Posts Tagged 'gadis'

Ide Abstrak “Moralitas” Para Millenial: Pacaran Dan Pelacuran

“Pacaran” sebuah istilah yang umum digunakan untuk mengekspresikan sebuah hubungan terdengar tidak lebih baik dari kata “pelacuran”. Sebuah istilah yang bagiku semakin tampak sebagai bentuk pembenaran dari para moralis untuk melegitimasi hubungan seksual antara dua individu. Untuk terlepas dari pengadilan moral yang mereka ciptakan sendiri.

Disaat lawakan-lawakan dan meme-meme tentang kesendirian ramai di dunia maya, seolah-olah sendiri adalah hal yang menyedihkan, tidak memiliki tempat dan tidak lagi menjadi hal yang istimewa.
Justru di mataku, aku kasihan dengan mereka yang membanggakan pacaran (hubungan yang bagiku telah mengalami pereduksian makna yang sangat jauh) namun membenci pelacuran. Karena tampak bagiku perbedaan diantara keduanya hanyalah pada jangka waktu dan harga yang ditawarkan. Saat ini, kedua istilah tersebut sama-sama melayani hasrat seksual pasangannya; yang pacaran disewa (dalam bentuk hadiah tiket liburan ke luar negri) untuk kurun waktu relatif lama, sedangkan pelacuran memiliki waktu yang cenderung singkat dan dibayarkan langsung oleh sepotong kertas.

Meskipun memiliki kesamaan dalam esensi, namun ketidakadilan yang hadir sangatlah kontras; jika yang pacaran mendapat perlindungan ekslusif dan memiliki citra baik atau paling buruk tidak diakui, maka yang pelacur sering menerima kesewenang-wenangan dan direndahkan oleh orang-orang sekitarnya.

Naif jika kita berpikir hanya pelacur yang memiliki motif ekonomi dalam dorongan menjual diri, karena pada kenyataannya saat ini kita tinggal dalam dunia di mana penderitaan dan pengangguran merajalela, akan banyak orang yang akan menjalani profesi apa saja yang masih lowong; selama pacaran bisa menaikkan status sosial seorang, maka kebanyakan orang akan lebih memilih pacaran, karena pekerjaan ini tidak beresiko dan mendapat gaji lebih baik dari pelacuran.

Sering dipertanyakan, mengapa ia memililih pelacuran? mengapa ia tidak mencari pekerjaan lain?
Perlu dicatat, untuk satu hal, pelacur tidaklah memiliki kebebasan lebih dalam memilih seperti yang didapati pekerja pacaran, karena proporsi besar dari para pelacur, dulunya, adalah para pembantu rumah tangga. Tereksploitasi, diperbudak, lebih diperlakukan sebagai benda daripada manusia, tidak dapat mencari perkembangan pada nasibnya. Dari perbudakan rumah tangga dan menjadi subjek seksual, ia jatuh ke dalam perbudakan yang tidak lebih merosot. Lalu ide abstrak mengenai moralitas sama sekali bukan sebuah halangan.

Seorang pacar dan pelacur terkadang merasakan adanya perselisihan dan penolakan kepada pasangannya; tapi, ia tetap berada di bawah kekuasaannya dengan ketakutan, karena ia terus mempertahankan cengkeraman kepadanya untuk supaya ia tetap dapat menlanjutkan kehidupannya.

Bukan situasi moral dan psikologis yang membuat nasib para pelacur dan pacar berat untuk ditanggung. Kondisi material merekalah yang paling sering menyedihkan. Oleh karena itu akan sulit bagi seseorang menemukan pacar yang hadir dari teori-teori cinta.

Tapi pada akhirnya di mata para moralis; apapun alasannya, kebenaran selalu milik mereka.

Advertisements

Akhir Dari Sebuah Cerita Yang Berawal Dari Komedi

Lama sudah aku coba menghindari hubungan dengna wanita-wanita kota, dimataku sebagian besar dari mereka tampak makin buruk, terlihat bagaikan budak dari kehendaknya sendiri, terpenjara dalam hasrat eksistensinya yang tidak pernah terpenuhi. Tumbuh dalam budaya hedonisme yang menggerogoti kehidupan mereka.
Alasan yang membuatku mencoba hubungan dengan wanita-wanita yang bagiku tampak sederhana, seorang wanita dengan simplisitasnya sendiri, jauh dari keglamouran kota. Kupikir mereka akan mampu memberiku definisi baru tentang cinta, kacamata berbeda dalam mengarungi kehidupan, menyajikan kehangatan pada sebuah hubungan yang entah sudah berapa lama tidak lagi kutemukan dari wanita-wanita di sekitarku.

Namun kenyataannya semua itu hanyalah bayang imajiner yang tercipta dari persepsiku sendiri, hasil dari kebencianku yang sekian lama menumpuk atas kehidupan orang-orang di sekitarku.
Yang kudapati justru kekecewaan yang luar biasa hebat. Bukan cinta tak terbalas yang membuatku gundah. Ada hal lainnya yang tidak mampu kutuliskan dalam catatan absurd ini, sesuatu yang tidak dapat kusamakan dengan wanita-wanita yang selama ini pernah menemaniku.

Ada sekelebat memori merasukiku setiap kali aku mengingat dirinya. Bukan kenangan indah tentang matanya yang tajam, simpul senyumannya yang nampak anggun, atau segala lembut peluknya, hangat bersamanya. Namun memori yang hadir saat ini, memori yang ia tinggalkan ini membuatku merasa jika tubuhku tak lagi memiliki gravitasi. Melayang jauh tidak terbaatas. Tanpa jejak. Jiwaku datang dan pergi. Aku sesekali menarik dalam nafasku, tersenyum tipis diantara kegamblangan pikiranku.

Setelah semua hal yang terjadi, aku baru menyadari jika selama ini, ia menganggap keseriusanku tak berarti apapun, ia tidak peduli tentang ketulusan yang coba kuberi. Ia hanya hadir sekilas dikehidupanku, untuk menghakimi diriku yang buruk menjadi semakin buruk.

Dulu, ia lah yang membuatku berpikir jika masih ada oase di padang gersang yang terselimuti debu kegagalan. Kemudian kini ia juga lah yang mencerabut semua harapan yang selama ini ia berikan.
Lebih dari itu, ia juga yang membuatku salah menafsirkan tentangnya, membuatku malu pada diriku sendiri, dan menjadikanku tampak bodoh dan tidak tahu diri di hadapannya.

Aku merasa ia telah mengoyak luka yang selama ini ia torehkan, karena justru akulah yang terpaksa meminta maaf atas sesuatu yang ia ciptakan sendiri. Tapi aku memang harus melakukannya, sebagai ode kejujuranku kepadanya, dimana selama ini aku benar-benar tulus mencintainya sepenuh hatiku, dan perpisahan itu memang layak untuk berakhir baik, seperti saat aku baru mengenalnya. Untuk itu aku benar-benar ingin melihat kehidupannya kedepan menjadi lebih baik, menjadi wanita yang suatu saat mampu menjadi matahari untuk orang sekitarnya.

Untuk semua yang ia berikan kepadaku itu, aku hanya bisa menerimanya sepenuh hati. “Yasudahlah, aku tidak punya kuasa atasmu, kamu punya kehidupanmu sendiri, begitulah cara yang kamu pilih…”, ujarku pelan atas perlakuannya yang membuat nafasku terasa berat tercekat.

Tetapi bagiku ini adalah akhir yang sempurna, karena cerita yang berawal dengan komedi memang haruslah berakhir tragedi.

Kekalahan Dalam Keabadian Dirinya

Hadirnya adalah ketidakpastian dari masa depan yang menjelma menjadi harapan. Harapan kosong nan-melelahkan, namun tak kunjung sirna. Sekalipun semesta di ambang kehancuran dan hidupku dipenghujung nafas kematian. Selama harapan ini masih ada, perasaanku pun tetap terjaga.

Aku tahu bahwa harapan selalu hadir tanpa aba-aba, ia menggerogoti relung rasaku yang kering dan haus. Aku tahu harapan seharusnya kuperjuangkan dengan kegigihan, hingga akhirnya aku dapat memberi yang terbaik bagi dirinya yang kuharapkan.

Tidak pernah terpikir olehku sebelumnya untuk berbalik dan menyerah. Namun, bagaimanapun, berjuta harap itu hanya akan menjadi sekedar ilusi hampa ketika ia yang kuharapkan tak bergeming bahkan tak perduli sama sekali.

Aku sejak lama selalu menganggap bahwa cinta memang selalu mengenai perjuangan. Individu-individu yang terikat oleh cinta, adalah mereka yang tetap berjuang meski menyadari kenyataan bahwa yang ia perjuangkan tidak memperdulikan bahkan tak menghiraukan dirinya.
Tetapi sejak beberapa tahun terakhir aku mulai menganggap bahwa semua itu memang benar adanya adalah omong kosong, produk dan nilai-nilai yang tercipta dari remaja yang enggan mengakui kekalahan dan kelemahan dirinya.

Tapi, mengapa ketika aku baru saja berpikir telah mampu untuk berharap kembali, justru aku menyadari bahwa ternyata semua itu hanyalah ilusi yang tercipta dari ketidaktahuan maluku yang semu? Namun, mengapa harapan kali ini terasa lebih mencabik perasaanku dari harapan-harapan sebelumnya? Mengapa kini aku takut menyirami harapan tersebut dengan angan-angan jumawa tengang cinta?
Mengapa aku justru diliputi ketakutan yang menembus sukma? Apakah karena aku begitu lama menanggalkan pengharapan pada diriku?

Entahlah,

Yang jelas, ketakutan yang ter-realisasi, adalah merupakan sebuah mimpi buruk. Ketakutan akan menjadi baik-baik saja ketika ia tidak akan pernah tercapai. Seperti hal nya diriku sekarang, terus mencoba untuk merengkuh luka, dan berusaha untuk membangun kembali ketakutan dari harapan yang sebelumnya telah hilang karena tereduksi oleh waktu.

Namun, apapun hasil yang akan kudapat, aku percaya bahwa cinta yang paling baik, sama hal nya dengan sepucuk surat, adalah cinta yang tak terbalas.
Cinta semacam ini tak akan pernah tergerus oleh ganasnya waktu, bahkan jika waktu telah kehilangan maknanya, ketika yang tersisa hanyalah kehampaan. Cinta tetapla abadi.

Tentang Rasa Yang Tumbuh Dari Kesadaran Dan Kesederhanaan

Parasnya cantik, namun tak teramat menawan jika mesti kubandingkan dengan wanita-wanita yang selama ini sempat singgah tuk menemani hari-hariku, terlebih jika aku harus menyandingkannya dengan seorang yang selama ini masih sering mengetuk dinding-dinding memoriku.
Bahkan, kedalaman refleksinya terhadap kehidupanpun tak berjarak remaja lainnya, tak ubahnya seperti gadis seusianya, tak hingga membuatku terkesan. Teramat biasa.
Barang tentu, ia juga bukan bagian dari anak kelas pekerja pongah yang mendambakan kegemerlapan borjuis, borjuasi kerdil yg gemar mencari-cari pengakuan akan eksistensi ditempat-tempat umum, tempat-tempat yang memaksa mereka mengeluarkan biaya yang tak sedikit (setidaknya menurutku), yang mereka kunjungi setiap hari.

Sedangkan ia, wanita ini, jujur, ia benar-benar sederhana, kukatakan, ia jauh dari apa yang dulu pernah kuharapan, tak sedikitpun ia mendekati kriteriaku sebelumnya. Namun justru ia yang tak terbayangkan ini, mampu memberiku kesan yang berbeda, ia dimataku, menjelmakan diri menjadi pembeda, mempesona, membuatnya melesat tinggi keatas melampaui wanita-wanita yang selama ini pernah kudekati.

Semesta hingga sekarang masih sama, ia dengan rencananya, memaksaku mementaskan drama diatas panggung kehidupannya yang dipenuhi humor tragis ini.

Entah bagaimana, ia yang semesta hadirkan terlambat dan tiba-tiba ini, mampu membuat kehidupanku seketika terasa begitu layak untuk kuperjuangkan kembali. Simpleksitasnya, justru mengajariku untuk mulai menghargai detail-detail terkecil kehidupan.
Setelah selama ini aku melewati begitu banyak kejatuhan-kejatuhan yang mencabik relung jiwa, dimana aku bertahan dengan kegilaan, mengais serakan-serakan perasaanku di dasar lumpur pesakitan (yang tercipta dari kenangan yang lalu), di saat itu pula, sosok wanita ini menjulurkan tangannya, membawaku keluar dari jurang penderitaan tersebut.

Ia, wanita yang diperkenalkan semesta padaku ini, membuatku kembali percaya bahwa ternyata kebahagiaan masih tersisa untukku, ia membuatku yakin bahwa kebahagiaan kerap hadir di dalam melodi-melodi yang tak terduga, sebuah dentuman yang menghentakkan skema kemonotonan hidup.

Ia hadir disaat aku dititk terendah, pada saat cinta, kebencian dan revolusi, bukan lagi alasan yang logis untukku melanjutkan kehidupan (atau retorika-retorika humanis lainnya), tapi hanyalah persoalan bagaimana mempersingkat kehidupanku, segera menuju neraka. Kematian.

Namun, saat ini, di ruang gelap berpendar cahaya monitorku ini, di tempatku menulis semua ini, setelah sekian lama, akhirnya aku ingin hidup lebih lama lagi, sedikit lebih lama, sedikit lagi hanya untuk menunggu notifikasi balasan percakapanku dengannya dari layar Handphonku ini.

Namun, setelah ini, apapun keputusannya, memberiku kesempatan ataupun ia ingin pergi menjauh sejauh mungki dariku, ataupun hanya menjadikanku seorang teman, aku tidak akan menuntut apapun. Ia terlampau banyak membantu, , menyadarkanku, menuntunku menemukan kacamata baru dalam memandang kehidupan ini.

