Tentang Yang Memisahkan, Kedai Kopi Pancing, Jl. Pemuda, Mataram, 9 Oktober 2016

7984

Dihadapan mereka, aku ingin lebih lama lagi

Malam kemarin, aku dan kawan-kawanku berada di sebuah kafe sekitaran Airlangga, Mataram, dengan meja yang memanjang memungkinkan kami duduk berhadap-hadapan. Seperti biasa, banyak hal yang kami bicarakan, dari hal remeh-temeh hingga cerita yang tak terceritakan.

Malam itu, entah bagaimana, aku yang sejak awal banyak bicara di hadapan mereka seketika terdiam, nafasku tersengal sesaat setelah menyadari sebuah uluran tangan dari seorang kawanku yang hendak berpamitan, meninggalkan kami.
Waktu terasa berhenti untuk sepersekian detik, puing-puing ingatan masa lalu menyusun dirinya, peristiwa yang pernah kulalui bersama mereka selama hampir sepuluh tahun terakhir terasa memenuhi kepalaku. Lalu menyadari bahwa semua itu akan segera berakhir, saat itu juga, tepat di depan mataku, aku tak lagi mampu berkata-kata.
Aku enggan mengakuinya, tapi jujur saja aku lemah menghadapi perpisahan. Apapaun bentuknya.

Yang pasti dari malam itu, kami semua tahu bahwa segalanya akan berubah dan memang telah berubah, kengerian akan sebuah perpisahan dan kehilangan.

Satu dari beberapa hal yang kusadari malam itu, bahwa waktu memang menakutkan, ia selalu memposisikan dirinya sebagai pihak yang berlawanan, menghancurkan kehendak mereka yang menantang. Waktu memang tak memiliki bentuk pasti, namun hadirnya selalu sebagai pencerabut setiap mimpi dan angan.

Ada apa dibalik waktu? Saat kami baru saja dapat menikmati momen intim pertemanan, ia justru hadir mencerabut semua kebahagiaan itu. Semakin kita terobsesi mengejarnya, ia justru semakin menjauh, dan ketika kita menyadari bahwa kita tidak memiliki kekuatan untuk melawannya; adalah di saat kita telah ditelan olehnya. Dan kebanyakan dari kita tetap tak menyadari pergerakan waktu meski telah melihat sendiri kerutan-kerutan di wajah kita.

Mungkin aku memang terlalu khawatir dengan waktu, tapi, bukankah waktu memang begitu adanya? Kita diberi kesempatan untuk bermimpi untuk kemudian ia hancurkan kembali? Bukankah karena waktu segala sesuatunya menjadi tak pernah pasti?
Entahlah.

7985

Yang jelas, malam itu, kami semua memandang ke arah kawanku yang berjalan dengan senyum lirihnya, perlahan ia mulai menghilang di antara wajah-wajah lain yang melangkah, jauh di pelataran parkir kami melihat cahaya kuning redup menyapu berkas bayangan darinya.

Dan akhirnya kami merasakan kehilangan, tapi begitulah seharusnya jiwa-jiwa yang rapuh yang berani mencinta.

Dan, sekarang, aku menyadari “kemana perginya waktu-waktu itu?”

Advertisements

0 Responses to “Tentang Yang Memisahkan, Kedai Kopi Pancing, Jl. Pemuda, Mataram, 9 Oktober 2016”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s




ME

Bankbenkz

Bankbenkz

Know nothing

Personal Links

Verified Services

View Full Profile →

Archives

October 2016
M T W T F S S
« Sep   Nov »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Twitter

Follow KNOW NOTHING on WordPress.com

Blog Stats

  • 4,414 hits
Advertisements

%d bloggers like this: