Archive for the 'blog' Category

Remaja, Merangkai Asa Pada Kecemburuan Buta (Bag. I)

maya1

Bermula dari perkenalan yang sederhana, lambat laun, aku mendapati diriku terkatung di atas jurang terjal, di antara tebing cinta dan kebingungan yang curam. Hingga saat aku menulis untuk mengisi kegelisahan abisalku ini, pikiranku masih berputar dan melayang, di dalamnya masih tersisa serpihan-serpihan tentang pertemuan singkat dengan dirinya, dengan intensitas yang pekat dan tajam.
Selalu, rasa penyesalan memang selalu berakhir dengan kebuntuan.

Mungkin ada yang salah dengan diriku; kesalahanku dalam menafsirkan sebuah rasa, salah dalam mengartikan perjumpaan yang teramat singkat itu?

Betapa muram. Sejak aku tahu ia memiliki seorang yang dicintainya, aku menyadari bahwa aku dan dirinya hanya akan menjadi kepingan-kepingan yang tercerai berai tak pernah utuh menjadi satu. Naif. Aku tau uluran tangan sang dewi tidak akan pernah datang. Tetapi lumrah bagi manusia, pun aku masih saja mengharapkan uluran tangan darinya agar terbebas dari kejatuhan kolosal.

Mungkin benar jika hati manusia tacipta dari kertas belaka, ia mudah terbakar dan binasa, hanya karena sepercik emosi, ia dapat tereduksi ke level binatang. Seperti diriku. Kesepianku, keterpurukanku, kebinasaanku sendiri, adalah konsekuensi dari jiwa yang tersulut oleh api asmara.

Aku juga menyadari kegelisahan ini sebagian besar disebabkan oleh diriku sendiri, aku yang memulai menggores tinta pada lembar miliknya, namun aku pula yang tidak mampu untuk melihat keseluruhan cerita dalam keparsialannya.
Aku selalu berusaha melihat segala sesuatunya dari kacamata obyektif, melihat sudut-sudut bukan dari ego personalku saja, melainkan secara keseluruhan: dampak, reaksi dari setiap aksi yang membentuk suatu konstelasi yang bisa dilihat dan dimengerti secara keseluruhan. Obyektif. Tapi, apakah itu sepenuhnya salah? Jika memang benar begitu, lantas apakah cinta masih patut untuk diperjuangkan?

Setelah menyadari kondisi dan reaksi yang mungkin akan terjadi, apa yang selanjutnya kulakukan? Apakah sebaiknya aku kembali memilih untuk terus bergelayutan di tepian jurang terjal itu? Apa selanjutnya?
Betapa pengecut diriku. Mencinta tak mampu, menderita pun tak mau.

Entah kenapa aku selalu terjebak dalam kebingungan yang mendalam ketika dihadapkan pada obyek asmara semacam ini. Aku tidak mampu membebaskan obyek asmara dari apa yang mengikatnya.
Semua hal yang mengikatku pada dirinya adalah tentang keindahan yang terus hadir dalam keheningan. Keindahannya itu terletak pada karakteristik, pada gestur di pertemuan pertama—begitu memikatku. Ia menggores cinta pada dinding-dinding khayalku.

Sekali lagi aku mendapati diriku merindu, kerinduan atas sesuatu yang mustahil; kerinduan untuk berada di sampingnya, menghirup aroma tubuhnya, merasakan sentuhan dari jarinya yang lentik dan tentu kerinduan untuk mendengar setiap kata yang keluar dari bibirnya.

Ah sialan, sekali lagi aku memantik api namun tak siap terbakar. Betapa egoisnya aku memaksakan kehendak untuk masuk dalam kehidupannya yang sedari awal aku tahu bahwa dirinya memiliki yang ia cinta.

Aku sangat menyadari, hubunganku dengan dirinya ini tidak mungkin akan berlanjut ke tahap selanjutnya, jika aku teruskan ia hanya akan kehilangan waktunya dan mungkin menjadi penyesalan yang teramat bagi dirinya.
Maka dari itu; perjalanan singkat ini hanya akan menjadi sebuah cerminan dari betapa tidak tahu malunya aku.
Namun, apapun hasil yang kudapati, aku tidak pernah menyesal berpikir pernah mencintai dirinya. Untuk itu, sesingkat apapun perjalanan dengan dirinya, ia selalu memiliki tempat dalam kehidupanku. Manyimpannya rapi bersama dengan catatan-catatan kegagalan cintaku lainnya pada rak kehidupanku.

Tetapi, sesadar apapun aku, seobyektif apapun diriku dalam keputusanku kali ini, tetap saja aku tidak bisa menyembunyikan seberapa besar rasa iri yang kusimpan terhadap lelakinya saat ini.

Tidak akan pernah mampu aku sembunyikan asa ini.

Advertisements

Tentang Sebuah Akhir Di Lembar Terakhir

11759

Entah mengapa, hal-hal yang dahulu menurutku biasa-biasa saja kini berubah berat dan menyesakkan dada. Tak yakin, tapi mungkin semua ini erat kaitannya dengan mengecilnya kacamataku memandang hidup, sebuah sudut pandang yang menyempit hingga membuatku tidak lagi mampu melihat keseluruhan cerita yang sedang kujalani. Aku merasa kehilangan kapasitas untuk memahami hal-hal yang esensial, aku menyadari segala sesuatunya tampak tak beraturan, namun tetap saja aku tidak memiliki kecakapan yang cukup untuk menyusun kepingan-kepingan itu menjadi satu skema utuh sehingga dapat membantuku memetakan solusi dan langkah-langkah yang akan kuambil selanjutnya.
Dalam hal ini, aku menyalahkan lingkungan tempatku tinggal dan tentu diriku sendiri secara pribadi.

Namun, apa yang tersebut di atas tidak sepenuhnya kuyakini, karena apa yang sekarang kujalani adalah tentang sebuah perasaan yang terluka, sentimen berubah kecewa, dan jiwa yang jemu. Sesuatu yang menurutku tidak selalu dapat dirasionalkan. Ialah sesuatu yang bergerak tanpa pernah kita sadari, lantas menjadi musuh bagi rasionlitas manusia. Ialah hasrat yang hadir dari tabula rasa sepi dan terasing, meski tak mandiri, akan tetapi ia selalu menemukan jalannya; menghendaki kebebasannya sendiri.

Seperti apa yang kualami sejak beberapa bulan ini, bermula saat aku bertemu dengan seorang teman wanita yang belakang mencuri fantasi dari harapanku (sekarang aku menyadari semua itu hanya bayang semu dalam menafsirkan egoku), ia mampu membuatku percaya bahwa ternyata kebahagiaan masih tersisa untukku, meyakinkanku bahwa kebahagiaan bisa hadir dalam bentuk melodi-melodi tak terduga, sebuah dentuman penghentak untuk hidupku yang monoton.
Aku tahu, aku bersamanya tidak lama, memang; namun dirinya berhasil membuatku merasakan kebahagiaan itu, penting ataupun tidak baginya, yang jelas dalam waktu sesingkat itu aku benar-benar mencintai seluruh atribut yang melekat pada dirinya. Aku mencintai seluruh eksistensinya.

Kupikir, bukan salahku jika aku seketika mencintainya, karena kemunculannya pertama kali bertepatan dengan diriku yang sedang berada pada titik terendah hidup, dimana satu-satunya keyakinanku bahwa kebahagiaan hanya dapat dimiliki mayat kaku tak bernyawa. Karena bagiku kematian juga berarti tidak lagi melekatnya perasaan pada tubuh.

Hingga saat ini, sekelebat ingatan tentang pertemuan singkat dengannya itu selalu merasuki setiap kali aku melihat dirinya di laman media-sosial milikku.
Aku dapat menelusuri jejak kenangan dengannya, ke saat-saat aku menatapnya tersenyum lepas, tanpa dipaksakan—simpul senyumnya yang diterangi lampu tamaran malam hari, atau segala celotehnya di bar terbuka kala itu, lalu sebuah pohon di samping tempat duduk kami tak ayal menjadi saksi bisu atas kebahagiaanku yang efemeral.

Ah iya, aku juga ingat wangi parfum yang masih menempel di pakaian kerjanya kala itu, aku ingat karena, entah kenapa, aku selalu suka aroma parfum yang sudah bercampur, lekang oleh panas dan keringat—wanginya menjadi lebih berkarakter ketimbang harum artifisial yang polos dan menyengat.

Aku juga ingat ketika ia mulai menunjukkan kegelisahannya, ia sesekali tersenyum tetapi tidak lagi lepas, lalu sesekali memejamkan mata. Aku sempat menanyakan hal yang menganggunya, namun ia hanya terdiam, matanya pasif, dan menggelengkan kepala, tanpa kata-kata. Aku menghormati kegelisahannya, bila ia percaya padaku, pasti ia akan bercerita. Bila ingin bantuanku, ia pasti memintanya. Aku sadar ia tak butuh keduanya, terlebih dariku.

Gesturnya malam itu dapat kumaknai dengan jelas, apa adanya. Tidak perlu ia menjelaskan panjang lebar padaku.

Belakang aku menyadari kehadiran dan keseriusanku seakan tak berarti baginya, ternyata ia tidak begitu perduli dengan hasil yang timbul setelah pertemuan itu. Jamuan dan hadirnya malam itu, ternyata hanya cara untuknya mengakhiri ketidak-tahuan diriku yang terus memaksakan ego kepadanya, dan sepertinya; saat ini ia mulai kehabisan cara untuk mengatasi gangguan yang terus membebani dirinya, yang berasal dari diriku.

Akan tetapi, berakhir ataupun tidak, sesakit apapun realitas yang diberikannya; ia telah menjadi seseorang yang tidak mungkin mudah untuk kulupakan. Dan meskipun ia tetap tak menghirau, akan tetapi sekarang ini aku tidak lagi malu mengaku kepada dirinya tentang kenyataan bahwa beberapa hari yang lalu aku masih mencintainya sepenuh hatiku, toh ini adalah hal yang etis.

Meskipun sekarang aku memutuskan untuk mengambil langkah mundur dari kehidupannya, bukan karena menghilangnya perasaanku, juga bukan karena menyesali perjuanganku yang berakhir percuma, bagiku, mencintai bukan tentang menjadi kesatria pongah yang selalu ingin menang, mencintai ialah menjadi pecundang pincang yang tegar, seorang yang memahami—tahu kapan harus mendekap dan kapan harus merelakan. Lalu, untuk kesekian kalinya, lagi, lagi, aku harus merelakan seorang yang ingin kubahagiakan.

Sekali lagi, aku menyelesaikan lembar akhir sebuah cerita dengan tinta pesakitan, untuk lalu memulai kisah lainn yang bahagia, atau lebih banyak air mata.

Pada akhirnya, untuk saat ini; biarkan aku bersedih, meronta dan berteriak—mengepakkan sayapku untuk terakhir kalinya, untuk lalu jatuh ke lubang abisal tak berdasar.

Aku binasa.

Tentang Diriku, Tentang Semua Muara

Mengapa dalam setiap hubungan yang kujalani, seringnya akulah yang selalu terlebih dahulu mengakhiri?
apa aku yang tak menyadari jika aku terlampau pongah tak tau diri?
lantas, apakah mereka yang kutinggal pergi lah yang selalu tersakiti?
kenapa tatapan-tatapan sinis itu hanya tertuju pada tempat aku berdiri?
mengapa cibiran-cibiran itu selalu datang menghampiri?
bagaimana jika aku mengajukan sudut pandang dari kaca mataku sendiri?
masihkah aku akan dicaci?

untuk itu,
bolehkah aku bercerita alasan apa, bagaimana, dan kenapa kulakukan itu semua?
bolehkan aku uraikan keseluruhan cerita pertimbangan dan konsekuensi yang ada?
bolehkah aku menyajikan realitas seutuhnya? Sesungguhnya?

bagaimana jika kenyatannya dirinya, merekalah yang selalu ….

ah, tak mungkin.
tak mungkin, kan?

tak mungkin seorangpun ingin mendengar, apalagi percaya, alih-alih tuk mengerti.

aku tahu, pada akhirnya, apapun yang kukatakan, bagaimanapun pembelaanku, akulah yang seharusnya salah, memang akulah yang layak dihakimi.

Selalu,
bukan siapapun,
selalu tentangku.

Dariku lah lahir kehancuran.

