Posts Tagged 'kepercayaan'

Surat Untuk Matahari Yang Terenggut Tuhan

Selamat datang kembali nona penanam aster, mungkin semalam kau bosan terus-menerus mendengarku mengoceh. Aku terlampau bersemangat.
Ah, kau tentu tahu itu, aku yang masih saja selalu antusias meskipun kita kerap berjumpa di sepertiga malam.
Karena hanya kaulah yang selalu saja setia mendengar ceritaku, tidak perduli yang keluar dari mulutku hanyalah omongkosong. Aku tahu kau bosan, tapi kau masih saja duduk mendengarkan, masih saja menjawab pertanyaan-pertanyaanku yang tak bermakna.

Ah iya, ingatkah kau dimalam ketika aku bercerita tentang seorang wanita yang mungkin saja dapat menggantikan sosokmu untuk kesekian kalinya? Kau pun selalu tersenyum sukacita. Raut wajahmu yang ceria selalu mengisyaratkan berjuta cerita dan lalu kau pasti memberiku ucapan selamat, meyakinkan jika aku dapat menjalani hubungan tersebut.
Kau selalu saja percaya pada diriku ketika aku bahkan tidak lagi memiliki kepercayaan pada diriku sendiri.
Dan lalu untuk kesekian kalinya aku akan datang kembali dengan keluhan yang sama, bahwa ternyata aku salah lagi, dan kau pasti akan berujar “itu semua adalah jalan dari keseluruhan cerita, jalani saja”.

Bahkan hingga kini aku tak pernah benar-benar mengenal sosokmu, kau yang begitu tangguh, kau yang begitu setia, dan kau yang selalu menjadi matahariku terbenam.
Sampai kapan aku dapat lepas dari bayangmu? pada siapa aku dapat menemukan sosokmu? Sampai kapan aku harus mencari? Apakah ini juga adalah alur dari keseluruhan cerita?

Jika iya, maka aku ingin berhenti dari skema ini, aku terlampau lelah, aku terlanjur tenggelam dalam keselarasan ketidak sempurnaan dirimu, seperti yang sering kau ucapkan.

Aku tidak lagi ingin menjadi pemeran dalam pementasan apapun, toh di akhir cerita aku selalu menjadi pecundang yang dipecundangi. Pada akhirnya aku yang selalu kalah dan dikhianati.

Dengan begitu aku dapat mencumbu dirimu setiap saat datangnya sepertiga malam, dengan begitu kau akan abadi dalam pandanganku, dengan begitu aku tidak akan lagi pernah terluka oleh tipuan-tipuan dan pengkhianatan di luar sana. Dengan begitu aku tidak lagi perlu lelah mencari sosokmu pada yang lain. Bolehkah?

Tentu kau akan murung mendengar perkataanku ini, tentu kau kan kecewa, namun dimana lagi aku dapat menemukan seseorang yang mampu menyusutkan diriku ke ukuran mikrosopis dan berenang pada relung terkecil kolam hatiku?

Enam tahun kau pergi, tapi aku tidak yakin kehilanganmu, aku pun tidak yakin orang-orang yang mencintaimu kehilanganmu. Karena kau terlalu baik bagiku, kau terlalu baik bagi setiap orang yang mengenalmu.

Untuk itu, di sepertiga malam aku akan selalu membuka lebar pintu dan jendela kamarku, agar angin leluasa masuk membawa rindu.

Titip salamku untuk Tuhanmu yang pencemburu itu, Tuhan yang merenggut matahariku, yang mengambil lentera kehidupanku.

Salam rindu.

Advertisements

Tentang Pertemanan (II): Mereka Yang Pergi Dan Tak Kembali

Seringkali aku membayangkan bagaimana rasanya dikelilingi oleh setiap orang yang dulu pernah aku cintai, oleh orang-orang yang juga tulus mencintaiku.

