Posts Tagged 'surat'

Tentang Perpisahan Dari Pertemuan Yang Tidak Pernah Ada

IMG_20180720_160051

Perjumpaan yang juga perpisahan

Untuk engkau yang pernah meluangkan sedikit waktu untukku,
engkau yang singgah sesaat dalam hidupku,
engkau yang aku sangka harap yang kembali, engkau yang aku pikir mampu menjadi sosok dirinya yang telah terrenggut Tuhan,
engkau yang kuduga mampu memberi warna pada melodi-melodi kemonotonan hidupku,
engkau yang membuatku percaya jika akhirnya aku masih memiliki setitik kebahagian,
engkau yang membuatku berkata “untuk kali ini, aku ingin bersungguh-sungguh”,
ternyata hanya ilusi-ilusi yang tercipta dari keputus-asaan pada kehidupanku sendiri.

Namun, jelas itu bukan salahmu. Akulah yang terlampau tak tahu diri, akulah yang terlampau lamban dalam berpikir hingga tak mengerti sesuatupun. Akulah yang seharusnya meminta maaf.
Aku meminta maaf atas semua yang pernah kurasakan dan kupikirkan.

Akhirnya, bagaimanapun, aku dengan tulus berterimakasih padamu karena telah segera menyadarkan diriku yang tenggelam dalam angan-angan ilusif itu.

Untuk terakhir kalinya, setelah aku terlena dengan bayang-bayang kebahagiaan yang tak pernah ada, sekali lagi aku berterimakasih kau telah menjadi pengingat tentang siapa diriku, tentang dimana seharusnya aku berada, pada apa seharusnya aku berdiri, seberapa jauh aku melenceng dari realitas kehidupanku.

Setelah ini, kurasa kita tidak akan lagi bisa berjumpa, oleh sebab itu, dengan tulus aku doakan kebaikanmu, agar kau segera mendapati mimpi-mimpimu yang tertunda, agar kau tetap mendapati kebahagiaan yang kau bayangkan, mendapat seorang pria yang benar-benar bisa diandalkan. Ah iya, terlalu banyak doaku untukmu, untuk itu biarlah yang tak tertulis di sini menjadi rahasia dalam sujud-sujud malamku. Maaf pernah mengganggu kehidupanmu.

Atas semua yang terjadi, dalam satu kondisi, terakhir kalinya aku meminta maaf dan juga berterimakasih.

Selamat tinggal untukkmu yang tak pernah hadir.

Advertisements

Tentangnya, Tentang Pertemuan Yang Menyisakan Banyak Pertanyaan

penyawangan

Tidak hanya cinta pada pandangan (pertemuan) pertama yang menakjubkan, pun pada pertemuan ke-dua bisa menjadi perjumpaan luar biasa, sebuah perjumpaan magis yang mengalun pada frekuensi presisten yang seirama.

Seperti pertemuanku dengan seseorang yang kemudian menyisakan banyak pertanyaan yang memenuhi dinding-dinding sinisku, seperti; apa dirinya memang telah semenarik itu sejak pertama aku bertemu dengannya? Apa aku terlampau bodoh hingga sedikitpun tak menyadari betapa istimewa dirinya? Atau seberapa angkuh diriku hingga mengabaikan sesuatu yang semesta hadirkan di hadapanku?
Lantas, apa yang telah kukerjakan—kupikirkan setelah mengenalnya selama ini?

Aku tahu coretan ini tidak akan tersampaikan padanya. Tetapi, bagaimanapun juga, aku tetap perlu menyampaikan permintaan maafku padanya karena kelancanganku yang tiba-tiba, seketika jatuh cinta pada dirinya.

Aku tahu baginya aku hanya teman berbagi cerita, berbagi tawa. Aku benar-benar menyadari bahwa aku tidak memiliki tempat khusus di kehidupannya.
Untuk itu, sekali lagi kutitipkan permintaan maafku pada angin malam ini, untuk lalu ia kirimkan ke dalam mimpi tidurnya.

Aku tahu ia tak menyadari betapa berartinya bagiku pertemuan malam itu. Sebuah pertemuan yang membawa kembali sinar harap ke sudut relung jiwaku yang telah lama tak berpendar.
Seperti apa yang sering aku katakan; semesta selalu hadir dan bekerja dengan rencana-rencananya yang tak terduga. Setelah sekian lama aku terjebak pada kejatuhan-kejatuhan yang menyesakkan dada, dimana aku tidak lagi mampu merasakan cinta dan kebencian, di saat itu kehadirannya menghujani hati yang lama kering, menghadirkan rindu yang lama tidak kurasakan.
Ia adalah oase di padang tandus.

Oleh karena pertemuan dengannya itu, aku merasa kehidupanku kembali layak untuk kuperjuangkan lagi. Mungkin, seperti sebelumnya, mungkin saja apa yang kurasakan ini hanyalah bayang semu yang tercipta dari fantasiku sendiri, tetapi seilusif apapun yang kurasakan, bagiku tidak lagi penting, yang terpenting saat ini aku akan terus menjaga perasasanku padanya. Setidaknya untuk merasakan kembali rasanya mencintai seseorang dengan tulus.

Yang jelas, perasaanku kali ini bertumbuh mekar tanpa pernah aku sirami. Perasaan yang hadir begitu saja setelah bertemu—mengenalnya lebih dalam dari yang sebelumnya.

Namun, perlu kuingatkan untuk diriku sendiri, meskipun sulit dalam realitasnya, tetapi bagiku mencintai bukanlah alat politik, ia adalah ketulusan, pengorbanan, sebuah ketetapan hati yang tak tergoyahkan oleh badai sekitarnya.
Tidak perduli baik dan buruk atau pergi dan ditinggalkan yang kudapati, aku hanya ingin rasa ini abadi.

Karenanya, apapun hasilnya nanti aku percaya bahwa cinta memiliki jalannya sendiri—bekerja dengan mekanisme yang sulit untuk dipahami, terlebih oleh pecundang seperti diriku.

Untuk itu, jika ia pergi dan tak kembali, aku berharap ia memberi sedikit waktu untukku dapat melukis segala tentang dirinya dalam ingatanku. Sedikit waktu untuk bersama dirinya, sedikit waktu, sedikit lagi untuk aku dapat mencintainya dengan segenap daya eksistensiku, sedikit lagi.

Sedikit lagi bersamanya.

Surat Untuk Matahari Yang Terenggut Tuhan

Selamat datang kembali nona penanam aster, mungkin semalam kau bosan terus-menerus mendengarku mengoceh. Aku terlampau bersemangat.
Ah, kau tentu tahu itu, aku yang masih saja antusias meskipun kau kerap hadir di sepertiga malamku.
Karena hanya kaulah yang selalu setia mendengar ceritaku, tidak perduli yang keluar dari mulutku hanyalah omong kosong dan bualan lainnya. Aku tahu kau bosan, tapi kau masih saja duduk mendengarkan, masih saja menjawab pertanyaan-pertanyaanku yang tak jelas juntrungnya.

Ah iya, ingatkah kau dimalam ketika aku bercerita tentang seorang wanita yang mungkin saja dapat menggantikan sosokmu (untuk kesekian kalinya)? Kau pun selalu tersenyum sukacita. Raut wajahmu yang ceria selalu mengisyaratkan berjuta cerita dan lalu kau pasti akan meyakinkanku jika aku akan baik-baik saja menjalani hubungan tersebut.
Kau selalu saja percaya pada diriku, bahkan ketika aku tidak lagi memiliki kepercayaan pada diriku sendiri.
Dan lalu untuk kesekian kalinya aku akan datang kembali dengan keluhan yang sama, bahwa ternyata lagi-lagi pilihanku salah, dan kau pasti akan berujar “itu semua adalah jalan dari keseluruhan cerita, jalani saja”.

