Posts Tagged 'konsep'

Tentang Kehidupan: Penyerahan Diri

Sia-sia menghiasi pipimu dengan air mata dan percuma saja mulutmu melawan tak henti bicara, karena kehidupan ialah panggung dimana segala hal menjadi satu tak terkendali, sebuah keniscayaan untuk dihindari, karena hadirnya ialah kepastian itu sendiri.

Lantas ketika kau coba menaklukkan kehidupan, justru ia lah yang akan menelanmu dalam pusaran keputus-asaan, karena ia tak terlawan, kemaha-kuasaan tak terhingga yang hanya mengisyaratkan satu hal, yaitu penyerahan.
Menggempur yang tak tergempur, mengelak yang tak terelakkan bukan bentuk kekuatan, bukan pula perjuangan, apalagi kecerdasan, itu semua hanya menjelaskan satu hal; kenaifan sebuah ego.

Akan tetapi, sebuah kenisbian untuk benar-benar mengerti kehidupan, bahkan mungkin selama ini kita juga tak pernah menyadari apa yang sedang kita perjuangkan.

Namun, apapun itu, bagiku kehidupan tetaplah humor tragis yang memberi tangis namun juga tawa, bahkan menghadirkan bahagia kemudian mencerabutnya dengan penderitaan.

Akhirnya, satu-satunya hal masuk akal yang dapat dilakukan olehku saat ini adalah berdamai dengan kehidupan, untukku lalu mampu tertawa di atas kegetirannya.

Alih-alih menapikkan kehidupan.

Meluruskan Yang Tak Mungkin Lurus

Kusadari cakrawalaku terbatas, tapi andai saja sedari awal kau mau mendengar secuil konsep yang hendak kutawarkan mungkin kau tidak kan terburu-buru memutuskan menuduhku pengecut lalu mengandaskan hubungan saat itu.
Mungkin aku sedikit paham mengapa kau ingin melabeli hubungan kala itu, karena kita baru mengenal. Andai saja kau sadar bahwa semua yang kau pikirkan itu adalah tentang keresahan dirimu sendiri. Kau tidak mempercayaiku, dan tentu kau tak percaya dirimu sendiri. Padahal cinta adalah tentang saling percaya. Ia memberi bukan menerima. Maka ketika muncul setitik ketidak kepercayaan, apakah ia masih layak menjadi cinta?

Dan disini, meski kau tak pernah meminta dan tak ingin mendengar, tapi aku kan tetap menulis alasanku enggan melabeli sebuah hubungan dengan istilah “pacaran” adalah karena bagiku hubungan merupakan kensekuensi dari bertemunya dua resonansi rasa berbeda yang mampu selaras, ia tak memiliki bentuk pasti, ia adalah gelombang infinite. Buah kepercayaan.
Bukankah jika kita mencoba melabeli ketidak terbatasan hanya akan mereduksi keuniversalan makna? Dan bukankah pereduksian makna akan membawa sesuatu ke lingkup keterbatasan? Barang tentu sesuatu yang terbatas berarti tidak lagi universal, bebas, dan justru terkungkung, bukan?
Sadarkah kau itu semua bentuk paling vulgar dari ego? 

Lantas, ingatkah engkau ketika nadamu meninggi meminta status yang menurutmu sebagai penentu serius tidaknya sebuah hubungan kau sedang memaksakan egomu? Dan barang tentu kau tahu bahwa pemaksaan ego hanya akan membawamu ke jurang penyesalan?

Nona, tentu kau tahu cinta harusnya membebaskan pelakunya bukan mengikat dalam barisan kata-kata.

Ah, sudahlah. Cakrawalaku memang terbatas.


ME

Bankbenk

Bankbenk

Know nothing

Personal Links

Verified Services

View Full Profile →

Archives

Top Posts & Pages

August 2017
M T W T F S S
« Jul    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Twitter

  • hoamss ~ https://t.co/rrhG5tMCXM 4 days ago
  • "gimana caranya anak proletar bs nikah dengan putri bangsawan?" "Kawin lari! Culik! Paling!" — nenek moyang sasak 4 days ago
  • tanpa judul - Kau tau tentang masa laluku yang kelam, tapi, sayang- satu hal yang bahkan hingga saat ini... tmblr.co/ZOiBwt2OUKWsR 3 weeks ago
  • Coba main sedikit. Ajak ngobrol "rakyat-rakyat jelata" itu. Akrabkan diri, analisa mereka, lalu tarik kesimpulan. 3 weeks ago
  • Hanya krn kerja keras dpt menjadikan seseorang sukses (kaya), nggak lantas membenarkan stigma buruk tentang "orang miskin itu malas-malas", 3 weeks ago
Follow KNOW NOTHING on WordPress.com

Blog Stats

  • 3,135 hits