Archive Page 2

Tentang Lombok Sebagai Tempat Tinggal

1438605483363

Karena aku terlahir dan tinggal di Lombok, teman-temanku dari kota-kota besar menyangka kegiatanku hanyalah menyeruput cangkir kopi, menenggak koktail dari seloki, bercinta dengan wanita-wanita kami, atau duduk di sebuah bar lalu menepuk-nepuk bokong para penari.

Apa maksud mereka kami yang tinggal di sana kebal terhadap kehidupan? Apa mereka pikir keluarga kami tak sekacau rumah tangga mereka? Kanker kami tak akan berakibat fatal?

Atau, sakit hati kami tidak akan semenyakitkan sakit hati mereka?

Tempat yang mereka pikir surga, tampak seperti liburan permanen yang tiada habisnya, adalah tempat aku menyadari bahwa sebaik apapun manusia, Tuhan selalu membenci kita.

Advertisements

Tulisan Yang Tidak Akan Terselesaikan

Kau memintaku menuliskan kisahmu?

Lalu, dari mana hendak kumulai?
Dari awal kenalan hingga masa-masa indah dengan teman tidurmu?
Ah, maksudku, kekasih belahan hatimu itu?
Atau langsung kumulai dari cerita picisan pen-campakan dirimu saja?
Ah, maksudku, cerita putusmu itu?

Tapi, haruskah kutuliskan juga tentangmu yang tidak pernah mensyukuri hidup?
Apakah berarti kau ingin semua orang tau tentang kecerobohan dan kebodohanmu?
Seingatku, kau adalah wanita dengan harga diri tinggi, bukan?
Lantas untuk apa kutuliskan?
Agar semua tahu?

Atau, kau masih belum mengerti?

Surat Untuk Matahari Yang Terenggut Tuhan

Selamat datang kembali nona penanam aster, mungkin semalam kau bosan terus-menerus mendengarku mengoceh. Aku terlampau bersemangat.
Ah, kau tentu tahu itu, aku yang masih saja antusias meskipun kau kerap hadir di sepertiga malamku.
Karena hanya kaulah yang selalu setia mendengar ceritaku, tidak perduli yang keluar dari mulutku hanyalah omong kosong dan bualan lainnya. Aku tahu kau bosan, tapi kau masih saja duduk mendengarkan, masih saja menjawab pertanyaan-pertanyaanku yang tak jelas juntrungnya.

Ah iya, ingatkah kau dimalam ketika aku bercerita tentang seorang wanita yang mungkin saja dapat menggantikan sosokmu (untuk kesekian kalinya)? Kau pun selalu tersenyum sukacita. Raut wajahmu yang ceria selalu mengisyaratkan berjuta cerita dan lalu kau pasti akan meyakinkanku jika aku akan baik-baik saja menjalani hubungan tersebut.
Kau selalu saja percaya pada diriku, bahkan ketika aku tidak lagi memiliki kepercayaan pada diriku sendiri.
Dan lalu untuk kesekian kalinya aku akan datang kembali dengan keluhan yang sama, bahwa ternyata lagi-lagi pilihanku salah, dan kau pasti akan berujar “itu semua adalah jalan dari keseluruhan cerita, jalani saja”.

Aku yang hingga kini tak pernah benar-benar mengenal sosokmu, kau yang begitu tangguh, kau yang begitu setia, dan kau yang selalu menjadi matahariku terbenam.
Sampai kapan aku dapat lepas dari bayangmu? pada siapa aku dapat menemukan sosokmu? Sampai kapan aku harus mencari? Apakah ini juga adalah alur dari keseluruhan cerita?

Jika iya, maka aku ingin berhenti dari skema ini, aku terlampau lelah, aku terlanjur tenggelam dalam keselarasan ketidak sempurnaan dirimu, seperti yang sering kau ucapkan
Aku tidak lagi ingin menjadi pemeran dalam pementasan apapun, toh di akhir cerita aku selalu menjadi pecundang yang dipecundangi. Pada akhirnya aku yang selalu kalah dan dikhianati.

Dengan begitu aku dapat mencumbu dirimu setiap saat datangnya sepertiga malam, dengan begitu kau akan abadi dalam pandanganku, pun aku tidak akan lagi pernah terluka oleh tipuan-tipuan dan pengkhianatan di luar sana. Dengan begitu aku tidak lagi perlu lelah mencari sosokmu pada yang lain. Bolehkah?

Tentu kau akan merajut mendengar ideku ini, tentu kau akan kecewa, namun di mana lagi aku dapat menemukan seseorang yang mampu menyusutkan diriku ke ukuran mikrosopis dan berenang pada relung terkecil kolam hatiku?

Setelah Enam tahun kepergianmu, aku tidak yakin kehilanganmu, aku pun tidak yakin orang-orang yang mencintaimu kehilanganmu. Karena kau terlalu baik bagiku, kau terlalu baik bagi setiap orang yang mengenalmu.

Untuk itu, di sepertiga malam aku akan selalu membuka lebar pintu dan jendela kamarku, agar angin leluasa masuk membawa rindu. Memanjatkan do’a untukmu di surge sana.

Titip salamku untuk Tuhan-mu yang pencemburu itu, Tuhan yang merenggut matahariku, yang mengambil lentera kehidupanku.

Salam rindu.

 

Kekalahan Dalam Keabadian Dirinya

Hadirnya adalah ketidakpastian dari masa depan yang menjelma menjadi harapan. Harapan kosong nan-melelahkan, namun tak kunjung sirna. Sekalipun semesta di ambang kehancuran dan hidupku dipenghujung nafas kematian. Selama harapan ini masih ada, perasaanku pun tetap terjaga.

Aku tahu bahwa harapan selalu hadir tanpa aba-aba, ia menggerogoti relung rasaku yang kering dan haus. Aku tahu harapan seharusnya kuperjuangkan dengan kegigihan, hingga akhirnya aku dapat memberi yang terbaik bagi dirinya yang kuharapkan.

Tidak pernah terpikir olehku sebelumnya untuk berbalik dan menyerah. Namun, bagaimanapun, berjuta harap itu hanya akan menjadi sekedar ilusi hampa ketika ia yang kuharapkan tak bergeming bahkan tak perduli sama sekali.

Aku sejak lama selalu menganggap bahwa cinta memang selalu mengenai perjuangan. Individu-individu yang terikat oleh cinta, adalah mereka yang tetap berjuang meski menyadari kenyataan bahwa yang ia perjuangkan tidak memperdulikan bahkan tak menghiraukan dirinya.
Tetapi sejak beberapa tahun terakhir aku mulai menganggap bahwa semua itu memang benar adanya adalah omong kosong, produk dan nilai-nilai yang tercipta dari remaja yang enggan mengakui kekalahan dan kelemahan dirinya.

Tapi, mengapa ketika aku baru saja berpikir telah mampu untuk berharap kembali, justru aku menyadari bahwa ternyata semua itu hanyalah ilusi yang tercipta dari ketidaktahuan maluku yang semu? Namun, mengapa harapan kali ini terasa lebih mencabik perasaanku dari harapan-harapan sebelumnya? Mengapa kini aku takut menyirami harapan tersebut dengan angan-angan jumawa tengang cinta?
Mengapa aku justru diliputi ketakutan yang menembus sukma? Apakah karena aku begitu lama menanggalkan pengharapan pada diriku?

Entahlah,

Yang jelas, ketakutan yang ter-realisasi, adalah merupakan sebuah mimpi buruk. Ketakutan akan menjadi baik-baik saja ketika ia tidak akan pernah tercapai. Seperti hal nya diriku sekarang, terus mencoba untuk merengkuh luka, dan berusaha untuk membangun kembali ketakutan dari harapan yang sebelumnya telah hilang karena tereduksi oleh waktu.

Namun, apapun hasil yang akan kudapat, aku percaya bahwa cinta yang paling baik, sama hal nya dengan sepucuk surat, adalah cinta yang tak terbalas.
Cinta semacam ini tak akan pernah tergerus oleh ganasnya waktu, bahkan jika waktu telah kehilangan maknanya, ketika yang tersisa hanyalah kehampaan. Cinta tetapla abadi.


ME

Bankbenkz

Bankbenkz

Know nothing

Personal Links

Verified Services

View Full Profile →

Archives

July 2018
M T W T F S S
« Jun    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Twitter

Follow KNOW NOTHING on WordPress.com

Blog Stats

  • 4,558 hits
Advertisements