Posts Tagged 'gadis'

Tentang Rasa Yang Tumbuh Dari Kesadaran Dan Kesederhanaan

epitaf

pemanis aja

Parasnya cantik, namun tak teramat menawan jika mesti kubandingkan dengan wanita-wanita yang selama ini sempat singgah tuk menemani hari-hariku, terlebih jika aku harus menyandingkannya dengan seorang yang selama ini masih sering mengetuk dinding-dinding memoriku.
Bahkan, kedalaman refleksinya terhadap kehidupanpun tak berjarak remaja lainnya, tak ubahnya seperti gadis seusianya, tak hingga membuatku terkesan. Teramat biasa.
Barang tentu, ia juga bukan bagian dari anak kelas pekerja pongah yang mendambakan kegemerlapan borjuis, borjuasi kerdil yg gemar mencari-cari pengakuan akan eksistensi ditempat-tempat umum, tempat-tempat yang memaksa mereka mengeluarkan biaya yang tak sedikit (setidaknya menurutku), yang mereka kunjungi setiap hari.

Sedangkan ia, wanita ini, jujur, ia benar-benar sederhana, kukatakan, ia jauh dari apa yang dulu pernah kuharapan, tak sedikitpun ia mendekati kriteriaku sebelumnya. Namun justru ia yang tak terbayangkan ini, mampu memberiku kesan yang berbeda, ia dimataku, menjelmakan diri menjadi pembeda, mempesona, membuatnya melesat tinggi keatas melampaui wanita-wanita yang selama ini pernah kudekati.

Semesta hingga sekarang masih sama, ia dengan rencananya, memaksaku mementaskan drama diatas panggung kehidupannya yang dipenuhi humor tragis ini.

Entah bagaimana, ia yang semesta hadirkan terlambat dan tiba-tiba ini, mampu membuat kehidupanku seketika terasa begitu layak untuk kuperjuangkan kembali. Simpleksitasnya, justru mengajariku untuk mulai menghargai detail-detail terkecil kehidupan.
Setelah selama ini aku melewati begitu banyak kejatuhan-kejatuhan yang mencabik relung jiwa, dimana aku bertahan dengan kegilaan, mengais serakan-serakan perasaanku di dasar lumpur pesakitan (yang tercipta dari kenangan yang lalu), di saat itu pula, sosok wanita ini menjulurkan tangannya, membawaku keluar dari jurang penderitaan tersebut.

Ia, wanita yang diperkenalkan semesta padaku ini, membuatku kembali percaya bahwa ternyata kebahagiaan masih tersisa untukku, ia membuatku yakin bahwa kebahagiaan kerap hadir di dalam melodi-melodi yang tak terduga, sebuah dentuman yang menghentakkan skema kemonotonan hidup.

Ia hadir disaat aku dititk terendah, pada saat cinta, kebencian dan revolusi, bukan lagi alasan yang logis untukku melanjutkan kehidupan (atau retorika-retorika humanis lainnya), tapi hanyalah persoalan bagaimana mempersingkat kehidupanku, segera menuju neraka. Kematian.

Namun, saat ini, di ruang gelap berpendar cahaya monitorku ini, di tempatku menulis semua ini, setelah sekian lama, akhirnya aku ingin hidup lebih lama lagi, sedikit lebih lama, sedikit lagi hanya untuk menunggu notifikasi balasan percakapanku dengannya dari layar Handphonku ini.

Namun, setelah ini, apapun keputusannya, memberiku kesempatan ataupun ia ingin pergi menjauh sejauh mungki dariku, ataupun hanya menjadikanku seorang teman, aku tidak akan menuntut apapun. Ia terlampau banyak membantu, , menyadarkanku, menuntunku menemukan kacamata baru dalam memandang kehidupan ini.

Jadi, apapun itu, keputusannya adalah hal yang harus tulus kuterima.

Karena bagiku, cinta adalah kemampuan untuk melampaui dan menerima kegagalan-kegagalan, apapun bentuknya.

Lagipula, cinta tidak selalu ingin diperjuangkan, terkadang ia hanya ingin untuk pergi. Menghendaki kebebasannya sendiri.

Tentang Perempuan: Makhluk Narsistik Dari Erotisme Yang Mengejar Kemustahilan

Untitled-1

Photo dan tulisan nggak berhubungan. Cuma pengen selipin photonya dia aja.