Aku yang hingga kini tak pernah benar-benar mengenal sosokmu, kau yang begitu tangguh, kau yang begitu setia, dan kau yang selalu menjadi matahariku terbenam.
Sampai kapan aku dapat lepas dari bayangmu? pada siapa aku dapat menemukan sosokmu? Sampai kapan aku harus mencari? Apakah ini juga adalah alur dari keseluruhan cerita?

Jika iya, maka aku ingin berhenti dari skema ini, aku terlampau lelah, aku terlanjur tenggelam dalam keselarasan ketidak sempurnaan dirimu, seperti yang sering kau ucapkan
Aku tidak lagi ingin menjadi pemeran dalam pementasan apapun, toh di akhir cerita aku selalu menjadi pecundang yang dipecundangi. Pada akhirnya aku yang selalu kalah dan dikhianati.

Dengan begitu aku dapat mencumbu dirimu setiap saat datangnya sepertiga malam, dengan begitu kau akan abadi dalam pandanganku, pun aku tidak akan lagi pernah terluka oleh tipuan-tipuan dan pengkhianatan di luar sana. Dengan begitu aku tidak lagi perlu lelah mencari sosokmu pada yang lain. Bolehkah?

Tentu kau akan merajut mendengar ideku ini, tentu kau akan kecewa, namun di mana lagi aku dapat menemukan seseorang yang mampu menyusutkan diriku ke ukuran mikrosopis dan berenang pada relung terkecil kolam hatiku?

Setelah Enam tahun kepergianmu, aku tidak yakin kehilanganmu, aku pun tidak yakin orang-orang yang mencintaimu kehilanganmu. Karena kau terlalu baik bagiku, kau terlalu baik bagi setiap orang yang mengenalmu.

Untuk itu, di sepertiga malam aku akan selalu membuka lebar pintu dan jendela kamarku, agar angin leluasa masuk membawa rindu. Memanjatkan do’a untukmu di surge sana.

Titip salamku untuk Tuhan-mu yang pencemburu itu, Tuhan yang merenggut matahariku, yang mengambil lentera kehidupanku.

Salam rindu.

 

Tentang Kehidupan: Penyerahan Diri

Sia-sia menghiasi pipimu dengan air mata dan percuma saja mulutmu melawan tak henti bicara, karena kehidupan ialah panggung dimana segala hal menjadi satu tak terkendali, sebuah keniscayaan untuk dihindari, karena hadirnya ialah kepastian itu sendiri.

Lantas ketika kau coba menaklukkan kehidupan, justru ia lah yang akan menelanmu dalam pusaran keputus-asaan, karena ia tak terlawan, kemaha-kuasaan tak terhingga yang hanya mengisyaratkan satu hal, yaitu penyerahan.
Menggempur yang tak tergempur, mengelak yang tak terelakkan bukan bentuk kekuatan, bukan pula perjuangan, apalagi kecerdasan, itu semua hanya menjelaskan satu hal; kenaifan sebuah ego.

Akan tetapi, sebuah kenisbian untuk benar-benar mengerti kehidupan, bahkan mungkin selama ini kita juga tak pernah menyadari apa yang sedang kita perjuangkan.

Namun, apapun itu, bagiku kehidupan tetaplah humor tragis yang memberi tangis namun juga tawa, bahkan menghadirkan bahagia kemudian mencerabutnya dengan penderitaan.

Akhirnya, satu-satunya hal masuk akal yang dapat dilakukan olehku saat ini adalah berdamai dengan kehidupan, untukku lalu mampu tertawa di atas kegetirannya.

Alih-alih menapikkan kehidupan.


ME

Bankbenkz

Bankbenkz

Know nothing

Personal Links

Verified Services

View Full Profile →

Archives

July 2018
M T W T F S S
« Jun    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Twitter

Follow KNOW NOTHING on WordPress.com

Blog Stats

  • 4,558 hits
Advertisements