Posts Tagged 'kawan'

Tentang Undangan Buka Bersama Dan Tanggung Jawab Pertemanan Di Dalamnya

 

bukber3

Omong kosong lainnya

Pertemanan itu seharusnya adalah hal yang spesial, seorang yang dapat melihat yang lainnya lebih dari apa yang terlihat. Mereka yang mampu melihat sesamanya lebih jauh dari hanya sebatas darimana ia berasal, seberapa elegan penampilannya, atau seberapa mewah kendaraannya. Seorang teman yang baik adalah mereka yang dapat melihat sesamanya lebih jauh dari masa depan. Mereka yang menerima apa adanya.
Melumat segala macam teori-teori ketidakmungkinan menjadi kemungkinan.

Undangan buka bersama tahun inipun tak kalah ramainya dengan undangan-undangan tahun sebelumnya, duapuluh lebih antrian dalam kanal SMS-ku yang belum sempat kubalas semua. Tidak, aku tidak berniat mengabaikan mereka yang menganggapku kawan, aku hanya selektif dalam memilih perihal semacam ini, karena bagiku momen buka bersama ini bukan hanya sekedar ajang bernostalgia ria sembari menghabiskan waktu dengan omongkosong.
Alasanku adalah karena sebagian dari undangan tersebut hanyalah berisi kumpulan orang yang hanya sekedar ingin menghabiskan uang mereka dengan makan-makan di luar rumah lalu mengisinya dengan tawa-tawa hambar.

Ada yang lebih esensial daripada sekedar euforia melepas rindu semacam itu.

Hal yang lebih penting bagiku dalam acara buka bersama adalah untuk melihat jalan seperti apa yang saat ini kawan-kawanku tempuh, dan untuk melihat mereka yang kini telah menikmati puncak kesuksesan dan yang sedang terpuruk dalam mendakinya.
Tentu aku tidak akan mampu merubah kehidupan seorangpun dari mereka yang terpuruk, maka dari itu hal yang paling utama dari buka bersama bagiku adalah keinginan untuk mempertemukan mereka yang beruntung dan kurang beruntung. Untuk saling bantu-membantu.

Keinginan terbesarku untuk melihat mereka melangkah di jalan yang sama, jalan yang dipenuhi bunga musim semi, menghirup semerbak wewangian bunga yang diterbangkan hembusan angin, lalu mengajak mereka yang sedang berada di jalan terjal ,  menyusuri bebatuan licin dan rapuh.
Aku ingin mereka bergenggaman tangan erat, mengulurkan ke yang membutuhkan, memapah bagi yang  kesakitan.

Namun tentu ini bukanlah kisah fiksi dengan akhir bahagia.

Kenyataannya, justru undangan dari mereka yang tidak kuharapkan lebih ramai dibanding beberapa acara buka bersama yang kuharapkan untuk terealisasi.
Mungkin mereka tidak lagi menganggap pertemanan sebagai hal yang luar biasa, atau juga karena sebagian mereka justru sungkan untuk hadir karena merasa tidak lagi punya kecocokan dengan yang lainnya; entah karena kini mereka merasa ada ditingkatan yang lebih tinggi atau mungkin juga karena merasa berada di tempat yang lebih rendah. Entahlah.

Yang jelas, apapun alasannya akan sama-sama menyakitkannya, bukan karena aku akan ditinggalkan, aku terluka karena hingga saat ini aku belum juga mampu mengemban tanggung jawab sebagai teman, yang bisa membantu meski tidak mereka minta.
Aku merasa sedang mengkhianati tanggung jawabku selama ini karena telah mengatasnamakan pertemanan.

Lalu, pada akhirnya, pencapaianku saat ini hanya kunikmati sendiri, angan-anganku hanya menyublim menjadi retorika-retorika imajinatif yang tidak dapat terealisasikan.

Aku teman yang gagal.

Advertisements

Tentang Pertemanan (II): Mereka Yang Pergi Dan Tak Kembali

Seringkali aku membayangkan bagaimana rasanya dikelilingi oleh setiap orang yang dulu pernah aku cintai, oleh orang-orang yang juga tulus mencintaiku.

Dimana kenyataannya, kawan-kawanku, orang-orang yang dulu kukenal kian hari makin terasa menjauh dengan alasan mereka masing-masing yang cukup membuat hatiku tergores. Namun selalu saja aku berusaha memakluminya meskipun aku sadar itu hanyalah kebohongan yang kuciptakan untuk menghibur kekhawatiranku sendiri.
Hal yang sia-sia memang, namun tetap saja kulakukan hanya untuk menjaga api harapanku pada kalian, lagipula aku tak sekuat itu untuk berhenti mempercayai kalian, mengubur kenangan yang pernah tercipta.

Mungkin aku yang terlalu naif, berpikir bahwa keadaan masih sama seperti dulu. Aku yang terlalu percaya diri bahwa aku masih menjadi bagian penting dari hidup kalian. Tentu ini semua kesalahanku, ketidak mampuanku dalam memahami pola kehidupan yang terus berputar dan bergerak maju.

Namun untuk saat ini, apapun yang kalian pikirkan, apapun yang kalian rasakan tidak lagi penting dimataku, aku hanya meyakini bahwa kalian yang pernah singgah dalam hidupku adalah juga bagian dari hidupanku. Aku selalu merasa beruntung pernah mengenal kalian.

Aku tidak sedang mengakimi siapapun. Jika memang harus, melupa saja, jangan lagi menoleh kebelakang, hapus semua tentang kita, tentangku. Tetapi izinkan aku untuk tetap mengukir setiap dari kalian dalam dinding-dinding memoriku. Memahat setiap detil kenangan indah yang pernah kalian berikan.

Aku masih dan akan terus mengharapkan kalian.
Kapanpun dan dimanapun kalian datang, pintu ketulusan ini kan selalu terbuka.

Aku rindu…

Tentang Yang Memisahkan, Kedai Kopi Pancing, Jl. Pemuda, Mataram, 9 Oktober 2016

7984

Dihadapan mereka, aku ingin lebih lama lagi

Kemarin malam, aku sedang berada di sebuah kafe, berhadapan dengan kawan-kawanku, berbicara sebanyak mungkin yang aku bisa karena aku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang sudah sukar kutemui, begitupun kawan-kawanku yang lain, mereka juga tampak bersemangat, mereka berusaha untuk tidak menyia-nyiakan tiap detiknya.

Namun, entah bagaimana mungkin aku yang sejak awal selalu beromongkosong dihadapan mereka seketika merasa nafasku tersengal, menyesakkan dada hingga tenggorokanku nyaris membisu sesaat setelah menyadari uluran tangan dari seorang kawanku sebagai bentuk ucapan selamat tinggal.
Pikiranku yang sebelumnya riuh kegembiraan tiba-tiba menjadi gusar oleh ingatan tentang peristiwa yang pernah kulalui bersama mereka selama hampir sepuluh tahun terakhir ini. Menyadari bahwa semua itu akan berakhir tepat di depan mataku, malam ini. Aku tak kuasa. Setan.
Aku enggan mengakuinya, tapi sejujurnya aku sangat lemah menghadapi perpisahan. Apapaun bentuknya.

Yang pasti dari malam itu, kami semua menyadari bahwa segalanya telah berubah, terombang-ambing dalam kengerian akan perpisahan dan kehilangan. Kami semua memikul tanggung jawab yang sama atas nama pertemanan.

Satu dari beberapa hal yang kusadari, bahwa waktu begitu menakutkan, selalu berada di pihak berlawanan untuk merenggut apapun yang kau miliki. Ia tak memiliki bentuk pasti, namun selalu siap memangsa setiap jiwa yang coba menghentikan dirinya. Ia hadir memburu setiap mimpi-mimpi manusia dan merubahnya menjadi kesia-siaan.

Ada apa dibalik waktu?
Saat kami baru saja dapat menikmati setiap momen intim pertemanan, ia memisahkan semua dari kami. Tidak sedikitpun belas kasih yang ia tunjukkan.
Waktu selalu memuakkan!
Paradoksnya semakin kita terobsesi mengejar waktu (dalam hal ini menghentikan, atau setidaknya memperlambat perputarannya), ia justru semakin menjauh, dan ketika menyadari bahwa kau tidak memiliki kuasa memanipulasi pergerakannya yang mengganti siang menjadi malam, kemudian mengembalikan matahari dari arah timur; adalah disaat kau telah di telan oleh waktu itu sendiri—lemah tak berdaya terkoyak olehnya yang tak pernah berhenti.

Dan parahnya lagi, beberapa orang tetap tak menyadari pergerakan waktu meski melihat sendiri kerutan-kerutan diwajah mereka atau merasakan organ-organnya mengalami penurunan kinerja. Seperti nervous system pada katak rebus yang tak menyadari bahwa ia sedang menghadapi kematiannya.

Atau mungkin akulah yang belum juga mengerti perihal waktu.

Tapi,

Drama kehidupan yang fana dan kita menjadi aktor maupun figuran di atas bumi sebagai panggungnya, mengalami kelahiran dan kematian yang begitu singkat. Kita tak diberikan kesempatan untuk bermimpi, atau mungkin juga semua yang kujalani ini hanyalah mimpi?
Mengapa segala sesuatunya tak pernah pasti bagiku? Mengapa aku tak sedikitpun menjadikan pengalaman-pengalamanku sebelumnya sebagai pelajaran? Berapa lama aku terjerembab dalam lumpur kebodohan? Bangsat.

Namun aku juga menyadari ini adalah bagian dari kehidupan. Alasan apapun yang ku ajukan tidak akan merubah apapun dari realitas yang kuyakini juga bentuk penderitaan. Karena bagiku hidup adalah akumulasi dari ketidakpastian dalam menelusuri arus pikiran kita sendiri.

Saat ini, hal yang dapat kulakukan untuk menarik diri dari kesadaran yang menyedihkan adalah dengan menipu diriku sendiri, menciptakan ilusi tentang perjuangan dan keyakinan bahwa setiap manusia memiliki kemampuan untuk merubah sesuatu yang buruk menjadi baik (optimisme).
Begitulah seharusnya aku menjalani hidup jika ingin menepis semua kenyataan-kenyataan yang hadir tiap hari, karena bagiku seilusif apapun kebahagiaan, ia tetaplah kebahagiaan.

Namun meski aku dapat melaksanakan semua itu, setiap tindakan yang keliru—dan ini pasti terjadi—akan membuat seluruh upaya, mudah ataupun sukar, akan gagal dan akhirnya aku harus kembali di titik nadir lagi.
Maka akhirnya, aku harus merelakan apa yang terjadi, tentang segala kejadian dalam perpisahan ini, menjadikan diriku sendiri menjadi benda mati yang dihanyutkan oleh arus.

Tiadanya rasa penyesalan yang mendalam, pendeknya meremukkan dengan tangan sendiri hantu-hantu kehidupan  yang memperkuat keheningan akhir yang timbul dari kesuraman yang tetap ada dan tak membiarkannya abadi. (Kafka)

7985

Kemudaian kami semua memandang ke arah kawanku yang tersenyum lirih, perlahan ia mulai menghilang diantara wajah-wajah yang melangkah, jauh di pelataran parkir kami melihat cahaya kuning redup menyapu berkas bayangan dirinya.

Dan akhirnya bukankah kita berhak untuk merasakan kehilangan, bukankah begitu seharusnya jiwa-jiwa yang rapuh yang berani mencinta?

Dan,

Sekarang akhirnya, kita menyadari

“kemana perginya waktu-waktu itu?”

Tentang mempercayai

 

King Benny: Life is a risk.
Danny Snyder: I’m sorry?
King Benny: Life is risk.
Danny Snyder: Life is a risk.
King Benny: Um-huh.
Danny Snyder: A-huh.I haven’t been in here before. What do you need me to do?

— Sleepers

Ia berkata tidak bisa lagi mempercayai siapapun, bahkan keluarga dan kawan terdekatnya sekalipun.

Aku sedikit memahami tentang kekecewaannya, terlebih setelah mendengar bagimana pengorbanan yang ia lakukan dalam menjalin hubungan tersebut. Aku tidak jarang mendapati hal serupa. Dan aku juga tidak akan melarangnya untuk membenci mereka yang telah mengkhianatinya. Aku tidak akan menyalahkannya sama sekali.
Namun saat ia mulai menggeneralisasi semua orang sama saja, dalam hal ini adalah pembohong. Bahkan kawan dan keluarganya sendiri tidak lagi dapat ia percaya, tanpa kusadari reseptor otakku mulai membenci pernytaanya. Manusia macam apa yang tidak lagi mampu menyisakan sedikit ruang kepercayaan untuk orang terdekatnya sekalipun?
Apakah ia berpikir mampu bertahan hidup dengan keyakinan bahwa satu-satunya yang bisa ia percaya hanyalah dirinya sendiri? Menggelikan.

Mungkin juga aku begitu menentang pernyataannya karena aku mengenal dirinya sebagai seorang yang memiliki idealisme (aku benci menulis kata ini) dengan rasa optimisme (aku juga benci ini) yang tinggi, setidaknya begitulah yang aku dengar, yang keluar dari kerongkongannya beberapa waktu yang lalu.
Untuk kedua kalinya ia semakin menegaskan pernyataan sebelumnya dan sekarang ia semakin menggebu tentang prihal ia tidak lagi percaya sesiapapun hingga keluarga dan kawan terdekatnya sekalipun. Aku khawatir otaknya tidak sedang bekerja dengan baik atau mungkin memang tidak pernah bekerja sama sekali.
Bahkan aku yang dikenal sebagai seseorang pesimis dan skeptis yang membenci kehidupan modern ini sekalipun tidak pernah terpikirkan untuk benar-benar mampu menghilangkan rasa percayaku pada beberapa orang yang dengan tulus aku hormati. Mereka adalah kawan dan keluarga; seorang yang selalu ada dan mengerti resiprokal tanpa pernah kuminta.

Tidak lagi percaya pada sesiapapun adalah resolusi tahun baruku, ujarnya lantang. Kemudian ia lanjutkan dengan argumentasi yang di telingaku lebih terdengar persis seperti curahan hati remaja belasan yang merengek ditinggalkan wanitanya dengan alasan ia menemukan pria yang jauh lebih sempurna daripada pria menyedihkan, seperti dirinya.
Namun aku lega, mendengar omong-kosongnya membuatku berpikir jika ternyata menjadi pecundang yang tidak lagi memiliki resolusi seperti diriku ini adalah pilihan yang bijak. Setidaknya jika ia menjadi tolak ukurku.

Dan jika manusia seperti dirinya saja berani beresolusi, mungkin aku juga harus memberanikan diri.
Mungkin resolusi yang paling tepat bagi diriku adalah tidak lagi bertemu dengan bajingan-bajingan seperti dirinya serta omong-kosongnya yang memuakkan tersebut. Aku harap ia segera enyah sesegera mungkin dan musnah bersama resolusinya untuk aku dapat terus menikmati kepecundanganku dalam kedamaian. Atau mungkin ia hanya sedang ingin menunjukkan bahwa ia telah mempelajari banyak hal dari ditahun kemarin.

Tapi sudahlah, aku tidak perduli apapaun tentang dirinya. Dasar bajingan menyedihkan.


ME

Bankbenk

Bankbenk

Know nothing

Personal Links

Verified Services

View Full Profile →

Archives

December 2017
M T W T F S S
« Nov    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Twitter

  • Nggak ada tempat paling ramah selain forum bokep. 21 hours ago
  • kita baca buku yg beda. percaya sejarah yg beda. bahkan tempat kita beda. kenapa mesti risau ketika kita nggak satu tujuan? 1 day ago
  • seandainya yg dimuliakan syiah tuh adl Kafka, niscaya sy ini esktrimisnya. 1 day ago
  • Bayangin kalo alarm jg bs bikin tidur. 2 days ago
  • Gimana caranya kalian nonton film tanpa ngerokok sama sekali? 2 days ago
Follow KNOW NOTHING on WordPress.com

Blog Stats

  • 3,403 hits