Catatan Bawah Tanah: Tentang Penderitaan Sebagai Kebutuhan dan Tujuan Manusia

With the ant-heap the respectable race of ants began and with the ant- heap they will probably end, which does the greatest credit to their perseverance and good sense…

— Fyodor Dostoyevsky

…Manusia adalah makhluk yang ceroboh dan aneh, seperti pemain catur yang mencintai proses permainannya, bukan tujuan dari permainannya.
Siapa tahu (tentu tidak ada yang tahu pasti) tujuan yang selama ini di kejar manusia di muka bumi ini berada pada proses usaha yang tak ada hentinya tersebut, artinya; proses adalah hidup itu sendiri, bukan pencapaian yang selalu di ekspresikan dengan sebuah formula dua kali dua menghasilkan empat, sedangkan positivitas seperti itu bukanlah hidup, tapi awal dari kematian.

Bagaimanapun, manusia selalu takut pada kepastian matematik semacam ini, dan saat ini pun aku mencemaskannya.

Kita tahu bahwa manusia tak henti-hentinya mencari kepastian matematis ini, ia menyebrangi lautan, ia mengorbankan nyawa demi usaha pencarian semacam ini, tapi aku yakin; bahwa sebenarnya ia takut untuk berhasil, takut akan keberhasilan yang menuntun dirinya menemukan yang ia cari. Ia merasa bahwa jika ia telah menemukan yang dicari maka tidak ada yang tersisa lagi untuk di lakukan, tak lagi memiliki tujuan.

Bagaimanapun, seseorang akan kebingungan ketika berhasil mendapatkan tujuannya. Ia menyukai proses pencapaiannya, tetapi tidak suka jika yang ia usahakan itu berhasil, dan itu, tentu saja sangatlah absurd, dalam hal ini; gila.

Kenyataannya, manusia adalah makhluk yang konyol; semua hal tentang mereka seolah-olah hanya berisi lelucon. Tapi kepastian matematis, bagaimanapun juga, adalah hal yang menyakitkan bagi mereka.
Dua kali dua menghasilkan empat bagiku tak lebih dari suatu kearoganan. Dua kali dua menghasilkan empat adalah bisai yang tidak etis, menghalangi jalan kita dengan kedua lengan bertumpu pada pinggang kemudian meludah.
Aku setuju dengan dua kali dua menghasilkan empat, tapi kita akan coba menerima segala kemungkinan yang dapat terjadi, maka dengan dua kali dua menghasilkan lima akan mungkin jadi sangat menarik.

Kenapa kau sebegitu yakinnya, so triumphantly; bahwa karena hal itu normal dan bagus—dengan kata lain, hanya karena keadaan kondusif dan menyenangkan—selalu akan mensejahterakan manusia? Apakah itu berarti sebuah kesalahan selalu tidak bermanfaat? Selalu sia-sia?

Bukankah manusia, sangat mungkin untuk mencintai hal lainnya bahkan selain kebahagiaan?. Siapa tahu ia juga menikmati penderitaan. Siapa tahu juga penderitaan baginya sama menggairahkannya seperti kebahagiaan.
Terkadang manusia juga dapat sangat mungkin mencintai sebuah penderitaan, inilah kenyatannya. Kita tidak butuh sejarah dunia untuk pembuktiannya; hanya dengan bertanya pada diri kita sendiri, bahwa kita manusia yang menjalani kehidupan tersebut.

Menurutku, adalah suatu sikap yang tidak tepat jika kita hanya berpikir tentang kebahagiaan, baik dan buruk justru kadang sangat menarik jika kita dapat menerimanya secara utuh. Aku tidak keberatan terhadap penderitaan ataupun kebahagiaan.

Seperti sebuah pementasan komedi yang tak pernah mementaskan tema penderitaan, misalnya; pada “Palace Of Crystal” sesuatu yang tak terbayangkan, menyangsikan penderitaan, penegasian—lalu apa manfaatnya pertunjukan semacam itu?

Pada kenyataannya  bahwa manusia tidak akan pernah mungkin terlepas dari penderitaan, kehancuran, dan kekacauan. Karena penderitaan ialah sumber kesadaran. Meski di awal aku berkata bahwa kesadaran adalah malapetaka terbesar manusia, namun aku tahu manusia sangat menghargainya dan tidak akan mau kehilangannya.
Kesadaran, misalnya, jauh lebih agung daripada dua kali dua sama dengan empat.

Begitu kita memperoleh kepastian matematis maka tidak ada lagi yang tersisa untuk dilakukan atau dipahami. Yang tertinggal untuk dikerjakan hanyalah memasukkan seluruh indra kita ke dalam sebuah botol lalu menyelam dalam kontemplasinya.

Sedangkan Jika kau tetap menjaga kesadaran, meski hasil yang diperoleh sama, setidaknya sesekali kita dapat menghukum diri sendiri, dan dengan ini, bagaimanapun juga akan membuat kita kembali hidup.  Walaupun cenderung reaksioner, hukuman fisik tentu akan lebih baik daripada tidak sama sekali.

Advertisements

2 Responses to “Catatan Bawah Tanah: Tentang Penderitaan Sebagai Kebutuhan dan Tujuan Manusia”


  1. 1 ina wahyu 08/02/2017 at 11:00 am

    mungkin mirip dengan sebuah ungkapan “nyaman dalam ketidaknyamanan ya” atau berbeda ya?
    terima kasih

    Like

    • 2 Bankbenk 09/02/2017 at 5:57 pm

      “Nyaman dalam ketidaknyamanan” dimata sy membuat km terlihat sedang meromantisasi penderitaan. Adalah garis tipis antara kenyamanan dan kebingungan ketika berpikir nyaman dalam ketidaknyamanan.

      Dan semua yg tertulis diatas adalah tentang kegelisahan, keabsurdan dan kebingungan pikiran manusia dalam memahami tujuan dari kehidupannya sendiri.

      Like


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




ME

Bankbenk

Bankbenk

Know nothing

Personal Links

Verified Services

View Full Profile →

Archives

February 2017
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728  

Twitter

  • ketikung polisi lah, pilot lah, dokter lah. curang, mereka udah keren beraninya saingan sama manusia nirfaedah kek gua giniih... 6 hours ago
  • nasib dikhianatin terus, tuhan. yg khianat rata-rata yg bego-bego pula. itu berhasil bikin sy keliatan lebih bego dr mereka. tuhan. 22 hours ago
  • gut rain, nice kupi, and best song for read some books soundcloud.com/zaqie-ginandja… https://t.co/7MSrAmke9b 1 day ago
  • ujan seharian membawa kata-kata sendu, tapi belum cukup dingin untuk mendekap rindu. sedikit lebih dingin lagi, sedikit lagi... 1 day ago
  • ia abis abisan mnghina film dalam negeri, sementara itu masih bs menikmati filmfilm asia spt thai, jepun, korea, holwut etc etc. kontradiksi 2 days ago
Follow KNOW NOTHING on WordPress.com

Blog Stats

  • 3,274 hits

%d bloggers like this: