Posts Tagged 'remaja'

Tentangnya, Tentang Pertemuan Yang Menyisakan Banyak Pertanyaan

penyawangan

Tidak hanya cinta pada pandangan (pertemuan) pertama yang menakjubkan, pun pada pertemuan ke-dua bisa menjadi perjumpaan luar biasa, sebuah perjumpaan magis yang mengalun pada frekuensi presisten yang seirama.

Seperti pertemuanku dengan seseorang yang kemudian menyisakan banyak pertanyaan yang memenuhi dinding-dinding sinisku, seperti; apa dirinya memang telah semenarik itu sejak pertama aku bertemu dengannya? Apa aku terlampau bodoh hingga sedikitpun tak menyadari betapa istimewa dirinya? Atau seberapa angkuh diriku hingga mengabaikan sesuatu yang semesta hadirkan di hadapanku?
Lantas, apa yang telah kukerjakan—kupikirkan setelah mengenalnya selama ini?

Aku tahu coretan ini tidak akan tersampaikan padanya. Tetapi, bagaimanapun juga, aku tetap perlu menyampaikan permintaan maafku padanya karena kelancanganku yang tiba-tiba, seketika jatuh cinta pada dirinya.

Aku tahu baginya aku hanya teman berbagi cerita, berbagi tawa. Aku benar-benar menyadari bahwa aku tidak memiliki tempat khusus di kehidupannya.
Untuk itu, sekali lagi kutitipkan permintaan maafku pada angin malam ini, untuk lalu ia kirimkan ke dalam mimpi tidurnya.

Aku tahu ia tak menyadari betapa berartinya bagiku pertemuan malam itu. Sebuah pertemuan yang membawa kembali sinar harap ke sudut relung jiwaku yang telah lama tak berpendar.
Seperti apa yang sering aku katakan; semesta selalu hadir dan bekerja dengan rencana-rencananya yang tak terduga. Setelah sekian lama aku terjebak pada kejatuhan-kejatuhan yang menyesakkan dada, dimana aku tidak lagi mampu merasakan cinta dan kebencian, di saat itu kehadirannya menghujani hati yang lama kering, menghadirkan rindu yang lama tidak kurasakan.
Ia adalah oase di padang tandus.

Oleh karena pertemuan dengannya itu, aku merasa kehidupanku kembali layak untuk kuperjuangkan lagi. Mungkin, seperti sebelumnya, mungkin saja apa yang kurasakan ini hanyalah bayang semu yang tercipta dari fantasiku sendiri, tetapi seilusif apapun yang kurasakan, bagiku tidak lagi penting, yang terpenting saat ini aku akan terus menjaga perasasanku padanya. Setidaknya untuk merasakan kembali rasanya mencintai seseorang dengan tulus.

Yang jelas, perasaanku kali ini bertumbuh mekar tanpa pernah aku sirami. Perasaan yang hadir begitu saja setelah bertemu—mengenalnya lebih dalam dari yang sebelumnya.

Namun, perlu kuingatkan untuk diriku sendiri, meskipun sulit dalam realitasnya, tetapi bagiku mencintai bukanlah alat politik, ia adalah ketulusan, pengorbanan, sebuah ketetapan hati yang tak tergoyahkan oleh badai sekitarnya.
Tidak perduli baik dan buruk atau pergi dan ditinggalkan yang kudapati, aku hanya ingin rasa ini abadi.

Karenanya, apapun hasilnya nanti aku percaya bahwa cinta memiliki jalannya sendiri—bekerja dengan mekanisme yang sulit untuk dipahami, terlebih oleh pecundang seperti diriku.

Untuk itu, jika ia pergi dan tak kembali, aku berharap ia memberi sedikit waktu untukku dapat melukis segala tentang dirinya dalam ingatanku. Sedikit waktu untuk bersama dirinya, sedikit waktu, sedikit lagi untuk aku dapat mencintainya dengan segenap daya eksistensiku, sedikit lagi.

Sedikit lagi bersamanya.

Advertisements

Kekalahan Dalam Keabadian Dirinya

Hadirnya adalah ketidakpastian dari masa depan yang menjelma menjadi harapan. Harapan kosong nan-melelahkan, namun tak kunjung sirna. Sekalipun semesta di ambang kehancuran dan hidupku dipenghujung nafas kematian. Selama harapan ini masih ada, perasaanku pun tetap terjaga.

Aku tahu bahwa harapan selalu hadir tanpa aba-aba, ia menggerogoti relung rasaku yang kering dan haus. Aku tahu harapan seharusnya kuperjuangkan dengan kegigihan, hingga akhirnya aku dapat memberi yang terbaik bagi dirinya yang kuharapkan.

Tidak pernah terpikir olehku sebelumnya untuk berbalik dan menyerah. Namun, bagaimanapun, berjuta harap itu hanya akan menjadi sekedar ilusi hampa ketika ia yang kuharapkan tak bergeming bahkan tak perduli sama sekali.

Aku sejak lama selalu menganggap bahwa cinta memang selalu mengenai perjuangan. Individu-individu yang terikat oleh cinta, adalah mereka yang tetap berjuang meski menyadari kenyataan bahwa yang ia perjuangkan tidak memperdulikan bahkan tak menghiraukan dirinya.
Tetapi sejak beberapa tahun terakhir aku mulai menganggap bahwa semua itu memang benar adanya adalah omong kosong, produk dan nilai-nilai yang tercipta dari remaja yang enggan mengakui kekalahan dan kelemahan dirinya.

Tapi, mengapa ketika aku baru saja berpikir telah mampu untuk berharap kembali, justru aku menyadari bahwa ternyata semua itu hanyalah ilusi yang tercipta dari ketidaktahuan maluku yang semu? Namun, mengapa harapan kali ini terasa lebih mencabik perasaanku dari harapan-harapan sebelumnya? Mengapa kini aku takut menyirami harapan tersebut dengan angan-angan jumawa tengang cinta?
Mengapa aku justru diliputi ketakutan yang menembus sukma? Apakah karena aku begitu lama menanggalkan pengharapan pada diriku?

Entahlah,

Yang jelas, ketakutan yang ter-realisasi, adalah merupakan sebuah mimpi buruk. Ketakutan akan menjadi baik-baik saja ketika ia tidak akan pernah tercapai. Seperti hal nya diriku sekarang, terus mencoba untuk merengkuh luka, dan berusaha untuk membangun kembali ketakutan dari harapan yang sebelumnya telah hilang karena tereduksi oleh waktu.

Namun, apapun hasil yang akan kudapat, aku percaya bahwa cinta yang paling baik, sama hal nya dengan sepucuk surat, adalah cinta yang tak terbalas.
Cinta semacam ini tak akan pernah tergerus oleh ganasnya waktu, bahkan jika waktu telah kehilangan maknanya, ketika yang tersisa hanyalah kehampaan. Cinta tetapla abadi.

Tentang Undangan Buka Bersama Dan Tanggung Jawab Pertemanan Di Dalamnya

 

bukber3

Omong kosong lainnya

Pertemanan itu seharusnya adalah hal yang spesial, seorang yang dapat melihat yang lainnya lebih dari apa yang terlihat. Mereka yang mampu melihat sesamanya lebih jauh dari hanya sebatas darimana ia berasal, seberapa elegan penampilannya, atau seberapa mewah kendaraannya. Seorang teman yang baik adalah mereka yang dapat melihat sesamanya lebih jauh dari masa depan. Mereka yang menerima apa adanya.
Melumat segala macam teori-teori ketidakmungkinan menjadi kemungkinan.

Undangan buka bersama tahun inipun tak kalah ramainya dengan undangan-undangan tahun sebelumnya, duapuluh lebih antrian dalam kanal SMS-ku yang belum sempat kubalas semua. Tidak, aku tidak berniat mengabaikan mereka yang menganggapku kawan, aku hanya selektif dalam memilih perihal semacam ini, karena bagiku momen buka bersama ini bukan hanya sekedar ajang bernostalgia ria sembari menghabiskan waktu dengan omongkosong.
Alasanku adalah karena sebagian dari undangan tersebut hanyalah berisi kumpulan orang yang hanya sekedar ingin menghabiskan uang mereka dengan makan-makan di luar rumah lalu mengisinya dengan tawa-tawa hambar.

Ada yang lebih esensial daripada sekedar euforia melepas rindu semacam itu.

Hal yang lebih penting bagiku dalam acara buka bersama adalah untuk melihat jalan seperti apa yang saat ini kawan-kawanku tempuh, dan untuk melihat mereka yang kini telah menikmati puncak kesuksesan dan yang sedang terpuruk dalam mendakinya.
Tentu aku tidak akan mampu merubah kehidupan seorangpun dari mereka yang terpuruk, maka dari itu hal yang paling utama dari buka bersama bagiku adalah keinginan untuk mempertemukan mereka yang beruntung dan kurang beruntung. Untuk saling bantu-membantu.

Keinginan terbesarku untuk melihat mereka melangkah di jalan yang sama, jalan yang dipenuhi bunga musim semi, menghirup semerbak wewangian bunga yang diterbangkan hembusan angin, lalu mengajak mereka yang sedang berada di jalan terjal ,  menyusuri bebatuan licin dan rapuh.
Aku ingin mereka bergenggaman tangan erat, mengulurkan ke yang membutuhkan, memapah bagi yang  kesakitan.

Namun tentu ini bukanlah kisah fiksi dengan akhir bahagia.

Kenyataannya, justru undangan dari mereka yang tidak kuharapkan lebih ramai dibanding beberapa acara buka bersama yang kuharapkan untuk terealisasi.
Mungkin mereka tidak lagi menganggap pertemanan sebagai hal yang luar biasa, atau juga karena sebagian mereka justru sungkan untuk hadir karena merasa tidak lagi punya kecocokan dengan yang lainnya; entah karena kini mereka merasa ada ditingkatan yang lebih tinggi atau mungkin juga karena merasa berada di tempat yang lebih rendah. Entahlah.

Yang jelas, apapun alasannya akan sama-sama menyakitkannya, bukan karena aku akan ditinggalkan, aku terluka karena hingga saat ini aku belum juga mampu mengemban tanggung jawab sebagai teman, yang bisa membantu meski tidak mereka minta.
Aku merasa sedang mengkhianati tanggung jawabku selama ini karena telah mengatasnamakan pertemanan.

Lalu, pada akhirnya, pencapaianku saat ini hanya kunikmati sendiri, angan-anganku hanya menyublim menjadi retorika-retorika imajinatif yang tidak dapat terealisasikan.

Aku teman yang gagal.

Tentang Rasa Yang Tumbuh Dari Kesadaran Dan Kesederhanaan

Parasnya cantik, namun tak teramat menawan jika mesti kubandingkan dengan wanita-wanita yang selama ini sempat singgah tuk menemani hari-hariku, terlebih jika aku harus menyandingkannya dengan seorang yang selama ini masih sering mengetuk dinding-dinding memoriku.
Bahkan, kedalaman refleksinya terhadap kehidupanpun tak berjarak remaja lainnya, tak ubahnya seperti gadis seusianya, tak hingga membuatku terkesan. Teramat biasa.
Barang tentu, ia juga bukan bagian dari anak kelas pekerja pongah yang mendambakan kegemerlapan borjuis, borjuasi kerdil yg gemar mencari-cari pengakuan akan eksistensi ditempat-tempat umum, tempat-tempat yang memaksa mereka mengeluarkan biaya yang tak sedikit (setidaknya menurutku), yang mereka kunjungi setiap hari.

Sedangkan ia, wanita ini, jujur, ia benar-benar sederhana, kukatakan, ia jauh dari apa yang dulu pernah kuharapan, tak sedikitpun ia mendekati kriteriaku sebelumnya. Namun justru ia yang tak terbayangkan ini, mampu memberiku kesan yang berbeda, ia dimataku, menjelmakan diri menjadi pembeda, mempesona, membuatnya melesat tinggi keatas melampaui wanita-wanita yang selama ini pernah kudekati.

Semesta hingga sekarang masih sama, ia dengan rencananya, memaksaku mementaskan drama diatas panggung kehidupannya yang dipenuhi humor tragis ini.

Entah bagaimana, ia yang semesta hadirkan terlambat dan tiba-tiba ini, mampu membuat kehidupanku seketika terasa begitu layak untuk kuperjuangkan kembali. Simpleksitasnya, justru mengajariku untuk mulai menghargai detail-detail terkecil kehidupan.
Setelah selama ini aku melewati begitu banyak kejatuhan-kejatuhan yang mencabik relung jiwa, dimana aku bertahan dengan kegilaan, mengais serakan-serakan perasaanku di dasar lumpur pesakitan (yang tercipta dari kenangan yang lalu), di saat itu pula, sosok wanita ini menjulurkan tangannya, membawaku keluar dari jurang penderitaan tersebut.

Ia, wanita yang diperkenalkan semesta padaku ini, membuatku kembali percaya bahwa ternyata kebahagiaan masih tersisa untukku, ia membuatku yakin bahwa kebahagiaan kerap hadir di dalam melodi-melodi yang tak terduga, sebuah dentuman yang menghentakkan skema kemonotonan hidup.

Ia hadir disaat aku dititk terendah, pada saat cinta, kebencian dan revolusi, bukan lagi alasan yang logis untukku melanjutkan kehidupan (atau retorika-retorika humanis lainnya), tapi hanyalah persoalan bagaimana mempersingkat kehidupanku, segera menuju neraka. Kematian.

Namun, saat ini, di ruang gelap berpendar cahaya monitorku ini, di tempatku menulis semua ini, setelah sekian lama, akhirnya aku ingin hidup lebih lama lagi, sedikit lebih lama, sedikit lagi hanya untuk menunggu notifikasi balasan percakapanku dengannya dari layar Handphonku ini.

Namun, setelah ini, apapun keputusannya, memberiku kesempatan ataupun ia ingin pergi menjauh sejauh mungki dariku, ataupun hanya menjadikanku seorang teman, aku tidak akan menuntut apapun. Ia terlampau banyak membantu, , menyadarkanku, menuntunku menemukan kacamata baru dalam memandang kehidupan ini.

Jadi, apapun itu, keputusannya adalah hal yang harus tulus kuterima.

Karena bagiku, cinta adalah kemampuan untuk melampaui dan menerima kegagalan-kegagalan, apapun bentuknya.

Lagipula, cinta tidak selalu ingin diperjuangkan, terkadang ia hanya ingin untuk pergi. Menghendaki kebebasannya sendiri.


ME

Bankbenkz

Bankbenkz

Know nothing

Personal Links

Verified Services

View Full Profile →

Archives

July 2018
M T W T F S S
« Jun    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Twitter

Follow KNOW NOTHING on WordPress.com

Blog Stats

  • 4,558 hits
Advertisements