yang terus membebani dirinya, yang berasal dari diriku.

Akan tetapi, berakhir ataupun tidak, sesakit apapun realitas yang diberikannya; ia telah menjadi seseorang yang tidak mungkin mudah untuk kulupakan. Dan meskipun ia tetap tak menghirau, akan tetapi sekarang ini aku tidak lagi malu mengaku kepada dirinya tentang kenyataan bahwa beberapa hari yang lalu aku masih mencintainya sepenuh hatiku, toh ini adalah hal yang etis.

Meskipun sekarang aku memutuskan untuk mengambil langkah mundur dari kehidupannya, bukan karena menghilangnya perasaanku, juga bukan karena menyesali perjuanganku yang berakhir percuma, bagiku, mencintai bukan tentang menjadi kesatria pongah yang selalu ingin menang, mencintai ialah menjadi pecundang pincang yang tegar, seorang yang memahami—tahu kapan harus mendekap dan kapan harus merelakan. Lalu, untuk kesekian kalinya, lagi, lagi, aku harus merelakan seorang yang ingin kubahagiakan.

Sekali lagi, aku menyelesaikan lembar akhir sebuah cerita dengan tinta pesakitan, untuk lalu memulai kisah lainn yang bahagia, atau lebih banyak air mata.

Pada akhirnya, untuk saat ini; biarkan aku bersedih, meronta dan berteriak—mengepakkan sayapku untuk terakhir kalinya, untuk lalu jatuh ke lubang abisal tak berdasar.

Aku binasa.

Advertisements

Tentang Diriku, Tentang Semua Muara

Mengapa dalam setiap hubungan yang kujalani, seringnya akulah yang selalu terlebih dahulu mengakhiri?
apa aku yang tak menyadari jika aku terlampau pongah tak tau diri?
lantas, apakah mereka yang kutinggal pergi lah yang selalu tersakiti?
kenapa tatapan-tatapan sinis itu hanya tertuju pada tempat aku berdiri?
mengapa cibiran-cibiran itu selalu datang menghampiri?
bagaimana jika aku mengajukan sudut pandang dari kaca mataku sendiri?
masihkah aku akan dicaci?

untuk itu,
bolehkah aku bercerita alasan apa, bagaimana, dan kenapa kulakukan itu semua?
bolehkan aku uraikan keseluruhan cerita pertimbangan dan konsekuensi yang ada?
bolehkah aku menyajikan realitas seutuhnya? Sesungguhnya?

bagaimana jika kenyatannya dirinya, merekalah yang selalu ….

ah, tak mungkin.
tak mungkin, kan?

tak mungkin seorangpun ingin mendengar, apalagi percaya, alih-alih tuk mengerti.

aku tahu, pada akhirnya, apapun yang kukatakan, bagaimanapun pembelaanku, akulah yang seharusnya salah, memang akulah yang layak dihakimi.

Selalu,
bukan siapapun,
selalu tentangku.

Dariku lah lahir kehancuran.

Tentang Perpisahan Dari Pertemuan Yang Tidak Pernah Ada

IMG_20180720_160051

Perjumpaan yang juga perpisahan

Untuk engkau yang pernah meluangkan sedikit waktu untukku,
engkau yang singgah sesaat dalam hidupku,
engkau yang aku sangka harap yang kembali, engkau yang aku pikir mampu menjadi sosok dirinya yang telah terrenggut Tuhan,
engkau yang kuduga mampu memberi warna pada melodi-melodi kemonotonan hidupku,
engkau yang membuatku percaya jika akhirnya aku masih memiliki setitik kebahagian,
engkau yang membuatku berkata “untuk kali ini, aku ingin bersungguh-sungguh”,
ternyata hanya ilusi-ilusi yang tercipta dari keputus-asaan pada kehidupanku sendiri.

Namun, jelas itu bukan salahmu. Akulah yang terlampau tak tahu diri, akulah yang terlampau lamban dalam berpikir hingga tak mengerti sesuatupun. Akulah yang seharusnya meminta maaf.
Aku meminta maaf atas semua yang pernah kurasakan dan kupikirkan.

Akhirnya, bagaimanapun, aku dengan tulus berterimakasih padamu karena telah segera menyadarkan diriku yang tenggelam dalam angan-angan ilusif itu.

Untuk terakhir kalinya, setelah aku terlena dengan bayang-bayang kebahagiaan yang tak pernah ada, sekali lagi aku berterimakasih kau telah menjadi pengingat tentang siapa diriku, tentang dimana seharusnya aku berada, pada apa seharusnya aku berdiri, seberapa jauh aku melenceng dari realitas kehidupanku.

Setelah ini, kurasa kita tidak akan lagi bisa berjumpa, oleh sebab itu, dengan tulus aku doakan kebaikanmu, agar kau segera mendapati mimpi-mimpimu yang tertunda, agar kau tetap mendapati kebahagiaan yang kau bayangkan, mendapat seorang pria yang benar-benar bisa diandalkan. Ah iya, terlalu banyak doaku untukmu, untuk itu biarlah yang tak tertulis di sini menjadi rahasia dalam sujud-sujud malamku. Maaf pernah mengganggu kehidupanmu.

Atas semua yang terjadi, dalam satu kondisi, terakhir kalinya aku meminta maaf dan juga berterimakasih.

Selamat tinggal untukkmu yang tak pernah hadir.

Tentangnya, Tentang Pertemuan Yang Menyisakan Banyak Pertanyaan

penyawangan

Tidak hanya cinta pada pandangan (pertemuan) pertama yang menakjubkan, pun pada pertemuan ke-dua bisa menjadi perjumpaan luar biasa, sebuah perjumpaan magis yang mengalun pada frekuensi presisten yang seirama.

Seperti pertemuanku dengan seseorang yang kemudian menyisakan banyak pertanyaan yang memenuhi dinding-dinding sinisku, seperti; apa dirinya memang telah semenarik itu sejak pertama aku bertemu dengannya? Apa aku terlampau bodoh hingga sedikitpun tak menyadari betapa istimewa dirinya? Atau seberapa angkuh diriku hingga mengabaikan sesuatu yang semesta hadirkan di hadapanku?
Lantas, apa yang telah kukerjakan—kupikirkan setelah mengenalnya selama ini?

Aku tahu coretan ini tidak akan tersampaikan padanya. Tetapi, bagaimanapun juga, aku tetap perlu menyampaikan permintaan maafku padanya karena kelancanganku yang tiba-tiba, seketika jatuh cinta pada dirinya.

Aku tahu baginya aku hanya teman berbagi cerita, berbagi tawa. Aku benar-benar menyadari bahwa aku tidak memiliki tempat khusus di kehidupannya.
Untuk itu, sekali lagi kutitipkan permintaan maafku pada angin malam ini, untuk lalu ia kirimkan ke dalam mimpi tidurnya.

Aku tahu ia tak menyadari betapa berartinya bagiku pertemuan malam itu. Sebuah pertemuan yang membawa kembali sinar harap ke sudut relung jiwaku yang telah lama tak berpendar.
Seperti apa yang sering aku katakan; semesta selalu hadir dan bekerja dengan rencana-rencananya yang tak terduga. Setelah sekian lama aku terjebak pada kejatuhan-kejatuhan yang menyesakkan dada, dimana aku tidak lagi mampu merasakan cinta dan kebencian, di saat itu kehadirannya menghujani hati yang lama kering, menghadirkan rindu yang lama tidak kurasakan.
Ia adalah oase di padang tandus.

Oleh karena pertemuan dengannya itu, aku merasa kehidupanku kembali layak untuk kuperjuangkan lagi. Mungkin, seperti sebelumnya, mungkin saja apa yang kurasakan ini hanyalah bayang semu yang tercipta dari fantasiku sendiri, tetapi seilusif apapun yang kurasakan, bagiku tidak lagi penting, yang terpenting saat ini aku akan terus menjaga perasasanku padanya. Setidaknya untuk merasakan kembali rasanya mencintai seseorang dengan tulus.

Yang jelas, perasaanku kali ini bertumbuh mekar tanpa pernah aku sirami. Perasaan yang hadir begitu saja setelah bertemu—mengenalnya lebih dalam dari yang sebelumnya.

Namun, perlu kuingatkan untuk diriku sendiri, meskipun sulit dalam realitasnya, tetapi bagiku mencintai bukanlah alat politik, ia adalah ketulusan, pengorbanan, sebuah ketetapan hati yang tak tergoyahkan oleh badai sekitarnya.
Tidak perduli baik dan buruk atau pergi dan ditinggalkan yang kudapati, aku hanya ingin rasa ini abadi.

Karenanya, apapun hasilnya nanti aku percaya bahwa cinta memiliki jalannya sendiri—bekerja dengan mekanisme yang sulit untuk dipahami, terlebih oleh pecundang seperti diriku.

Untuk itu, jika ia pergi dan tak kembali, aku berharap ia memberi sedikit waktu untukku dapat melukis segala tentang dirinya dalam ingatanku. Sedikit waktu untuk bersama dirinya, sedikit waktu, sedikit lagi untuk aku dapat mencintainya dengan segenap daya eksistensiku, sedikit lagi.

Sedikit lagi bersamanya.


ME

Bankbenkz

Bankbenkz

Know nothing

Personal Links

Verified Services

View Full Profile →

Archives

October 2018
M T W T F S S
« Aug    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Follow KNOW NOTHING on WordPress.com

Blog Stats

  • 4,856 hits
Advertisements