Posts Tagged 'remaja'

Kekalahan Dalam Keabadian Dirinya

Hadirnya adalah ketidakpastian dari masa depan yang menjelma menjadi harapan. Harapan kosong nan-melelahkan, namun tak kunjung sirna. Sekalipun semesta di ambang kehancuran dan hidupku dipenghujung nafas kematian. Selama harapan ini masih ada, perasaanku pun tetap terjaga.

Aku tahu bahwa harapan selalu hadir tanpa aba-aba, ia menggerogoti relung rasaku yang kering dan haus. Aku tahu harapan seharusnya kuperjuangkan dengan kegigihan, hingga akhirnya aku dapat memberi yang terbaik bagi dirinya yang kuharapkan.

Tidak pernah terpikir olehku sebelumnya untuk berbalik dan menyerah. Namun, bagaimanapun, berjuta harap itu hanya akan menjadi sekedar ilusi hampa ketika ia yang kuharapkan tak bergeming bahkan tak perduli sama sekali.

Aku sejak lama selalu menganggap bahwa cinta memang selalu mengenai perjuangan. Individu-individu yang terikat oleh cinta, adalah mereka yang tetap berjuang meski menyadari kenyataan bahwa yang ia perjuangkan tidak memperdulikan bahkan tak menghiraukan dirinya.
Tetapi sejak beberapa tahun terakhir aku mulai menganggap bahwa semua itu memang benar adanya adalah omong kosong, produk dan nilai-nilai yang tercipta dari remaja yang enggan mengakui kekalahan dan kelemahan dirinya.

Tapi, mengapa ketika aku baru saja berpikir telah mampu untuk berharap kembali, justru aku menyadari bahwa ternyata semua itu hanyalah ilusi yang tercipta dari ketidaktahuan maluku yang semu? Namun, mengapa harapan kali ini terasa lebih mencabik perasaanku dari harapan-harapan sebelumnya? Mengapa kini aku takut menyirami harapan tersebut dengan angan-angan jumawa tengang cinta?
Mengapa aku justru diliputi ketakutan yang menembus sukma? Apakah karena aku begitu lama menanggalkan pengharapan pada diriku?

Entahlah,

Yang jelas, ketakutan yang ter-realisasi, adalah merupakan sebuah mimpi buruk. Ketakutan akan menjadi baik-baik saja ketika ia tidak akan pernah tercapai. Seperti hal nya diriku sekarang, terus mencoba untuk merengkuh luka, dan berusaha untuk membangun kembali ketakutan dari harapan yang sebelumnya telah hilang karena tereduksi oleh waktu.

Namun, apapun hasil yang akan kudapat, aku percaya bahwa cinta yang paling baik, sama hal nya dengan sepucuk surat, adalah cinta yang tak terbalas.
Cinta semacam ini tak akan pernah tergerus oleh ganasnya waktu, bahkan jika waktu telah kehilangan maknanya, ketika yang tersisa hanyalah kehampaan. Cinta tetapla abadi.

Tentang Undangan Buka Bersama Dan Tanggung Jawab Pertemanan Di Dalamnya

 

bukber3

Omong kosong lainnya

Pertemanan itu seharusnya adalah hal yang spesial, seorang yang dapat melihat yang lainnya lebih dari apa yang terlihat. Mereka yang mampu melihat sesamanya lebih jauh dari hanya sebatas darimana ia berasal, seberapa elegan penampilannya, atau seberapa mewah kendaraannya. Seorang teman yang baik adalah mereka yang dapat melihat sesamanya lebih jauh dari masa depan. Mereka yang menerima apa adanya.
Melumat segala macam teori-teori ketidakmungkinan menjadi kemungkinan.

Undangan buka bersama tahun inipun tak kalah ramainya dengan undangan-undangan tahun sebelumnya, duapuluh lebih antrian dalam kanal SMS-ku yang belum sempat kubalas semua. Tidak, aku tidak berniat mengabaikan mereka yang menganggapku kawan, aku hanya selektif dalam memilih perihal semacam ini, karena bagiku momen buka bersama ini bukan hanya sekedar ajang bernostalgia ria sembari menghabiskan waktu dengan omongkosong.
Alasanku adalah karena sebagian dari undangan tersebut hanyalah berisi kumpulan orang yang hanya sekedar ingin menghabiskan uang mereka dengan makan-makan di luar rumah lalu mengisinya dengan tawa-tawa hambar.

Ada yang lebih esensial daripada sekedar euforia melepas rindu semacam itu.

Hal yang lebih penting bagiku dalam acara buka bersama adalah untuk melihat jalan seperti apa yang saat ini kawan-kawanku tempuh, dan untuk melihat mereka yang kini telah menikmati puncak kesuksesan dan yang sedang terpuruk dalam mendakinya.
Tentu aku tidak akan mampu merubah kehidupan seorangpun dari mereka yang terpuruk, maka dari itu hal yang paling utama dari buka bersama bagiku adalah keinginan untuk mempertemukan mereka yang beruntung dan kurang beruntung. Untuk saling bantu-membantu.

Keinginan terbesarku untuk melihat mereka melangkah di jalan yang sama, jalan yang dipenuhi bunga musim semi, menghirup semerbak wewangian bunga yang diterbangkan hembusan angin, lalu mengajak mereka yang sedang berada di jalan terjal ,  menyusuri bebatuan licin dan rapuh.
Aku ingin mereka bergenggaman tangan erat, mengulurkan ke yang membutuhkan, memapah bagi yang  kesakitan.

Namun tentu ini bukanlah kisah fiksi dengan akhir bahagia.

Kenyataannya, justru undangan dari mereka yang tidak kuharapkan lebih ramai dibanding beberapa acara buka bersama yang kuharapkan untuk terealisasi.
Mungkin mereka tidak lagi menganggap pertemanan sebagai hal yang luar biasa, atau juga karena sebagian mereka justru sungkan untuk hadir karena merasa tidak lagi punya kecocokan dengan yang lainnya; entah karena kini mereka merasa ada ditingkatan yang lebih tinggi atau mungkin juga karena merasa berada di tempat yang lebih rendah. Entahlah.

Yang jelas, apapun alasannya akan sama-sama menyakitkannya, bukan karena aku akan ditinggalkan, aku terluka karena hingga saat ini aku belum juga mampu mengemban tanggung jawab sebagai teman, yang bisa membantu meski tidak mereka minta.
Aku merasa sedang mengkhianati tanggung jawabku selama ini karena telah mengatasnamakan pertemanan.

Lalu, pada akhirnya, pencapaianku saat ini hanya kunikmati sendiri, angan-anganku hanya menyublim menjadi retorika-retorika imajinatif yang tidak dapat terealisasikan.

Aku teman yang gagal.

Tentang Rasa Yang Tumbuh Dari Kesadaran Dan Kesederhanaan

epitaf

pemanis aja

Parasnya cantik, namun tak teramat menawan jika mesti kubandingkan dengan wanita-wanita yang selama ini sempat singgah tuk menemani hari-hariku, terlebih jika aku harus menyandingkannya dengan seorang yang selama ini masih sering mengetuk dinding-dinding memoriku.
Bahkan, kedalaman refleksinya terhadap kehidupanpun tak berjarak remaja lainnya, tak ubahnya seperti gadis seusianya, tak hingga membuatku terkesan. Teramat biasa.
Barang tentu, ia juga bukan bagian dari anak kelas pekerja pongah yang mendambakan kegemerlapan borjuis, borjuasi kerdil yg gemar mencari-cari pengakuan akan eksistensi ditempat-tempat umum, tempat-tempat yang memaksa mereka mengeluarkan biaya yang tak sedikit (setidaknya menurutku), yang mereka kunjungi setiap hari.

Sedangkan ia, wanita ini, jujur, ia benar-benar sederhana, kukatakan, ia jauh dari apa yang dulu pernah kuharapan, tak sedikitpun ia mendekati kriteriaku sebelumnya. Namun justru ia yang tak terbayangkan ini, mampu memberiku kesan yang berbeda, ia dimataku, menjelmakan diri menjadi pembeda, mempesona, membuatnya melesat tinggi keatas melampaui wanita-wanita yang selama ini pernah kudekati.

Semesta hingga sekarang masih sama, ia dengan rencananya, memaksaku mementaskan drama diatas panggung kehidupannya yang dipenuhi humor tragis ini.

Entah bagaimana, ia yang semesta hadirkan terlambat dan tiba-tiba ini, mampu membuat kehidupanku seketika terasa begitu layak untuk kuperjuangkan kembali. Simpleksitasnya, justru mengajariku untuk mulai menghargai detail-detail terkecil kehidupan.
Setelah selama ini aku melewati begitu banyak kejatuhan-kejatuhan yang mencabik relung jiwa, dimana aku bertahan dengan kegilaan, mengais serakan-serakan perasaanku di dasar lumpur pesakitan (yang tercipta dari kenangan yang lalu), di saat itu pula, sosok wanita ini menjulurkan tangannya, membawaku keluar dari jurang penderitaan tersebut.

Ia, wanita yang diperkenalkan semesta padaku ini, membuatku kembali percaya bahwa ternyata kebahagiaan masih tersisa untukku, ia membuatku yakin bahwa kebahagiaan kerap hadir di dalam melodi-melodi yang tak terduga, sebuah dentuman yang menghentakkan skema kemonotonan hidup.

Ia hadir disaat aku dititk terendah, pada saat cinta, kebencian dan revolusi, bukan lagi alasan yang logis untukku melanjutkan kehidupan (atau retorika-retorika humanis lainnya), tapi hanyalah persoalan bagaimana mempersingkat kehidupanku, segera menuju neraka. Kematian.

Namun, saat ini, di ruang gelap berpendar cahaya monitorku ini, di tempatku menulis semua ini, setelah sekian lama, akhirnya aku ingin hidup lebih lama lagi, sedikit lebih lama, sedikit lagi hanya untuk menunggu notifikasi balasan percakapanku dengannya dari layar Handphonku ini.

Namun, setelah ini, apapun keputusannya, memberiku kesempatan ataupun ia ingin pergi menjauh sejauh mungki dariku, ataupun hanya menjadikanku seorang teman, aku tidak akan menuntut apapun. Ia terlampau banyak membantu, , menyadarkanku, menuntunku menemukan kacamata baru dalam memandang kehidupan ini.

Jadi, apapun itu, keputusannya adalah hal yang harus tulus kuterima.

Karena bagiku, cinta adalah kemampuan untuk melampaui dan menerima kegagalan-kegagalan, apapun bentuknya.

Lagipula, cinta tidak selalu ingin diperjuangkan, terkadang ia hanya ingin untuk pergi. Menghendaki kebebasannya sendiri.

Kebencian Yang Hadir Dari Ruang Kedunguan

Dibawah remang-remang lampu cafe, ketika aku melontarkan sebuah humor baru yang tak pernah mereka dengar, pikirnya akulah yang bodoh dengan candaan tak masuk akal, menatap wajahku untuk lalu tertawa, sedangkan wajah mereka sendiri dungunya tiada tara karena saat berbicara dengan kepercayaan diri berlebih, membicarakan kekagauman pada diri sendiri, hingga cerita betapa perkasanya mereka. Sampai-sampai mulut mereka mengeluarkan bau busuk; keangukuhan

Orang-orang seperti mereka tidak lebih dari hama yang merasa lebih superior dari yang lainnya hanya karena memiliki privilage lebih.

Bahkan aku ingat ketika masih sekolah dulu, aku kerap memperhatikan kemuraman orang-orang semacam ini, saat itu aku mulai heran dengan keterbatasan pengetahuannya, keinginan yang dangkal, permainan yang tak bermutu, dan obrolan yang sia-sia. Padahal mereka memiliki fasilitas tuk menjadi lebih cerdas.
Namun mereka samasekali tidak memiliki pemahaman tentang hal-hal yang esensial, hal-hal yang mengesankan, hingga akhirnya aku tak lagi berdaya melimitasi egoku untuk menganggap mereka lebih rendah dariku.

Bukan perihal ketersinggungan harga diri yang membuatku merendahkan mereka, dan demi Tuhan jangan lagi paksakan padaku kata-kata menjemukan tersebut, yang terus kalian ulangi hingga membuatku mual.
Mereka tak mengerti apapun, mereka tidak mengenal hidup sama sekali, dan jujur saja itulah yang membuatku membenci mereka.

Dalam hal lainnya, realitas yang paling jelas sekalipun mereka perlakukan dengan kedunguan yang luarbiasa tak masuk akal. Mereka telah terbiasa untuk menghormati keberhasilan, namun kemudian menghina orang yang gagal, mentertawakan dengan sepenuh hati dan tanpa rasa belas kasih sedikitpun.
Mereka menyamakan kedudukan/golongan dengan inteligensia, bahkan di usia itu mereka telah membicarakan tentang kasta, menegaskan dari kelas mana mereka berasal. Tentu itu semua muncul dari akibat kedunguan, gambaran buruk dari kehidupan yang mengelilingi mereka di masa kecil hingga remaja. Mereka benar-benar buruk.
Tentu saja, semua itu berasal dari pandangan dangkal dan prasangka kesinisan mereka terhadap orang-orang dibawahnya, benar bahwa itu gambaran tentang semangat masa muda; tapi semangat seperti itu bukan hal yang menarik sama sekali, bagiku tampak seperti kekurang ajaran. Karena itu aku kadung terlampau membenci mereka, meskipun kemungkinan besar aku adalah manusia yang lebih buruk saat ini.

Tapi bagaimanapun, pada akhirnya mereka akan mulai mengerti bahwa aku telah membaca buku-buku yang tidak mampu mereka baca, dan mulai tahu (sesuatu yang tidak di ajarkan di sekolah) hal yang tak pernah mereka sadari namun keberadaannya nyata. Meskipun mereka berusaha menolaknya, namun secara moral mereka akan mengakuinya. Terlebih setelah mereka tahu aku aktif menulis di beberapa surat kabar dan majalah-majalah.
Namun tetap saja, bagiku pujian satu orang yang mengerti apa yang kukerjakan jauh lebih menggembirakan daripada ribuan pujian dari yang tak mengerti.

Mungkin kebencianku terhadap mereka akan berhenti, namun rasa permusuhanku kan tetap kujaga, hingga akhirnya aku tidak kuat lagi menahannya dan dengan sendirinya menumbuhkan keinginan untuk bersosial, untuk berteman. Meskipun sebelum-sebelumnya aku telah mencoba bergaul dengan mereka, tapi entah kenapa keakrabanku hanya bertahan sementara dan hilang begitu saja.

Mungkin karena kedangkalan mereka yang abadi, atau karena akulah yang terlalu keras kepala.

Entahlah.

Tentang Perempuan: Makhluk Narsistik Dari Erotisme Yang Mengejar Kemustahilan

Untitled-1

Photo dan tulisan nggak berhubungan. Cuma pengen selipin photonya dia aja.

Cerita tentang seorang gadis muda, labil, angkuh, pemberontak, dan ketidakmampuan menguasai diri, tapi karena cinta ia dapat di jinakkan oleh seorang laki-laki bijak, adalah pola baku literatur-literatur murahan dan film-film murahan: kita, laki-laki maupun perempuan tahu bahwa ini adalah kisah yang klise. Penuh mong kosong.

Dalam realitasnya, yang kutahu adalah wanita sebagai mahluk narsistik dari erotisme, mereka bangga untuk menarik perhatian laki-laki, menimbulkan deifikasi (pengagungan) terhadap dirinya sendiri, tapi kemudian memberontak karena ia merasa terjebak di dalamnya.

Seperti seorang gadis yang kutemui, ia tampak malu-malu di hadapanku, namun juga berusaha menampakkan kekenesan (kegenitannya) dan keangkuhannya. Pandangan mataku yang seksama dari kakinya yang menyila panjang keatas paha hingga rambutnya yang lurus terurai membuatnya merasa tersanjung sekaligus juga menyakitinya secara simultan; ia hanya ingin yang ia tunjukkan saja untuk di lihat: namun ia lupa bahwa mata laki-laki adanya selalu liar.

Karena inkonsistensi seperti inilah yang membuatku atau mungkin sebagian laki-laki bingung dan was-was: ia para wanita memperlihatkan kejenjangan leher, betis, dan pahanya, namun ketika bagian-bagian tubuh tersebut dipelototi, wajahnya merah padam, membuatnya jengkel, lalu menuduh laki-laki tak bermoral.
Selain itu, ia wanita juga menikmati gairah laki-laki, tetapi saat ia sadar bahwa ia telah membangkitkan berahi seorang pria, ia justru menjadi muak.

Aku mengalihkan pandanganku pelan,

Lalu, kami memulai obrolan ringan panjang lebar yang hingga akhirnya aku mendapati kusimpulkanku sendiri tentangnya; saat itu ia beranggapan bahwa cinta sebagai pengalaman subjektif yang abstrak, tanpa ancaman terhadap integritasnya; ia merasakan emosi rindu, harapan, kepedihan, tetapi tanpa keterlibatan nyata; semakin jauh laki-laki yang di pujanya, semakin bagus baginya: seseorang yang menemaninya sehari-hari mungkin lebih baik tidak atraktif—namun figur di luar jangkauannya lebih baik yang tampan dan maskulin.
Yang penting, entah dengan cara ini atau yang lain, unsur realitas harus di pisahkan, dengan demikian ia dapat memperpanjang sikap narsistik dari erotismenya tetap ada, tanpa kehadiran nyata sosok yang lain.

Meski ia tahu bahwa keinginan atas hal yang mustahil inilah yang membuatnya terjerembab dalam jurang kegagalan; kondisi ini dengan begitu jelas menunjukkan sikap yang belum matang, kekanak-kanakan dan suka melawan demi melindungi dirinya. Tidak begitu mengherankan jika banyak gadis muda yang selamanya menjadi tidak mampu memahami cinta nyata dan sempurna. Dan mungkin ada benarnya jika wanita di gambarkan sebagai makhluk yang setengah liar, setengah jinak.

Dan pada akhirnya, sepanjang hidup—mereka mencari keidealan yang mustahil untuk di wujudkan.


ME

Bankbenk

Bankbenk

Know nothing

Personal Links

Verified Services

View Full Profile →

Archives

Top Posts & Pages

August 2017
M T W T F S S
« Jul    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Twitter

  • hoamss ~ https://t.co/rrhG5tMCXM 4 days ago
  • "gimana caranya anak proletar bs nikah dengan putri bangsawan?" "Kawin lari! Culik! Paling!" — nenek moyang sasak 4 days ago
  • tanpa judul - Kau tau tentang masa laluku yang kelam, tapi, sayang- satu hal yang bahkan hingga saat ini... tmblr.co/ZOiBwt2OUKWsR 3 weeks ago
  • Coba main sedikit. Ajak ngobrol "rakyat-rakyat jelata" itu. Akrabkan diri, analisa mereka, lalu tarik kesimpulan. 3 weeks ago
  • Hanya krn kerja keras dpt menjadikan seseorang sukses (kaya), nggak lantas membenarkan stigma buruk tentang "orang miskin itu malas-malas", 3 weeks ago
Follow KNOW NOTHING on WordPress.com

Blog Stats

  • 3,135 hits