Jadi, apapun itu, keputusannya adalah hal yang harus tulus kuterima.

Karena bagiku, cinta adalah kemampuan untuk melampaui dan menerima kegagalan-kegagalan, apapun bentuknya.

Lagipula, cinta tidak selalu ingin diperjuangkan, terkadang ia hanya ingin untuk pergi. Menghendaki kebebasannya sendiri.

Tentang Perempuan: Makhluk Narsistik Dari Erotisme Yang Mengejar Kemustahilan

Untitled-1

Photo dan tulisan nggak berhubungan. Cuma pengen selipin photonya dia aja.

Cerita tentang seorang gadis muda, labil, angkuh, pemberontak, dan ketidakmampuan menguasai diri, tapi karena cinta ia dapat di jinakkan oleh seorang laki-laki bijak, adalah pola baku literatur-literatur murahan dan film-film murahan: kita, laki-laki maupun perempuan tahu bahwa ini adalah kisah yang klise. Penuh mong kosong.

Dalam realitasnya, yang kutahu adalah wanita sebagai mahluk narsistik dari erotisme, mereka bangga untuk menarik perhatian laki-laki, menimbulkan deifikasi (pengagungan) terhadap dirinya sendiri, tapi kemudian memberontak karena ia merasa terjebak di dalamnya.

Seperti seorang gadis yang kutemui, ia tampak malu-malu di hadapanku, namun juga berusaha menampakkan kekenesan (kegenitannya) dan keangkuhannya. Pandangan mataku yang seksama dari kakinya yang menyila panjang keatas paha hingga rambutnya yang lurus terurai membuatnya merasa tersanjung sekaligus juga menyakitinya secara simultan; ia hanya ingin yang ia tunjukkan saja untuk di lihat: namun ia lupa bahwa mata laki-laki adanya selalu liar.

Karena inkonsistensi seperti inilah yang membuatku atau mungkin sebagian laki-laki bingung dan was-was: ia para wanita memperlihatkan kejenjangan leher, betis, dan pahanya, namun ketika bagian-bagian tubuh tersebut dipelototi, wajahnya merah padam, membuatnya jengkel, lalu menuduh laki-laki tak bermoral.
Selain itu, ia wanita juga menikmati gairah laki-laki, tetapi saat ia sadar bahwa ia telah membangkitkan berahi seorang pria, ia justru menjadi muak.

Aku mengalihkan pandanganku pelan,

Lalu, kami memulai obrolan ringan panjang lebar yang hingga akhirnya aku mendapati kusimpulkanku sendiri tentangnya; saat itu ia beranggapan bahwa cinta sebagai pengalaman subjektif yang abstrak, tanpa ancaman terhadap integritasnya; ia merasakan emosi rindu, harapan, kepedihan, tetapi tanpa keterlibatan nyata; semakin jauh laki-laki yang di pujanya, semakin bagus baginya: seseorang yang menemaninya sehari-hari mungkin lebih baik tidak atraktif—namun figur di luar jangkauannya lebih baik yang tampan dan maskulin.
Yang penting, entah dengan cara ini atau yang lain, unsur realitas harus di pisahkan, dengan demikian ia dapat memperpanjang sikap narsistik dari erotismenya tetap ada, tanpa kehadiran nyata sosok yang lain.

Meski ia tahu bahwa keinginan atas hal yang mustahil inilah yang membuatnya terjerembab dalam jurang kegagalan; kondisi ini dengan begitu jelas menunjukkan sikap yang belum matang, kekanak-kanakan dan suka melawan demi melindungi dirinya. Tidak begitu mengherankan jika banyak gadis muda yang selamanya menjadi tidak mampu memahami cinta nyata dan sempurna. Dan mungkin ada benarnya jika wanita di gambarkan sebagai makhluk yang setengah liar, setengah jinak.

Dan pada akhirnya, sepanjang hidup—mereka mencari keidealan yang mustahil untuk di wujudkan.


ME

Bankbenk

Bankbenk

Know nothing

Personal Links

Verified Services

View Full Profile →

Archives

December 2017
M T W T F S S
« Nov    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Twitter

  • Nggak ada tempat paling ramah selain forum bokep. 21 hours ago
  • kita baca buku yg beda. percaya sejarah yg beda. bahkan tempat kita beda. kenapa mesti risau ketika kita nggak satu tujuan? 1 day ago
  • seandainya yg dimuliakan syiah tuh adl Kafka, niscaya sy ini esktrimisnya. 1 day ago
  • Bayangin kalo alarm jg bs bikin tidur. 2 days ago
  • Gimana caranya kalian nonton film tanpa ngerokok sama sekali? 2 days ago
Follow KNOW NOTHING on WordPress.com

Blog Stats

  • 3,403 hits