Metamorphosis: Di Depan Hukum

16991635-_sx540_

Di Depan hukum berdiri seorang penjaga pintu. Kemudian datang seorang dari desa kepada penjaga pintu tersebut meminta bertemu dengan hukum. Namun penjaga pintu berkata dia tidak dapat mengizinkannya masuk sekarang.
Laki-laki itu berpikir sejenak kemudian bertanya apakah nanti dia akan diizinkan masuk. “Mungkin”, jawab penjaga pintu, “namun bukan saat ini”.

Karena pintu gerbang menuju hukum selalu terbuka dan penjaga pintu berdiri di samping, maka laki-laki itu melongok ke dalam ruangan melalui gerbang yang terbuka itu. Ketika penjaga pintu melihat tingkahnya ia tertawa dan berkata, “jika hukum amat menggoda anda, maka cobalah melewati saya mesti telah saya larang. Tapi ketahuilah: saya orang kuat. Dan saya hanyalah penjaga pintu yang paling rendah. Setiap ruangan memiliki penjaga pintu, dans setiap penjaga pintu berikutnya lebih kuat daripada sebelumnya. Melihat yang ketiga saja saya bergidik.” Laki-laki desa tersebut tidak ingin menghadapi kesulitan semacam itu. Dia berpikir hukum seharusnya mudah dijangkau siapa saja, kapan saja.
Namun setelah melihat lebih dekat perawakan penjaga pintu itu; mantel dari bulu binatang, hidung yang besar dan runcing, dan jenggut Tartar yang panjang, jarang dan hitam, ia memutuskan sebaiknya menunggu saja sampai dizinkan masuk.

Penjaga pintu memberinya sebuah kursi dan membiarkannya duduk di salah satu sisi pintu. Disana ia duduk berhari-hari dan bertahun-tahun. Ia terus merengek dizinkan masuk sehingga penjaga pintu merasa terganggu dengan permohan-permohonan itu.
Penjaga pintu sering malakukan pemeriksaan-pemeriksaan kecil, menanyakan rumahnya dan banyak hal lagi yang sifatnya tidak personal seperti pertanyaan yang sering diajukan orang-orang besar mengenai martabat, dan penjaga pintu selalu menutupnya dengan mengulangi sekali lagi bahwa dia belum bisa mengizinkannya masuk.

Laki-laki itu telah membawa banyak harta dalam perjalannya dan sekarang ia menggunakan semuanya, bagaimanapun berharganya, untuk menyuap penjaga pintu. Penjaga pintu menerima semua yang diberikan, namun sembari menerima ia mengatakan: “Saya menerima saja agar anda tidak merasa belum berusaha sekeras-kerasnya”.

Bertahun-tahun laki-laki itu terus mengamati penjaga pintu tanpa henti. Dia lupa penjaga pintu yang lain, dan baginya penjaga pintu yang pertama ini merupakan penghalang satu-satunya yang menghalangi dia sampai kepada hukum.
Ia mengutuk nasibnya yang sial, dengan berang dan keras pada tahun-tahun pertama; kemudian sejalan dengan usia, ia hanya bergumam dengan dirinya sendiri. Ia menjadi kekanak-kanakan dan pengamatannya yang lama terhadap penjaga pintu bahkan menemukan kutu-kutu di kerah bulu mantelnya dan meminta kutu-kutu itu membantunya mengubah pikiran penjaga pintu.

Akhirnya pandangannya mulai kabur dan ia tidak tahu apa yang berubah, apakah sekelilingnya yang menggelap ataukah matanya yang mengelabui pandangannya. Namun ia masih merasakan dalam kegelapan ada pancaran yang keluar tak pernah mati dari pintu hukum itu.
Sekarang ia tidak dapat bertahan hidup lebih lama lagi. Sebelum kematiannya semua pengalaman mengenai tahun-tahun penantian yang lama tergambar lagi dalam pikirannya membentuk sebuah pertanyaan yang belum pernah ditanyakannya kepada penjaga pintu karena ia tidak lagi dapat mengangkat tubuhnya yang kaku. Penjaga pintu menunduk kepadanya karena perbedaan tinggi yang berubah dengan cepat pada laki-laki itu.
“Apa yang masih ingin anda ketahui?” tanya penjaga pintu, “anda adalah orang yang tidak pernah puas”.
“Tentunya setiap orang berusaha mencapai hukum”, kata laki-laki itu, “namun bagaimana mungkin selama bertahun-tahun ini tidak ada orang selain saya yang berusaha masuk?”

Penjaga pintu sadar, ia sedang menanti ajal dan agar suaranya terdengar di telinga yang mulai berkurang pendengarannya itu, ia mengeraskan suaranya dan berteriak: “Tidak ada seorang pun yang pernah memasuki pintu ini karena pintu masuk ini hanya diperuntukkan bagimu saja. Sekarang saya akan menutupnya”

Advertisements

2 Responses to “Metamorphosis: Di Depan Hukum”


  1. 1 Stpani 07/11/2016 at 10:42 pm

    Akhirnya…
    Tapi udah lama nih nggak bikin bundaran absurd. Segerakanlah benk

    Like


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




ME

Bankbenk

Bankbenk

Know nothing

Personal Links

Verified Services

View Full Profile →

Archives

November 2016
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Twitter

  • ketikung polisi lah, pilot lah, dokter lah. curang, mereka udah keren beraninya saingan sama manusia nirfaedah kek gua giniih... 6 hours ago
  • nasib dikhianatin terus, tuhan. yg khianat rata-rata yg bego-bego pula. itu berhasil bikin sy keliatan lebih bego dr mereka. tuhan. 22 hours ago
  • gut rain, nice kupi, and best song for read some books soundcloud.com/zaqie-ginandja… https://t.co/7MSrAmke9b 1 day ago
  • ujan seharian membawa kata-kata sendu, tapi belum cukup dingin untuk mendekap rindu. sedikit lebih dingin lagi, sedikit lagi... 1 day ago
  • ia abis abisan mnghina film dalam negeri, sementara itu masih bs menikmati filmfilm asia spt thai, jepun, korea, holwut etc etc. kontradiksi 2 days ago
Follow KNOW NOTHING on WordPress.com

Blog Stats

  • 3,274 hits

%d bloggers like this: