Posts Tagged 'konsep'

Dalam Lupa Ada Manusia

Ungkapan plato tentang manusia yang terkesan sulit untuk menemukan dirinya sebagai manusia, terdengar masuk akal bagiku. Tak tampak, tapi, desiran desire yang dikatakan Plato sebagai salah satu muasal manusia tersebut menciptakan mimpi-mimpi kejayaan kehidupan, lalu menjelma destruktif; menghancurkan diriku sendiri.

Aku menjadi pelupa ulung, membiarkan catatan masa laluku terus terulang sampai aku lelah dan letih kemudian bersandar untuk kembali menyegarkan hasrat tersebut, mengulangnya lagi agar aku kembali jatuh dan kalah. Karena bagiku, lupa tidaklah seburuk anggapan sebagian besar orang-orang. Justru di balik pertentangan itu, aku ingin terus melupa, biar ia menjadi sang penjaga, pengantar, menuju apa yang disebut kebaikan. Sebuah kelemahan yang bisa juga berarti ketulusan paling tinggi.

Dan sekarang aku akan kembali membenci, mencinta, sebagai alasan untuk dapat terus memelukmu, memeluk setiap dari mereka dalam hasrat yang kupikir mati namun masih menyala di kedalaman abisal yang gelap tak berpendar ini.
Biar segala kecamuk, pertikaian, dan pertumpahan darah dalam kemanusiaanku ini terus merongrong kedamaianku, aku akan terus mengulangnya. Kembali lupa.
Mengulik makna dari hasrat ini ditemani dirimu, juga mereka.

Dan kini, biarkan aku mencoba kembali menyelami lautan desire tentangmu, tentang mereka, melanjutkan hidup atau mati cepat, atau sebaliknya.

Advertisements

Tentang Kehidupan: Penyerahan Diri

Sia-sia menghiasi pipimu dengan air mata dan percuma saja mulutmu melawan tak henti bicara, karena kehidupan ialah panggung dimana segala hal menjadi satu tak terkendali, sebuah keniscayaan untuk dihindari, karena hadirnya ialah kepastian itu sendiri.

Lantas ketika kau coba menaklukkan kehidupan, justru ia lah yang akan menelanmu dalam pusaran keputus-asaan, karena ia tak terlawan, kemaha-kuasaan tak terhingga yang hanya mengisyaratkan satu hal, yaitu penyerahan.
Menggempur yang tak tergempur, mengelak yang tak terelakkan bukan bentuk kekuatan, bukan pula perjuangan, apalagi kecerdasan, itu semua hanya menjelaskan satu hal; kenaifan sebuah ego.

Akan tetapi, sebuah kenisbian untuk benar-benar mengerti kehidupan, bahkan mungkin selama ini kita juga tak pernah menyadari apa yang sedang kita perjuangkan.

Namun, apapun itu, bagiku kehidupan tetaplah humor tragis yang memberi tangis namun juga tawa, bahkan menghadirkan bahagia kemudian mencerabutnya dengan penderitaan.

Akhirnya, satu-satunya hal masuk akal yang dapat dilakukan olehku saat ini adalah berdamai dengan kehidupan, untukku lalu mampu tertawa di atas kegetirannya.

Alih-alih menapikkan kehidupan.

Meluruskan Yang Tak Mungkin Lurus

Kusadari cakrawalaku terbatas, tapi andai saja sedari awal kau mau mendengar secuil konsep yang hendak kutawarkan mungkin kau tidak kan terburu-buru memutuskan menuduhku pengecut lalu mengandaskan hubungan saat itu.
Mungkin aku sedikit paham mengapa kau ingin melabeli hubungan kala itu, karena kita baru mengenal. Andai saja kau sadar bahwa semua yang kau pikirkan itu adalah tentang keresahan dirimu sendiri. Kau tidak mempercayaiku, dan tentu kau tak percaya dirimu sendiri. Padahal cinta adalah tentang saling percaya. Ia memberi bukan menerima. Maka ketika muncul setitik ketidak kepercayaan, apakah ia masih layak menjadi cinta?

Dan disini, meski kau tak pernah meminta dan tak ingin mendengar, tapi aku kan tetap menulis alasanku enggan melabeli sebuah hubungan dengan istilah “pacaran” adalah karena bagiku hubungan merupakan kensekuensi dari bertemunya dua resonansi rasa berbeda yang mampu selaras, ia tak memiliki bentuk pasti, ia adalah gelombang infinite. Buah kepercayaan.
Bukankah jika kita mencoba melabeli ketidak terbatasan hanya akan mereduksi keuniversalan makna? Dan bukankah pereduksian makna akan membawa sesuatu ke lingkup keterbatasan? Barang tentu sesuatu yang terbatas berarti tidak lagi universal, bebas, dan justru terkungkung, bukan?
Sadarkah kau itu semua bentuk paling vulgar dari ego? 

Lantas, ingatkah engkau ketika nadamu meninggi meminta status yang menurutmu sebagai penentu serius tidaknya sebuah hubungan kau sedang memaksakan egomu? Dan barang tentu kau tahu bahwa pemaksaan ego hanya akan membawamu ke jurang penyesalan?

Nona, tentu kau tahu cinta harusnya membebaskan pelakunya bukan mengikat dalam barisan kata-kata.

Ah, sudahlah. Cakrawalaku memang terbatas.


ME

Bankbenk

Bankbenk

Know nothing

Personal Links

Verified Services

View Full Profile →

Archives

October 2017
M T W T F S S
« Sep    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Twitter

  • ketikung polisi lah, pilot lah, dokter lah. curang, mereka udah keren beraninya saingan sama manusia nirfaedah kek gua giniih... 6 hours ago
  • nasib dikhianatin terus, tuhan. yg khianat rata-rata yg bego-bego pula. itu berhasil bikin sy keliatan lebih bego dr mereka. tuhan. 22 hours ago
  • gut rain, nice kupi, and best song for read some books soundcloud.com/zaqie-ginandja… https://t.co/7MSrAmke9b 1 day ago
  • ujan seharian membawa kata-kata sendu, tapi belum cukup dingin untuk mendekap rindu. sedikit lebih dingin lagi, sedikit lagi... 1 day ago
  • ia abis abisan mnghina film dalam negeri, sementara itu masih bs menikmati filmfilm asia spt thai, jepun, korea, holwut etc etc. kontradiksi 2 days ago
Follow KNOW NOTHING on WordPress.com

Blog Stats

  • 3,274 hits