Dimana kenyataannya, kawan-kawanku, orang-orang yang dulu kukenal kian hari makin terasa menjauh dengan alasan mereka masing-masing yang cukup membuat hatiku tergores. Namun selalu saja aku berusaha memakluminya meskipun aku sadar itu hanyalah kebohongan yang kuciptakan untuk menghibur kekhawatiranku sendiri.
Hal yang sia-sia memang, namun tetap saja kulakukan hanya untuk menjaga api harapanku pada kalian, lagipula aku tak sekuat itu untuk berhenti mempercayai kalian, mengubur kenangan yang pernah tercipta.

Mungkin aku yang terlalu naif, berpikir bahwa keadaan masih sama seperti dulu. Aku yang terlalu percaya diri bahwa aku masih menjadi bagian penting dari hidup kalian. Tentu ini semua kesalahanku, ketidak mampuanku dalam memahami pola kehidupan yang terus berputar dan bergerak maju.

Namun untuk saat ini, apapun yang kalian pikirkan, apapun yang kalian rasakan tidak lagi penting dimataku, aku hanya meyakini bahwa kalian yang pernah singgah dalam hidupku adalah juga bagian dari hidupanku. Aku selalu merasa beruntung pernah mengenal kalian.

Aku tidak sedang mengakimi siapapun. Jika memang harus, melupa saja, jangan lagi menoleh kebelakang, hapus semua tentang kita, tentangku. Tetapi izinkan aku untuk tetap mengukir setiap dari kalian dalam dinding-dinding memoriku. Memahat setiap detil kenangan indah yang pernah kalian berikan.

Aku masih dan akan terus mengharapkan kalian.
Kapanpun dan dimanapun kalian datang, pintu ketulusan ini kan selalu terbuka.

Aku rindu…

Catatan Bawah Tanah: Tentang Penderitaan Sebagai Kebutuhan dan Tujuan Manusia

With the ant-heap the respectable race of ants began and with the ant- heap they will probably end, which does the greatest credit to their perseverance and good sense…

— Fyodor Dostoyevsky

…Manusia adalah makhluk yang ceroboh dan aneh, seperti pemain catur yang mencintai proses permainannya, bukan tujuan dari permainannya.
Siapa tahu (tentu tidak ada yang tahu pasti) tujuan yang selama ini di kejar manusia di muka bumi ini berada pada proses usaha yang tak ada hentinya tersebut, artinya; proses adalah hidup itu sendiri, bukan pencapaian yang selalu di ekspresikan dengan sebuah formula dua kali dua menghasilkan empat, sedangkan positivitas seperti itu bukanlah hidup, tapi awal dari kematian.

Bagaimanapun, manusia selalu takut pada kepastian matematik semacam ini, dan saat ini pun aku mencemaskannya.

Kita tahu bahwa manusia tak henti-hentinya mencari kepastian matematis ini, ia menyebrangi lautan, ia mengorbankan nyawa demi usaha pencarian semacam ini, tapi aku yakin; bahwa sebenarnya ia takut untuk berhasil, takut akan keberhasilan yang menuntun dirinya menemukan yang ia cari. Ia merasa bahwa jika ia telah menemukan yang dicari maka tidak ada yang tersisa lagi untuk di lakukan, tak lagi memiliki tujuan.

Bagaimanapun, seseorang akan kebingungan ketika berhasil mendapatkan tujuannya. Ia menyukai proses pencapaiannya, tetapi tidak suka jika yang ia usahakan itu berhasil, dan itu, tentu saja sangatlah absurd, dalam hal ini; gila.

Kenyataannya, manusia adalah makhluk yang konyol; semua hal tentang mereka seolah-olah hanya berisi lelucon. Tapi kepastian matematis, bagaimanapun juga, adalah hal yang menyakitkan bagi mereka.
Dua kali dua menghasilkan empat bagiku tak lebih dari suatu kearoganan. Dua kali dua menghasilkan empat adalah bisai yang tidak etis, menghalangi jalan kita dengan kedua lengan bertumpu pada pinggang kemudian meludah.
Aku setuju dengan dua kali dua menghasilkan empat, tapi kita akan coba menerima segala kemungkinan yang dapat terjadi, maka dengan dua kali dua menghasilkan lima akan mungkin jadi sangat menarik.

