Tentang Perspektif Hubungan Dan Perasaan Dalam Tatanan Sosial

Keadaan lingkungan, bagaimanapun juga, memiliki pengaruh yang substansial terhadap sudut pandang seorang.
Seperti halnya aku, dulu pikirku sia-sia saja mencoba mendekati gadis yang kusukai jika ternyata ia dari kelas yang lebih tinggi. Ningrat.
Menyebabkanku mengkategorikan kelas-kelas sosial kedalam ranah perasaan (hubungan), mengkotak-kotakkan mereka yang kaya dan miskin untuk menentukan sebuah kepantasan. Mungkin terdengar konyol dan trivial jika cinta harus menyerah pada tembok kasat mata; kelas-kelas sosial. Tetapi perspektif ini lumrah jika kau berasal dari desa pedalaman yang belum mengerti sedikit pun tentang pola tempat berkumpulnya masyarakat urban dan juga jika kau berada pada kelas terendah dari tatanan sosial yang ada. Dan sayangnya aku berasal hierarki terendah tersebut, yang akhirnya membentuk perspektifku.

Agak sulit menjabarkan apa yang dulu kupikirkan secara pasti, contohnya, jika seorang laki-laki menjalin hubungan dengan wanita dari kelas yang lebih tinggi darinya, maka faktor baru akan muncul: yaitu hubungan—bersifat tidak jelas—yang ia pertahankan bersama laki-laki tersebut. Sedangkan seorang perempuan yang merasa yakin sepenuhnya dengan keputusannya keluar dari lingkungannya adalah wanita yang yakin akan kemampuannya (kuat), dan wanita sejenis ini hanya menginginkan laki-laki sebagai teman dan sahabat; namun keyakinan seperti itu sulit ditemukan pada perempuan mana pun yang tidak memiliki minat yang sama dengan laki-laki, yang—dalam bisnis, aktivitas, atau seni—tidak bekerja dan meraih sukses.

Hingga kemudian pengalaman-pengalaman mengantarkanku pada perspektif berbeda, rentetan peristiwa yang mengubah keyakinanku pada mekanisme kelas sosial tersebut. Di mulai semenjak aku terdampar pada ranah privasi kelas menengah ke atas (mereka menyebut diri mereka borjuis) dan mulai sedikit mengerti perilaku kolektif masyarakat urban, dapat kukatakan hingga saat ini aku cukup sering menjalin hubungan semacam contoh diatas.

Seperti hubunganku yang kandas tahun lalu dengan wanita dari kelas yang jauh diatasku, tentu kami sadar perbedaan sudut pandang yang kan hadir, karena kami sama-sama tahu dimensi ruang yang membentuk karakter kami jelas berasal dari lingkungan yang berbeda pula.
Contoh kecil perbedaan yang tampak begitu nyata diantara kami adalah; jika aku bosan berada pada dasar hierarki sosial, maka kebosanannya justru pada kemewahan, ia dapat membeli gadget-gadget terbaru yang sungguh-sungguh tidak begitu ia butuhkan dengan harga belasan juta hanya dengan menggeser kartu kreditnya, membeli tiket-tiket konser dimanapun, namun ia mengaku hal itu tidak lagi dapat menjadi kesenangan. Sedangkan kondisiku tercermin sebagai kebalikan dari keadaannya. Aku ingat Handphone yang kugunakan enam tahun lebih membuatku tampak sebagai hipster dimatanya, aku hanya tertawa geli.
Ia merasakan kehampaan pada dirinya, kekosongan dalam setiap pekerjaan yang mengahasilkan tiap lembar uang dari bekerja dibawah kendali kapitalis (sebenarnya aku tidak begitu mempermasalahkan kapitalis atau apapun, aku hanya ingin menuliskannya). Sedangkan aku terseret pada kekosongan memandang jam yang monoton tiap kali aku menyadri ketidak-produktif-an diriku.
Ia membunuh waktu dengan kesenangan konyol dalam pengharapan, yaitu Fashion dan Shoping. Konsumerisme.
Semua yang dilakukannya adalah kebalikan realitasku.

Meski kuakui aku memang membenci pola hedonis dan konsumerisme semacam itu. Namun perbedaan itu tidak lantas memberiku hak untuk menyalahkannya (bahkan siapapun yang berbeda denganku), karena kami tumbuh dilingkungan yang jauh berbeda, selain itu, justru perbedaan itu bagiku tanggung jawab yang mesti kajalani (suka tidak suka) dari keputusanku membiarkannya masuk pada petualangan kehidupanku. Begitupun dengannya, lagipula yang terpenting ia menerimaku seutuhnya, pun menerima perbedaan.

Karena peristiwa-peristiwa seperti itulah aku mendapat kacamata baru terhadap segala sesuatunya, jika sebelumnya aku berpikir hubungan yang ideal haruslah berdasar pada pengklasifikasian kelas, keserasian haruslah berdasar pada kecocokan sosial maupun fisik, kini aku percaya bahwa yang terpenting darinya adalah penerimaan—kepercayaan setuhnya, bahwa batasan-batasan yang terproyeksi dalam bayang dimensi hanyalah pembenaran dari lemahnya resistensi tanggung jawab, hasil dari kesalahan pemaknaan tentang dimensi kelas-kelas sosial.

Meskipun akhirnya pada hubunganku itu ia memilih bersama pria berprofesi pilot (bukan hal baru, aku sudah terbiasa jika pasanganku berakhir didekapan pria-pria berseragam. Menjadi alasan personal untukku membenci mereka, meskipun tidak masuk akal).
Tetapi aku tidak ingin menyalahkannya sama sekali, yang terpenting adalah itu keputusannya sendiri, yang terbaik menurutnya.

Dan juga, dari dulu, aku tidak pernah sekalipun memaksakan hubungan. Jika ia ingin pergi, ia pergi. Jika ia ingin aku pergi, maka aku yang pergi.

Yang ingin kusampaikan masih sama, bagaimanapun pemujaan pada diri sendiri (narsisme) tidak mengubah realitas yang tertakdirkan.

Berkacalah.

Advertisements

0 Responses to “Tentang Perspektif Hubungan Dan Perasaan Dalam Tatanan Sosial”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




ME

Bankbenk

Bankbenk

Know nothing

Personal Links

Verified Services

View Full Profile →

Archives

January 2017
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Twitter

  • ketikung polisi lah, pilot lah, dokter lah. curang, mereka udah keren beraninya saingan sama manusia nirfaedah kek gua giniih... 6 hours ago
  • nasib dikhianatin terus, tuhan. yg khianat rata-rata yg bego-bego pula. itu berhasil bikin sy keliatan lebih bego dr mereka. tuhan. 22 hours ago
  • gut rain, nice kupi, and best song for read some books soundcloud.com/zaqie-ginandja… https://t.co/7MSrAmke9b 1 day ago
  • ujan seharian membawa kata-kata sendu, tapi belum cukup dingin untuk mendekap rindu. sedikit lebih dingin lagi, sedikit lagi... 1 day ago
  • ia abis abisan mnghina film dalam negeri, sementara itu masih bs menikmati filmfilm asia spt thai, jepun, korea, holwut etc etc. kontradiksi 2 days ago
Follow KNOW NOTHING on WordPress.com

Blog Stats

  • 3,274 hits

%d bloggers like this: