Archive Page 2

Tentang Perempuan: Makhluk Narsistik Dari Erotisme Yang Mengejar Kemustahilan

Untitled-1

Photo dan tulisan nggak berhubungan. Cuma pengen selipin photonya dia aja.

Cerita tentang seorang gadis muda, labil, angkuh, pemberontak, dan ketidakmampuan menguasai diri, tapi karena cinta ia dapat di jinakkan oleh seorang laki-laki bijak, adalah pola baku literatur-literatur murahan dan film-film murahan: kita, laki-laki maupun perempuan tahu bahwa ini adalah kisah yang klise. Penuh mong kosong.

Dalam realitasnya, yang kutahu adalah wanita sebagai mahluk narsistik dari erotisme, mereka bangga untuk menarik perhatian laki-laki, menimbulkan deifikasi (pengagungan) terhadap dirinya sendiri, tapi kemudian memberontak karena ia merasa terjebak di dalamnya.

Seperti seorang gadis yang kutemui, ia tampak malu-malu di hadapanku, namun juga berusaha menampakkan kekenesan (kegenitannya) dan keangkuhannya. Pandangan mataku yang seksama dari kakinya yang menyila panjang keatas paha hingga rambutnya yang lurus terurai membuatnya merasa tersanjung sekaligus juga menyakitinya secara simultan; ia hanya ingin yang ia tunjukkan saja untuk di lihat: namun ia lupa bahwa mata laki-laki adanya selalu liar.

Karena inkonsistensi seperti inilah yang membuatku atau mungkin sebagian laki-laki bingung dan was-was: ia para wanita memperlihatkan kejenjangan leher, betis, dan pahanya, namun ketika bagian-bagian tubuh tersebut dipelototi, wajahnya merah padam, membuatnya jengkel, lalu menuduh laki-laki tak bermoral.
Selain itu, ia wanita juga menikmati gairah laki-laki, tetapi saat ia sadar bahwa ia telah membangkitkan berahi seorang pria, ia justru menjadi muak.

Aku mengalihkan pandanganku pelan,

Lalu, kami memulai obrolan ringan panjang lebar yang hingga akhirnya aku mendapati kusimpulkanku sendiri tentangnya; saat itu ia beranggapan bahwa cinta sebagai pengalaman subjektif yang abstrak, tanpa ancaman terhadap integritasnya; ia merasakan emosi rindu, harapan, kepedihan, tetapi tanpa keterlibatan nyata; semakin jauh laki-laki yang di pujanya, semakin bagus baginya: seseorang yang menemaninya sehari-hari mungkin lebih baik tidak atraktif—namun figur di luar jangkauannya lebih baik yang tampan dan maskulin.
Yang penting, entah dengan cara ini atau yang lain, unsur realitas harus di pisahkan, dengan demikian ia dapat memperpanjang sikap narsistik dari erotismenya tetap ada, tanpa kehadiran nyata sosok yang lain.

Meski ia tahu bahwa keinginan atas hal yang mustahil inilah yang membuatnya terjerembab dalam jurang kegagalan; kondisi ini dengan begitu jelas menunjukkan sikap yang belum matang, kekanak-kanakan dan suka melawan demi melindungi dirinya. Tidak begitu mengherankan jika banyak gadis muda yang selamanya menjadi tidak mampu memahami cinta nyata dan sempurna. Dan mungkin ada benarnya jika wanita di gambarkan sebagai makhluk yang setengah liar, setengah jinak.

Dan pada akhirnya, sepanjang hidup—mereka mencari keidealan yang mustahil untuk di wujudkan.

Tentang Selingkuh Yang Tak Butuh Pembenaran Karena Hadirnya Tak Pernah Salah

Moralitas menjadi kata kunci dari pembahasan tentang perselingkuhan, perbuatan yang dianggap menyimpang dan merupakan kriminalitas. Para pelaku perselingkuhan akan mendapatkan pengadilan-pengadilan moral dari lingkungan sosialnya, di jauhi dan di asingkan. Standar moral ini mengikuti aturan mayoritas tanpa pernah menggali lebih jauh faktor pendorong apa yang menyebabkan seorang melakukan perselingkuhan. Juga perselingkuhan kerap kali berakhir dengan kekerasan fisik yang di terima oleh pelaku perelingkuhan.
Adalah sebuah kontradiksi yang jelas jika kita coba menggali fenomena kekerasan fisik yang di terima oleh pelaku perselingkuhan.

Tentu sebuah hubungan tak melulu tentang penderitaan, namun kebahagiaan bukan juga pagon yang tak berujung. Ia sembilu yang hadir dalam totalitasnya sebagai pencerabut kesedihan dan kebahagiaan bagi pencinta.
Namun kini, dari sudut pandangku yang selalu terbatas, tampak bagiku sebuah fenomena baru dimana pernyataan cinta bukan lagi tentang kesetujuan dua individu yang universal, pernyataan yang tidak lagi membuktikan validitas objektif sebuah putusan.

Pernyataan cinta yang hanya menjadi sebuah kata-kata kosong, para pelakunya mempertaruhkan akal sehatnya atas perasaan, menggadaikan rasionalitas atas hasrat seksual. Peranan rasa yang seharusnya membebaskan justru mengekang, rasionalitas berubah obsesi yang berlebih. Cita-cita dari mencinta kian tereduksi.

Memang, menyatakan cinta adalah hal yang mudah, tetapi pernyataan itu butuh bukti dan fakta. Sebagus dan secemerlang apapun kata yang mampu kau ucapkan, tidak akan memiliki nilai apapun jika terus membiarkan ego meluas.

Seperti pasangan yang memberi hukuman fisik ke pasangannya yang berselingkuh akan tampak bodoh di mataku. Mereka mengabaikan ke-universalan cinta, lalu memperluas ego. Karena bagiku cinta adalah tentang membebaskan, memberi sayap ke pasanganmu agar supaya ia dapat terbang tinggi menuju tempat terindah untuknya, bukan malah mendekapnya hanya supaya ia selalu di sampingmu tuk ikut menderita.

Pasangan yang berperan sebagai pengadil moral melupakan bahwa akibat selalu memiliki sebab, mereka mengabaikan faktor pendorong mengapa pasangannya melakukan perselingkuhan. Jika saja mereka mengakui bahwa faktor pendorong perselingkuhan adalah ia yang menjadi pasangan. Jika saja mereka menyadari perselingkuhan tersebut muncul dari ketidakmampuannya dalam mengayomi pasangannya. Barang tentu tak akan muncul isitilah perselingkuhan.
Namun mengakui kesalahan tentu hal yang teramat sulit jika dibandingkan dengan mencari kebaikan diri sendiri.

Dan akhirnya, bagiku cinta adalah tentang kebahagiaan pasanganmu; yang berarti bahwa penderitaan tak terelakkan darimu yang mencinta. Suatu keilusifan berpikir cinta jika kau masih menyalahkan pasanganmu atas tindakan perselingkuhan. Dan kebodohan menganggap cinta bila kekerasan fisik masih menjadi pilihan.

Tapi apapun yang kuutarakan, moral mayoritas selalu menjadi pengadil mutlak dan aku selalu di sudut kesesatan.

Meluruskan Yang Tak Mungkin Lurus

Kusadari cakrawalaku terbatas, tapi andai saja sedari awal kau mau mendengar secuil konsep yang hendak kutawarkan mungkin kau tidak kan terburu-buru memutuskan menuduhku pengecut lalu mengandaskan hubungan saat itu.
Mungkin aku sedikit paham mengapa kau ingin melabeli hubungan kala itu, karena kita baru mengenal. Andai saja kau sadar bahwa semua yang kau pikirkan itu adalah tentang keresahan dirimu sendiri. Kau tidak mempercayaiku, dan tentu kau tak percaya dirimu sendiri. Padahal cinta adalah tentang saling percaya. Ia memberi bukan menerima. Maka ketika muncul setitik ketidak kepercayaan, apakah ia masih layak menjadi cinta?

Dan disini, meski kau tak pernah meminta dan tak ingin mendengar, tapi aku kan tetap menulis alasanku enggan melabeli sebuah hubungan dengan istilah “pacaran” adalah karena bagiku hubungan merupakan kensekuensi dari bertemunya dua resonansi rasa berbeda yang mampu selaras, ia tak memiliki bentuk pasti, ia adalah gelombang infinite. Buah kepercayaan.
Bukankah jika kita mencoba melabeli ketidak terbatasan hanya akan mereduksi keuniversalan makna? Dan bukankah pereduksian makna akan membawa sesuatu ke lingkup keterbatasan? Barang tentu sesuatu yang terbatas berarti tidak lagi universal, bebas, dan justru terkungkung, bukan?
Sadarkah kau itu semua bentuk paling vulgar dari ego? 

Lantas, ingatkah engkau ketika nadamu meninggi meminta status yang menurutmu sebagai penentu serius tidaknya sebuah hubungan kau sedang memaksakan egomu? Dan barang tentu kau tahu bahwa pemaksaan ego hanya akan membawamu ke jurang penyesalan?

Nona, tentu kau tahu cinta harusnya membebaskan pelakunya bukan mengikat dalam barisan kata-kata.

Ah, sudahlah. Cakrawalaku memang terbatas.

Catatan Bawah Tanah: Tentang Penderitaan Sebagai Kebutuhan dan Tujuan Manusia

With the ant-heap the respectable race of ants began and with the ant- heap they will probably end, which does the greatest credit to their perseverance and good sense…

— Fyodor Dostoyevsky

…Manusia adalah makhluk yang ceroboh dan aneh, seperti pemain catur yang mencintai proses permainannya, bukan tujuan dari permainannya.
Siapa tahu (tentu tidak ada yang tahu pasti) tujuan yang selama ini di kejar manusia di muka bumi ini berada pada proses usaha yang tak ada hentinya tersebut, artinya; proses adalah hidup itu sendiri, bukan pencapaian yang selalu di ekspresikan dengan sebuah formula dua kali dua menghasilkan empat, sedangkan positivitas seperti itu bukanlah hidup, tapi awal dari kematian.

Bagaimanapun, manusia selalu takut pada kepastian matematik semacam ini, dan saat ini pun aku mencemaskannya.

Kita tahu bahwa manusia tak henti-hentinya mencari kepastian matematis ini, ia menyebrangi lautan, ia mengorbankan nyawa demi usaha pencarian semacam ini, tapi aku yakin; bahwa sebenarnya ia takut untuk berhasil, takut akan keberhasilan yang menuntun dirinya menemukan yang ia cari. Ia merasa bahwa jika ia telah menemukan yang dicari maka tidak ada yang tersisa lagi untuk di lakukan, tak lagi memiliki tujuan.

Bagaimanapun, seseorang akan kebingungan ketika berhasil mendapatkan tujuannya. Ia menyukai proses pencapaiannya, tetapi tidak suka jika yang ia usahakan itu berhasil, dan itu, tentu saja sangatlah absurd, dalam hal ini; gila.

Kenyataannya, manusia adalah makhluk yang konyol; semua hal tentang mereka seolah-olah hanya berisi lelucon. Tapi kepastian matematis, bagaimanapun juga, adalah hal yang menyakitkan bagi mereka.
Dua kali dua menghasilkan empat bagiku tak lebih dari suatu kearoganan. Dua kali dua menghasilkan empat adalah bisai yang tidak etis, menghalangi jalan kita dengan kedua lengan bertumpu pada pinggang kemudian meludah.
Aku setuju dengan dua kali dua menghasilkan empat, tapi kita akan coba menerima segala kemungkinan yang dapat terjadi, maka dengan dua kali dua menghasilkan lima akan mungkin jadi sangat menarik.

Kenapa kau sebegitu yakinnya, so triumphantly; bahwa karena hal itu normal dan bagus—dengan kata lain, hanya karena keadaan kondusif dan menyenangkan—selalu akan mensejahterakan manusia? Apakah itu berarti sebuah kesalahan selalu tidak bermanfaat? Selalu sia-sia?

Bukankah manusia, sangat mungkin untuk mencintai hal lainnya bahkan selain kebahagiaan?. Siapa tahu ia juga menikmati penderitaan. Siapa tahu juga penderitaan baginya sama menggairahkannya seperti kebahagiaan.
Terkadang manusia juga dapat sangat mungkin mencintai sebuah penderitaan, inilah kenyatannya. Kita tidak butuh sejarah dunia untuk pembuktiannya; hanya dengan bertanya pada diri kita sendiri, bahwa kita manusia yang menjalani kehidupan tersebut.

Menurutku, adalah suatu sikap yang tidak tepat jika kita hanya berpikir tentang kebahagiaan, baik dan buruk justru kadang sangat menarik jika kita dapat menerimanya secara utuh. Aku tidak keberatan terhadap penderitaan ataupun kebahagiaan.

Seperti sebuah pementasan komedi yang tak pernah mementaskan tema penderitaan, misalnya; pada “Palace Of Crystal” sesuatu yang tak terbayangkan, menyangsikan penderitaan, penegasian—lalu apa manfaatnya pertunjukan semacam itu?

Pada kenyataannya  bahwa manusia tidak akan pernah mungkin terlepas dari penderitaan, kehancuran, dan kekacauan. Karena penderitaan ialah sumber kesadaran. Meski di awal aku berkata bahwa kesadaran adalah malapetaka terbesar manusia, namun aku tahu manusia sangat menghargainya dan tidak akan mau kehilangannya.
Kesadaran, misalnya, jauh lebih agung daripada dua kali dua sama dengan empat.

Begitu kita memperoleh kepastian matematis maka tidak ada lagi yang tersisa untuk dilakukan atau dipahami. Yang tertinggal untuk dikerjakan hanyalah memasukkan seluruh indra kita ke dalam sebuah botol lalu menyelam dalam kontemplasinya.

Sedangkan Jika kau tetap menjaga kesadaran, meski hasil yang diperoleh sama, setidaknya sesekali kita dapat menghukum diri sendiri, dan dengan ini, bagaimanapun juga akan membuat kita kembali hidup.  Walaupun cenderung reaksioner, hukuman fisik tentu akan lebih baik daripada tidak sama sekali.

Tentang Perspektif Hubungan Dan Perasaan Dalam Tatanan Sosial

Keadaan lingkungan, bagaimanapun juga, memiliki pengaruh yang substansial terhadap sudut pandang seorang.
Seperti halnya aku, dulu pikirku sia-sia saja mencoba mendekati gadis yang kusukai jika ternyata ia dari kelas yang lebih tinggi. Ningrat.
Menyebabkanku mengkategorikan kelas-kelas sosial kedalam ranah perasaan (hubungan), mengkotak-kotakkan mereka yang kaya dan miskin untuk menentukan sebuah kepantasan. Mungkin terdengar konyol dan trivial jika cinta harus menyerah pada tembok kasat mata; kelas-kelas sosial. Tetapi perspektif ini lumrah jika kau berasal dari desa pedalaman yang belum mengerti sedikit pun tentang pola tempat berkumpulnya masyarakat urban dan juga jika kau berada pada kelas terendah dari tatanan sosial yang ada. Dan sayangnya aku berasal hierarki terendah tersebut, yang akhirnya membentuk perspektifku.

Agak sulit menjabarkan apa yang dulu kupikirkan secara pasti, contohnya, jika seorang laki-laki menjalin hubungan dengan wanita dari kelas yang lebih tinggi darinya, maka faktor baru akan muncul: yaitu hubungan—bersifat tidak jelas—yang ia pertahankan bersama laki-laki tersebut. Sedangkan seorang perempuan yang merasa yakin sepenuhnya dengan keputusannya keluar dari lingkungannya adalah wanita yang yakin akan kemampuannya (kuat), dan wanita sejenis ini hanya menginginkan laki-laki sebagai teman dan sahabat; namun keyakinan seperti itu sulit ditemukan pada perempuan mana pun yang tidak memiliki minat yang sama dengan laki-laki, yang—dalam bisnis, aktivitas, atau seni—tidak bekerja dan meraih sukses.

Hingga kemudian pengalaman-pengalaman mengantarkanku pada perspektif berbeda, rentetan peristiwa yang mengubah keyakinanku pada mekanisme kelas sosial tersebut. Di mulai semenjak aku terdampar pada ranah privasi kelas menengah ke atas (mereka menyebut diri mereka borjuis) dan mulai sedikit mengerti perilaku kolektif masyarakat urban, dapat kukatakan hingga saat ini aku cukup sering menjalin hubungan semacam contoh diatas.

Seperti hubunganku yang kandas tahun lalu dengan wanita dari kelas yang jauh diatasku, tentu kami sadar perbedaan sudut pandang yang kan hadir, karena kami sama-sama tahu dimensi ruang yang membentuk karakter kami jelas berasal dari lingkungan yang berbeda pula.
Contoh kecil perbedaan yang tampak begitu nyata diantara kami adalah; jika aku bosan berada pada dasar hierarki sosial, maka kebosanannya justru pada kemewahan, ia dapat membeli gadget-gadget terbaru yang sungguh-sungguh tidak begitu ia butuhkan dengan harga belasan juta hanya dengan menggeser kartu kreditnya, membeli tiket-tiket konser dimanapun, namun ia mengaku hal itu tidak lagi dapat menjadi kesenangan. Sedangkan kondisiku tercermin sebagai kebalikan dari keadaannya. Aku ingat Handphone yang kugunakan enam tahun lebih membuatku tampak sebagai hipster dimatanya, aku hanya tertawa geli.
Ia merasakan kehampaan pada dirinya, kekosongan dalam setiap pekerjaan yang mengahasilkan tiap lembar uang dari bekerja dibawah kendali kapitalis (sebenarnya aku tidak begitu mempermasalahkan kapitalis atau apapun, aku hanya ingin menuliskannya). Sedangkan aku terseret pada kekosongan memandang jam yang monoton tiap kali aku menyadri ketidak-produktif-an diriku.
Ia membunuh waktu dengan kesenangan konyol dalam pengharapan, yaitu Fashion dan Shoping. Konsumerisme.
Semua yang dilakukannya adalah kebalikan realitasku.

Meski kuakui aku memang membenci pola hedonis dan konsumerisme semacam itu. Namun perbedaan itu tidak lantas memberiku hak untuk menyalahkannya (bahkan siapapun yang berbeda denganku), karena kami tumbuh dilingkungan yang jauh berbeda, selain itu, justru perbedaan itu bagiku tanggung jawab yang mesti kajalani (suka tidak suka) dari keputusanku membiarkannya masuk pada petualangan kehidupanku. Begitupun dengannya, lagipula yang terpenting ia menerimaku seutuhnya, pun menerima perbedaan.

Karena peristiwa-peristiwa seperti itulah aku mendapat kacamata baru terhadap segala sesuatunya, jika sebelumnya aku berpikir hubungan yang ideal haruslah berdasar pada pengklasifikasian kelas, keserasian haruslah berdasar pada kecocokan sosial maupun fisik, kini aku percaya bahwa yang terpenting darinya adalah penerimaan—kepercayaan setuhnya, bahwa batasan-batasan yang terproyeksi dalam bayang dimensi hanyalah pembenaran dari lemahnya resistensi tanggung jawab, hasil dari kesalahan pemaknaan tentang dimensi kelas-kelas sosial.

Meskipun akhirnya pada hubunganku itu ia memilih bersama pria berprofesi pilot (bukan hal baru, aku sudah terbiasa jika pasanganku berakhir didekapan pria-pria berseragam. Menjadi alasan personal untukku membenci mereka, meskipun tidak masuk akal).
Tetapi aku tidak ingin menyalahkannya sama sekali, yang terpenting adalah itu keputusannya sendiri, yang terbaik menurutnya.

Dan juga, dari dulu, aku tidak pernah sekalipun memaksakan hubungan. Jika ia ingin pergi, ia pergi. Jika ia ingin aku pergi, maka aku yang pergi.

Yang ingin kusampaikan masih sama, bagaimanapun pemujaan pada diri sendiri (narsisme) tidak mengubah realitas yang tertakdirkan.

Berkacalah.


ME

Bankbenk

Bankbenk

Know nothing

Personal Links

Verified Services

View Full Profile →

Archives

June 2017
M T W T F S S
« May    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Follow KNOW NOTHING on WordPress.com

Blog Stats

  • 3,002 hits