Kenapa kau sebegitu yakinnya, so triumphantly; bahwa karena hal itu normal dan bagus—dengan kata lain, hanya karena keadaan kondusif dan menyenangkan—selalu akan mensejahterakan manusia? Apakah itu berarti sebuah kesalahan selalu tidak bermanfaat? Selalu sia-sia?

Bukankah manusia, sangat mungkin untuk mencintai hal lainnya bahkan selain kebahagiaan?. Siapa tahu ia juga menikmati penderitaan. Siapa tahu juga penderitaan baginya sama menggairahkannya seperti kebahagiaan.
Terkadang manusia juga dapat sangat mungkin mencintai sebuah penderitaan, inilah kenyatannya. Kita tidak butuh sejarah dunia untuk pembuktiannya; hanya dengan bertanya pada diri kita sendiri, bahwa kita manusia yang menjalani kehidupan tersebut.

Menurutku, adalah suatu sikap yang tidak tepat jika kita hanya berpikir tentang kebahagiaan, baik dan buruk justru kadang sangat menarik jika kita dapat menerimanya secara utuh. Aku tidak keberatan terhadap penderitaan ataupun kebahagiaan.

Seperti sebuah pementasan komedi yang tak pernah mementaskan tema penderitaan, misalnya; pada “Palace Of Crystal” sesuatu yang tak terbayangkan, menyangsikan penderitaan, penegasian—lalu apa manfaatnya pertunjukan semacam itu?

Pada kenyataannya  bahwa manusia tidak akan pernah mungkin terlepas dari penderitaan, kehancuran, dan kekacauan. Karena penderitaan ialah sumber kesadaran. Meski di awal aku berkata bahwa kesadaran adalah malapetaka terbesar manusia, namun aku tahu manusia sangat menghargainya dan tidak akan mau kehilangannya.
Kesadaran, misalnya, jauh lebih agung daripada dua kali dua sama dengan empat.

Begitu kita memperoleh kepastian matematis maka tidak ada lagi yang tersisa untuk dilakukan atau dipahami. Yang tertinggal untuk dikerjakan hanyalah memasukkan seluruh indra kita ke dalam sebuah botol lalu menyelam dalam kontemplasinya.

Sedangkan Jika kau tetap menjaga kesadaran, meski hasil yang diperoleh sama, setidaknya sesekali kita dapat menghukum diri sendiri, dan dengan ini, bagaimanapun juga akan membuat kita kembali hidup.  Walaupun cenderung reaksioner, hukuman fisik tentu akan lebih baik daripada tidak sama sekali.

Zarathustra: Hukum Lama dan Baru (9)

ADA sebuah delusi lama yang disebut baik dan jahat. Sampai kini, delusi ini telah berputar-putar sekeliling nabi-nabi dan astrolog-astrolog.

Pernah orang-orang percaya pada nabi-nabi dan astrolog-astrolog dan karena itu orang-orang percaya. “Segalanya adalah takdir: engkau akan, engkau harus!”.

Kemudian orang-orang mencurigai semua nabi dan astrolog-astrolog dan kerena itu orang-orang percaya: “Segalanya kebebasan: engkau bisa, karena kau kehendaki!”.

O Saudara-saudaraku, sampai kini yang ada hanya duga-dugaan, bukan pengetahuan, mengenai bintang-bintang dan masa depan dan karena itu selama ini hanya ada duga-dugaan bukan pengetahuan, mengani baik dan jahat!.

Tentang mempercayai

 

King Benny: Life is a risk.
Danny Snyder: I’m sorry?
King Benny: Life is risk.
Danny Snyder: Life is a risk.
King Benny: Um-huh.
Danny Snyder: A-huh.I haven’t been in here before. What do you need me to do?

— Sleepers

Ia berkata tidak bisa lagi mempercayai siapapun, bahkan keluarga dan kawan terdekatnya sekalipun.