Cerita tentang seorang gadis muda, labil, angkuh, pemberontak, dan ketidakmampuan menguasai diri, tapi karena cinta ia dapat di jinakkan oleh seorang laki-laki bijak, adalah pola baku literatur-literatur murahan dan film-film murahan: kita, laki-laki maupun perempuan tahu bahwa ini adalah kisah yang klise. Penuh mong kosong.

Dalam realitasnya, yang kutahu adalah wanita sebagai mahluk narsistik dari erotisme, mereka bangga untuk menarik perhatian laki-laki, menimbulkan deifikasi (pengagungan) terhadap dirinya sendiri, tapi kemudian memberontak karena ia merasa terjebak di dalamnya.

Seperti seorang gadis yang kutemui, ia tampak malu-malu di hadapanku, namun juga berusaha menampakkan kekenesan (kegenitannya) dan keangkuhannya. Pandangan mataku yang seksama dari kakinya yang menyila panjang keatas paha hingga rambutnya yang lurus terurai membuatnya merasa tersanjung sekaligus juga menyakitinya secara simultan; ia hanya ingin yang ia tunjukkan saja untuk di lihat: namun ia lupa bahwa mata laki-laki adanya selalu liar.

Karena inkonsistensi seperti inilah yang membuatku atau mungkin sebagian laki-laki bingung dan was-was: ia para wanita memperlihatkan kejenjangan leher, betis, dan pahanya, namun ketika bagian-bagian tubuh tersebut dipelototi, wajahnya merah padam, membuatnya jengkel, lalu menuduh laki-laki tak bermoral.
Selain itu, ia wanita juga menikmati gairah laki-laki, tetapi saat ia sadar bahwa ia telah membangkitkan berahi seorang pria, ia justru menjadi muak.

Aku mengalihkan pandanganku pelan,

Lalu, kami memulai obrolan ringan panjang lebar yang hingga akhirnya aku mendapati kusimpulkanku sendiri tentangnya; saat itu ia beranggapan bahwa cinta sebagai pengalaman subjektif yang abstrak, tanpa ancaman terhadap integritasnya; ia merasakan emosi rindu, harapan, kepedihan, tetapi tanpa keterlibatan nyata; semakin jauh laki-laki yang di pujanya, semakin bagus baginya: seseorang yang menemaninya sehari-hari mungkin lebih baik tidak atraktif—namun figur di luar jangkauannya lebih baik yang tampan dan maskulin.
Yang penting, entah dengan cara ini atau yang lain, unsur realitas harus di pisahkan, dengan demikian ia dapat memperpanjang sikap narsistik dari erotismenya tetap ada, tanpa kehadiran nyata sosok yang lain.

Meski ia tahu bahwa keinginan atas hal yang mustahil inilah yang membuatnya terjerembab dalam jurang kegagalan; kondisi ini dengan begitu jelas menunjukkan sikap yang belum matang, kekanak-kanakan dan suka melawan demi melindungi dirinya. Tidak begitu mengherankan jika banyak gadis muda yang selamanya menjadi tidak mampu memahami cinta nyata dan sempurna. Dan mungkin ada benarnya jika wanita di gambarkan sebagai makhluk yang setengah liar, setengah jinak.

Dan pada akhirnya, sepanjang hidup—mereka mencari keidealan yang mustahil untuk di wujudkan.


ME

Bankbenk

Bankbenk

Know nothing

Personal Links

Verified Services

View Full Profile →

Archives

June 2017
M T W T F S S
« May    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Twitter

  • Yang miskin tak usah ngeluh, yang kaya tak perlu jg angkuh. Kompas kehidupan harusnya kematian, bukan pakaian lebaran 3 days ago
  • Banyak buku yg belom terbaca, tp masih pingin beli yg baru. Cobaan kelas menengah 6 days ago
  • Kita nggak cukup cerdas buat menilik rencana Tuhan kedepannya 1 week ago
  • Kita nggak cukup visioner buat ngerti kenapa Tuhan menggagalkan rencana kita 1 week ago
  • Setelah lumayan lama lewatin akhir baligh, rasa-rasanya gua lebih mungkin dpt dragon chuvash, drpd lailatur qadr 1 week ago
Follow KNOW NOTHING on WordPress.com

Blog Stats

  • 3,002 hits