Posts Tagged 'surat'

Tentang Kehidupan: Penyerahan Diri

Sia-sia menghiasi pipimu dengan air mata dan percuma saja mulutmu melawan tak henti bicara, karena kehidupan ialah panggung dimana segala hal menjadi satu tak terkendali, sebuah keniscayaan untuk dihindari, karena hadirnya ialah kepastian itu sendiri.

Lantas ketika kau coba menaklukkan kehidupan, justru ia lah yang akan menelanmu dalam pusaran keputus-asaan, karena ia tak terlawan, kemaha-kuasaan tak terhingga yang hanya mengisyaratkan satu hal, yaitu penyerahan.
Menggempur yang tak tergempur, mengelak yang tak terelakkan bukan bentuk kekuatan, bukan pula perjuangan, apalagi kecerdasan, itu semua hanya menjelaskan satu hal; kenaifan sebuah ego.

Akan tetapi, sebuah kenisbian untuk benar-benar mengerti kehidupan, bahkan mungkin selama ini kita juga tak pernah menyadari apa yang sedang kita perjuangkan.

Namun, apapun itu, bagiku kehidupan tetaplah humor tragis yang memberi tangis namun juga tawa, bahkan menghadirkan bahagia kemudian mencerabutnya dengan penderitaan.

Akhirnya, satu-satunya hal masuk akal yang dapat dilakukan olehku saat ini adalah berdamai dengan kehidupan, untukku lalu mampu tertawa di atas kegetirannya.

Alih-alih menapikkan kehidupan.

Tentang Pertemanan (II): Mereka Yang Pergi Dan Tak Kembali

Seringkali aku membayangkan bagaimana rasanya dikelilingi oleh setiap orang yang dulu pernah aku cintai, oleh orang-orang yang juga tulus mencintaiku.

Dimana kenyataannya, kawan-kawanku, orang-orang yang dulu kukenal kian hari makin terasa menjauh dengan alasan mereka masing-masing yang cukup membuat hatiku tergores. Namun selalu saja aku berusaha memakluminya meskipun aku sadar itu hanyalah kebohongan yang kuciptakan untuk menghibur kekhawatiranku sendiri.
Hal yang sia-sia memang, namun tetap saja kulakukan hanya untuk menjaga api harapanku pada kalian, lagipula aku tak sekuat itu untuk berhenti mempercayai kalian, mengubur kenangan yang pernah tercipta.

Mungkin aku yang terlalu naif, berpikir bahwa keadaan masih sama seperti dulu. Aku yang terlalu percaya diri bahwa aku masih menjadi bagian penting dari hidup kalian. Tentu ini semua kesalahanku, ketidak mampuanku dalam memahami pola kehidupan yang terus berputar dan bergerak maju.

Namun untuk saat ini, apapun yang kalian pikirkan, apapun yang kalian rasakan tidak lagi penting dimataku, aku hanya meyakini bahwa kalian yang pernah singgah dalam hidupku adalah juga bagian dari hidupanku. Aku selalu merasa beruntung pernah mengenal kalian.

Aku tidak sedang mengakimi siapapun. Jika memang harus, melupa saja, jangan lagi menoleh kebelakang, hapus semua tentang kita, tentangku. Tetapi izinkan aku untuk tetap mengukir setiap dari kalian dalam dinding-dinding memoriku. Memahat setiap detil kenangan indah yang pernah kalian berikan.

Aku masih dan akan terus mengharapkan kalian.
Kapanpun dan dimanapun kalian datang, pintu ketulusan ini kan selalu terbuka.

Aku rindu…

Meluruskan Yang Tak Mungkin Lurus

Kusadari cakrawalaku terbatas, tapi andai saja sedari awal kau mau mendengar secuil konsep yang hendak kutawarkan mungkin kau tidak kan terburu-buru memutuskan menuduhku pengecut lalu mengandaskan hubungan saat itu.
Mungkin aku sedikit paham mengapa kau ingin melabeli hubungan kala itu, karena kita baru mengenal. Andai saja kau sadar bahwa semua yang kau pikirkan itu adalah tentang keresahan dirimu sendiri. Kau tidak mempercayaiku, dan tentu kau tak percaya dirimu sendiri. Padahal cinta adalah tentang saling percaya. Ia memberi bukan menerima. Maka ketika muncul setitik ketidak kepercayaan, apakah ia masih layak menjadi cinta?

Dan disini, meski kau tak pernah meminta dan tak ingin mendengar, tapi aku kan tetap menulis alasanku enggan melabeli sebuah hubungan dengan istilah “pacaran” adalah karena bagiku hubungan merupakan kensekuensi dari bertemunya dua resonansi rasa berbeda yang mampu selaras, ia tak memiliki bentuk pasti, ia adalah gelombang infinite. Buah kepercayaan.
Bukankah jika kita mencoba melabeli ketidak terbatasan hanya akan mereduksi keuniversalan makna? Dan bukankah pereduksian makna akan membawa sesuatu ke lingkup keterbatasan? Barang tentu sesuatu yang terbatas berarti tidak lagi universal, bebas, dan justru terkungkung, bukan?
Sadarkah kau itu semua bentuk paling vulgar dari ego? 

Lantas, ingatkah engkau ketika nadamu meninggi meminta status yang menurutmu sebagai penentu serius tidaknya sebuah hubungan kau sedang memaksakan egomu? Dan barang tentu kau tahu bahwa pemaksaan ego hanya akan membawamu ke jurang penyesalan?

Nona, tentu kau tahu cinta harusnya membebaskan pelakunya bukan mengikat dalam barisan kata-kata.

Ah, sudahlah. Cakrawalaku memang terbatas.

Tawa takdir

 

 

word1

Selamat pagi nona penanam aster, sebelumnya aku berencana segera memejamkan mata setelah buku yang cukup tebal milik Paulo Coelho ini tidak mampu kukhatamkan sejak malam tadi, namun seperti biasa, tanpa aba-aba pun siluetmu menyeruak diantara halaman tengah buku.

Setan! Buyar harapku, alih-alih mendapat dekapan hangat dari ilusifmu yang spontan ini, aku malah teringat tentang ceritamu beberapa saat yang lalu, tentangmu yang ditinggalkan oleh lelaki yang kau sayang (pikirmu), tapi setelah kupikir lagi, kau memang menyayanginya.

Aku menyadari sepenuhnya bahwa kita adalah ketidak-mungkinan, namun hanya karena ketidak-tahuan-maluanku terhadap planet-planet, semesta, dan terlebih dirimu, aku masih saja mengharapkan kesia-siaan. Tapi aku menyebut semua ini sebagai “pengorbanan“. Aku terdengar bodoh bukan? Begitulah ketetapan dewa-dewi brengsek!.

Sudahlah nona asterku, kau adalah kulminasi penduduk kahyangan yang Dewa jelmakan kedalam bentuk tubuh menawan, aku tak mau kelenjar lakrimalmu mengeluarkan air. Tidak saat kau sedang sedih, tidak juga saat kau kelilipan. Karena yang kukhawatirkan para malaikat akan kerepotan menghiburmu dan kemudian Apolion pun tidak lagi menyiksa.
Percayalah, dibandingkan malaikat dan iblis tersebut akulah yang akan lebih repot menghibur kehampaan nyata yang mengitari horizonku.

Tersenyum saja, tertawa saja. Selamanya. Asterku.
Jangan takut cibiran tetangga tentang menjadi gila, karena tanpa senyum dan tawamu itu, malah aku yang akan kau dapati menjadi gila.

Tunggu, buang jauh-jauh pradugamu, jangan dulu menuduh sesukamu seperti saat kau memutuskan melenyapkanku. Aku tidak sedang menggodamu untuk supaya kembali menjadi kekasihku, jadi istriku, terlebih ibu dari anak-anakku kelak.
Lagipula, aku tidak memiliki tulang rusuk sejak dewa-dewi tidak mengharap lahirku, lantas bagaimana mungkin kau adalah aku. Kita memang tertakdir tak pernah satu. Kau adalah surga dan aku Belphegor. Yang terusir sebelum sampai padamu.

Ini bukan tentang “engkau bisa, karena kau kehendaki!“, tapi “engkau akan, engkau harus!”.
Sekalipun aku tidak mengingatkanmu, kau pasti lebih manyadari tentang takdir memuakkan ini.
Aku lupa. Sengaja amnesia hanya supaya dapat mencium utopia. Mencumbu kemustahilanmu.

Aku merajut romantika lebay yang kubenci ini karena aku berharap mendapati lagi ceria lebay dari bibir merahmu itu.


ME

Bankbenk

Bankbenk

Know nothing

Personal Links

Verified Services

View Full Profile →

Archives

Top Posts & Pages

August 2017
M T W T F S S
« Jul    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Twitter

  • hoamss ~ https://t.co/rrhG5tMCXM 4 days ago
  • "gimana caranya anak proletar bs nikah dengan putri bangsawan?" "Kawin lari! Culik! Paling!" — nenek moyang sasak 4 days ago
  • tanpa judul - Kau tau tentang masa laluku yang kelam, tapi, sayang- satu hal yang bahkan hingga saat ini... tmblr.co/ZOiBwt2OUKWsR 3 weeks ago
  • Coba main sedikit. Ajak ngobrol "rakyat-rakyat jelata" itu. Akrabkan diri, analisa mereka, lalu tarik kesimpulan. 3 weeks ago
  • Hanya krn kerja keras dpt menjadikan seseorang sukses (kaya), nggak lantas membenarkan stigma buruk tentang "orang miskin itu malas-malas", 3 weeks ago
Follow KNOW NOTHING on WordPress.com

Blog Stats

  • 3,135 hits