Aku sedikit memahami tentang kekecewaannya, terlebih setelah mendengar bagimana pengorbanan yang ia lakukan dalam menjalin hubungan tersebut. Aku tidak jarang mendapati hal serupa. Dan aku juga tidak akan melarangnya untuk membenci mereka yang telah mengkhianatinya. Aku tidak akan menyalahkannya sama sekali.
Namun saat ia mulai menggeneralisasi semua orang sama saja, dalam hal ini adalah pembohong. Bahkan kawan dan keluarganya sendiri tidak lagi dapat ia percaya, tanpa kusadari reseptor otakku mulai membenci pernytaanya. Manusia macam apa yang tidak lagi mampu menyisakan sedikit ruang kepercayaan untuk orang terdekatnya sekalipun?
Apakah ia berpikir mampu bertahan hidup dengan keyakinan bahwa satu-satunya yang bisa ia percaya hanyalah dirinya sendiri? Menggelikan.

Mungkin juga aku begitu menentang pernyataannya karena aku mengenal dirinya sebagai seorang yang memiliki idealisme (aku benci menulis kata ini) dengan rasa optimisme (aku juga benci ini) yang tinggi, setidaknya begitulah yang aku dengar, yang keluar dari kerongkongannya beberapa waktu yang lalu.
Untuk kedua kalinya ia semakin menegaskan pernyataan sebelumnya dan sekarang ia semakin menggebu tentang prihal ia tidak lagi percaya sesiapapun hingga keluarga dan kawan terdekatnya sekalipun. Aku khawatir otaknya tidak sedang bekerja dengan baik atau mungkin memang tidak pernah bekerja sama sekali.
Bahkan aku yang dikenal sebagai seseorang pesimis dan skeptis yang membenci kehidupan modern ini sekalipun tidak pernah terpikirkan untuk benar-benar mampu menghilangkan rasa percayaku pada beberapa orang yang dengan tulus aku hormati. Mereka adalah kawan dan keluarga; seorang yang selalu ada dan mengerti resiprokal tanpa pernah kuminta.

Tidak lagi percaya pada sesiapapun adalah resolusi tahun baruku, ujarnya lantang. Kemudian ia lanjutkan dengan argumentasi yang di telingaku lebih terdengar persis seperti curahan hati remaja belasan yang merengek ditinggalkan wanitanya dengan alasan ia menemukan pria yang jauh lebih sempurna daripada pria menyedihkan, seperti dirinya.
Namun aku lega, mendengar omong-kosongnya membuatku berpikir jika ternyata menjadi pecundang yang tidak lagi memiliki resolusi seperti diriku ini adalah pilihan yang bijak. Setidaknya jika ia menjadi tolak ukurku.

Dan jika manusia seperti dirinya saja berani beresolusi, mungkin aku juga harus memberanikan diri.
Mungkin resolusi yang paling tepat bagi diriku adalah tidak lagi bertemu dengan bajingan-bajingan seperti dirinya serta omong-kosongnya yang memuakkan tersebut. Aku harap ia segera enyah sesegera mungkin dan musnah bersama resolusinya untuk aku dapat terus menikmati kepecundanganku dalam kedamaian. Atau mungkin ia hanya sedang ingin menunjukkan bahwa ia telah mempelajari banyak hal dari ditahun kemarin.

Tapi sudahlah, aku tidak perduli apapaun tentang dirinya. Dasar bajingan menyedihkan.


ME

Bankbenk

Bankbenk

Know nothing

Personal Links

Verified Services

View Full Profile →

Archives

December 2017
M T W T F S S
« Nov    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Twitter

  • Nggak ada tempat paling ramah selain forum bokep. 21 hours ago
  • kita baca buku yg beda. percaya sejarah yg beda. bahkan tempat kita beda. kenapa mesti risau ketika kita nggak satu tujuan? 1 day ago
  • seandainya yg dimuliakan syiah tuh adl Kafka, niscaya sy ini esktrimisnya. 1 day ago
  • Bayangin kalo alarm jg bs bikin tidur. 2 days ago
  • Gimana caranya kalian nonton film tanpa ngerokok sama sekali? 2 days ago
Follow KNOW NOTHING on WordPress.com

Blog Stats

  • 3,403 hits