Tentangnya, Tentang Pertemuan Yang Menyisakan Banyak Pertanyaan

penyawangan

Tidak hanya cinta pada pandangan (pertemuan) pertama yang menakjubkan, pun pada pertemuan ke-dua bisa menjadi perjumpaan luar biasa, sebuah perjumpaan magis yang mengalun pada frekuensi presisten yang seirama.

Seperti pertemuanku dengan seseorang yang kemudian menyisakan banyak pertanyaan yang memenuhi dinding-dinding sinisku, seperti; apa dirinya memang telah semenarik itu sejak pertama aku bertemu dengannya? Apa aku terlampau bodoh hingga sedikitpun tak menyadari betapa istimewa dirinya? Atau seberapa angkuh diriku hingga mengabaikan sesuatu yang semesta hadirkan di hadapanku?
Lantas, apa yang telah kukerjakan—kupikirkan setelah mengenalnya selama ini?

Aku tahu coretan ini tidak akan tersampaikan padanya. Tetapi, bagaimanapun juga, aku tetap perlu menyampaikan permintaan maafku padanya karena kelancanganku yang tiba-tiba, seketika jatuh cinta pada dirinya.

Aku tahu baginya aku hanya teman berbagi cerita, berbagi tawa. Aku benar-benar menyadari bahwa aku tidak memiliki tempat khusus di kehidupannya.
Untuk itu, sekali lagi kutitipkan permintaan maafku pada angin malam ini, untuk lalu ia kirimkan ke dalam mimpi tidurnya.

Aku tahu ia tak menyadari betapa berartinya bagiku pertemuan malam itu. Sebuah pertemuan yang membawa kembali sinar harap ke sudut relung jiwaku yang telah lama tak berpendar.
Seperti apa yang sering aku katakan; semesta selalu hadir dan bekerja dengan rencana-rencananya yang tak terduga. Setelah sekian lama aku terjebak pada kejatuhan-kejatuhan yang menyesakkan dada, dimana aku tidak lagi mampu merasakan cinta dan kebencian, di saat itu kehadirannya menghujani hati yang lama kering, menghadirkan rindu yang lama tidak kurasakan.
Ia adalah oase di padang tandus.

Oleh karena pertemuan dengannya itu, aku merasa kehidupanku kembali layak untuk kuperjuangkan lagi. Mungkin, seperti sebelumnya, mungkin saja apa yang kurasakan ini hanyalah bayang semu yang tercipta dari fantasiku sendiri, tetapi seilusif apapun yang kurasakan, bagiku tidak lagi penting, yang terpenting saat ini aku akan terus menjaga perasasanku padanya. Setidaknya untuk merasakan kembali rasanya mencintai seseorang dengan tulus.

Yang jelas, perasaanku kali ini bertumbuh mekar tanpa pernah aku sirami. Perasaan yang hadir begitu saja setelah bertemu—mengenalnya lebih dalam dari yang sebelumnya.

Namun, perlu kuingatkan untuk diriku sendiri, meskipun sulit dalam realitasnya, tetapi bagiku mencintai bukanlah alat politik, ia adalah ketulusan, pengorbanan, sebuah ketetapan hati yang tak tergoyahkan oleh badai sekitarnya.
Tidak perduli baik dan buruk atau pergi dan ditinggalkan yang kudapati, aku hanya ingin rasa ini abadi.

Karenanya, apapun hasilnya nanti aku percaya bahwa cinta memiliki jalannya sendiri—bekerja dengan mekanisme yang sulit untuk dipahami, terlebih oleh pecundang seperti diriku.

Untuk itu, jika ia pergi dan tak kembali, aku berharap ia memberi sedikit waktu untukku dapat melukis segala tentang dirinya dalam ingatanku. Sedikit waktu untuk bersama dirinya, sedikit waktu, sedikit lagi untuk aku dapat mencintainya dengan segenap daya eksistensiku, sedikit lagi.

Sedikit lagi bersamanya.


ME

Bankbenkz

Bankbenkz

Know nothing

Personal Links

Verified Services

View Full Profile →

Archives

January 2019
M T W T F S S
« Dec    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Twitter

Follow KNOW NOTHING on WordPress.com

Blog Stats

  • 4,995 hits
Advertisements