Tentang Selingkuh Yang Tak Butuh Pembenaran Karena Hadirnya Tak Pernah Salah

Moralitas menjadi kata kunci dari pembahasan tentang perselingkuhan, perbuatan yang dianggap menyimpang dan merupakan kriminalitas. Para pelaku perselingkuhan akan mendapatkan pengadilan-pengadilan moral dari lingkungan sosialnya, di jauhi dan di asingkan. Standar moral ini mengikuti aturan mayoritas tanpa pernah menggali lebih jauh faktor pendorong apa yang menyebabkan seorang melakukan perselingkuhan. Juga perselingkuhan kerap kali berakhir dengan kekerasan fisik yang di terima oleh pelaku perelingkuhan.
Adalah sebuah kontradiksi yang jelas jika kita coba menggali fenomena kekerasan fisik yang di terima oleh pelaku perselingkuhan.

Tentu sebuah hubungan tak melulu tentang penderitaan, namun kebahagiaan bukan juga pagon yang tak berujung. Ia sembilu yang hadir dalam totalitasnya sebagai pencerabut kesedihan dan kebahagiaan bagi pencinta.
Namun kini, dari sudut pandangku yang selalu terbatas, tampak bagiku sebuah fenomena baru dimana pernyataan cinta bukan lagi tentang kesetujuan dua individu yang universal, pernyataan yang tidak lagi membuktikan validitas objektif sebuah putusan.

Pernyataan cinta yang hanya menjadi sebuah kata-kata kosong, para pelakunya mempertaruhkan akal sehatnya atas perasaan, menggadaikan rasionalitas atas hasrat seksual. Peranan rasa yang seharusnya membebaskan justru mengekang, rasionalitas berubah obsesi yang berlebih. Cita-cita dari mencinta kian tereduksi.

Memang, menyatakan cinta adalah hal yang mudah, tetapi pernyataan itu butuh bukti dan fakta. Sebagus dan secemerlang apapun kata yang mampu kau ucapkan, tidak akan memiliki nilai apapun jika terus membiarkan ego meluas.

Seperti pasangan yang memberi hukuman fisik ke pasangannya yang berselingkuh akan tampak bodoh di mataku. Mereka mengabaikan ke-universalan cinta, lalu memperluas ego. Karena bagiku cinta adalah tentang membebaskan, memberi sayap ke pasanganmu agar supaya ia dapat terbang tinggi menuju tempat terindah untuknya, bukan malah mendekapnya hanya supaya ia selalu di sampingmu tuk ikut menderita.

Pasangan yang berperan sebagai pengadil moral melupakan bahwa akibat selalu memiliki sebab, mereka mengabaikan faktor pendorong mengapa pasangannya melakukan perselingkuhan. Jika saja mereka mengakui bahwa faktor pendorong perselingkuhan adalah ia yang menjadi pasangan. Jika saja mereka menyadari perselingkuhan tersebut muncul dari ketidakmampuannya dalam mengayomi pasangannya. Barang tentu tak akan muncul isitilah perselingkuhan.
Namun mengakui kesalahan tentu hal yang teramat sulit jika dibandingkan dengan mencari kebaikan diri sendiri.

Dan akhirnya, bagiku cinta adalah tentang kebahagiaan pasanganmu; yang berarti bahwa penderitaan tak terelakkan darimu yang mencinta. Suatu keilusifan berpikir cinta jika kau masih menyalahkan pasanganmu atas tindakan perselingkuhan. Dan kebodohan menganggap cinta bila kekerasan fisik masih menjadi pilihan.

Tapi apapun yang kuutarakan, moral mayoritas selalu menjadi pengadil mutlak dan aku selalu di sudut kesesatan.

Advertisements

0 Responses to “Tentang Selingkuh Yang Tak Butuh Pembenaran Karena Hadirnya Tak Pernah Salah”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




ME

Bankbenk

Bankbenk

Know nothing

Personal Links

Verified Services

View Full Profile →

Archives

March 2017
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Twitter

Follow KNOW NOTHING on WordPress.com

Blog Stats

  • 3,060 hits

%d bloggers like this: