13.37; Dunia Model

…. Jasmine gets up, fills her glass with champagne, picks up a hot dog, and goes over to the window. She stands there in silence, looking out at the sea. Her story is different.

— Paulo Coelho, The Winners Stands Alone

Mereka para model tahu rutinitas mereka untuk menjaga kecantikan.
Sebelum tidur, mereka mengoleskan bermacam-macam krim untuk membersihkan pori-pori dan menjaga kulit merekat tetap lembab. Sejak dini, organisme kulit mereka menjadi tergantung pada bahan-bahan artifisial supaya tetap ideal. Pada pagi hari, mereka mengoleskan lebih banyak krim dan lebih banyak pelembab. Mereka minum kopi tanpa gula, lalu makan buah-buahan dan serat supaya semua makanan lain yang mereka konsumsi hari itu akan dengan mudah lewat. Lalu mereka malakukan beberapa senam peregangan tubuh sebelum berangkat untuk mencari kerja. Mereka terlalu muda untuk memulai fitness di gym, lagipula, mereka tidak mau tubuh mereka memiliki kontur maskulin. Mereka menimbang badan tiga sampai empat kali sehari. Bahkan kebanyakan diantara mereka membawa timbangan sendiri untuk jaga-jaga, karena kadang mereka harus tinggal di asrama dan bukan di hotel. Mereka depresi setiap kali jarum timbangan bahwa berat mereka naik satu ons.

Kebanyakan model-model baru berusia belia, tujuh belas atau delapan belas, jadi ibu mereka bisa ikut serta jika memungkinkan. Gadis-gadis itu tidak pernah mengaku punya pacar—sekali-pun sebagian besar punya—karena menurut mereka; cinta membuat tur terasa makin lama, makin sulit, dan membuat pacar-pacar mereka merasa akan kehilangan wanita (atau gadis) yang dicintai. Ya, gadis-gadis itu juga berpikir soal uang dan pendapatan rata-rata mereka lima juta/hari(atau disini satu sampai dua juta)—gaji yang cukup bikin iri untuk seseorang yang bahkan terlalu muda untuk punya SIM atau mengendarai mobil. Namun cita-cita mereka jauh melampaui karier model mereka sekarang; mereka sadar tak lama lagi akan ada wajah-wajah baru, trend-trend baru, jadi mereka harus segera menunjukkan bahwa mereka punya bakat lebih selain berjalan di catwalk. Mereka selalu mendesak para agen supaya bisa ikut tes kamera, agar mereka bisa menunjukkan bahwa mereka punya bakat untuk jadi aktris—impian terbesar mereka.

Para agen tentu saja setuju, tapi langsung menasihati agar mereka sedikit bersabar, lagi pula, karier mereka baru dimulai.

Kenyataannya, kebanyakan agen model tidak punya banyak koneksi diluar dunia fashion; mereka mendapat komisi sekian persen, bersaing dengan agen-agen lain, dan pasarnya tidak terlalu besar. Lebih baik meraup penghasilan sebanyak mungkin, sebelum waktu berlalu dan sang model mencapai umur dua puluh tahun. Itu batas usia berbahaya. Pada umur segitu kulitnya sudah rusak karena terlalu banyak pelembab, tubuhnya rusak akibat mengonsumsi terlalu banyak makanan rendah kalori, dan pikirannya terganggu gara-gara obat penghilang nafsu makan sehigga tatapan matanya kosong.

Tidak seperti dugaan orang, para model membayar pengeluaran mereka sendiri—tiket pesawat, hotel, dan salad yang wajib dikonsumsi itu. Mereka dipanggil oleh asisten desainer untuk ikut “casting”, yaitu pemilihan siapa yang akan tampil di catwalk atau difoto. Pada sesi-sesi tersebut, para model berhadapan dengan sekumpulan pemarah yang menggunakan sedikit kekuasaan yang mereka miliki untuk melampiaskan rasa frustasi pribadi dan tidak pernah menggunakan kata-kata sopan atau pujian: dua kata yang paling sering terdengar adalah  “Jelek” atau “Parah”.
Gadis-gadis itu meninggalkan tes tersebut dan pindah ke tes berikutnya, menggantungkan seluruh harapan mereka pada ponsel mereka, seakan benda tersebut akan menghadirkan wahyu ilahi atau setidaknya membuat mereka tetap terhubung ke Dunia Tingkat Tinggi yang ingin sekali mereka masuki. Dari sana mereka bisa menunduk ke bawah melihat wajah-wajah cantik lain, dan dari sana mereka akan berubah menjadi bintang.

Para orang tua bangga akan pencapaian putri mereka dan menyesali sikap awal mereka yang menentang karier tersebut; lagi pula, anak-anak perempua mereka menghasilkan uang dan membantu keluarga tersebut.

Pacar-pacar model tersebut gusar, namun menahan perasaan itu karena ego mereka terangkat saat orang-orang tahu mereka pacaran dengan model profesional. Agen-agen model tersebut bekerja menangani lusinan gadis seumuruan dengan fantasi-fantasi yang sama, serta sudah menyiapkan jawaban untuk hal-hal yang ditanyakan oleh semua gadis: “Bisakah aku ikut Fashion Week?” “Apa aku punya bakat menjadi bintang film?” Model-mdoel itu memiliki teman yang iri pada mereka—baik terang-terangan maupun diam-diam.

Model-model ini menghadiri setiap pesta yang mengundang mereka. Mereka berlagak penting sekalipun dalam hati berharap seseorang akan datang dan mendobrak benteng es palsu yang dibangun di sekeliling diri mereka. Mereka manatap pria-pria yang lebih tua dengan rasa tertarik dan jijik; mereka tahu pria-pria itu memiliki uang yang memungkinkan mereka melakukan lompatan besar, tapi pada saat yang sama, mereka tidak mau terlihat seperti pelacur kelas atas.

Mereka selalu tampil dengan satu tangan memegang segelas sampanye, tapi itu hanya imej yang ingin mereka tunjukkan. Mereka tahu alkohol bisa membuat berat badan naik, jadi mereka lebih memilih segelas air mineral biasa karena sekalipun air bersoda tidak berpengaruh pada berat badan, namun mengubah bentuk perut. Mereka semua punya prinsip, cita-cita, harga diri, tapi itu semua akan lenyap suatu hari nanti, saat mereka tidak lagi bisa menyamarkan tanda-tanda awal selulit.

Mereka bersumpah pada diri sendiri untuk tidak memikirkan masa depan.
Mereka menghabiskan sebagian besar penghasilan untuk membeli produk-produk kencantikan yang menjanjikan awet muda. Mereka menyukai sepatu, tapi harganya sangat mahal; tetap saja kadang-kadang mereka membeli sepasang sepatu yang paling bagus. Mereka membeli pakaian dengan separuh harga dari kenalan dunia fashion. Mereka tinggal di apartemen kecil bersama orangtua, saudara laki-laki yang sudah kuliah, serta saudari perempuan yang lebih memilih untuk menjadi pustakawati atau ilmuwan. Semua orang berasumsi model-model ini pasti kaya raya, jadi mereka sering meminjam uang. Gadis-gadis itu selalu mau meminjamkan karena mereka ingin terlihat penting, kaya, murah hati, dan berbeda dari menusia lain. Namun setiap kali ke bank, rekening mereka pasti dibawah saldo minimal dan mereka sudah melampaui batas pinjaman kartu kredit.

Para gadis ini mendapatkan ratusan kartu nama, bertemu banyak pria berpakaian necis yang membuat tawaran kerja yang mereka tahu palsu, namun sekali-kali mereka tetap menghubungi pria-pria itu untuk tetap menjaga kontak. Gadis-gadis itu sadar suatu hari nanti mereka mungkin butuh bantuan, sekalipun bantuan itu tidak gratis. Mereka semua jatuh ke dalam perangkap yang sama. Merea semua membayangkan kesuksesan instan, lalu sadar hal semacam itu tidak ada. Menginjak usia tujuh belas, mereka semua sudah jutaan kali dikecewakan, dikhianati, dipermalukan, namun mereka tetap percaya.

Mereka tidak bisa tidur karena berbagai macam pil yang mereka telan. Mereka sudah mendengar soal anorexia—penyakit paling umum di dunia mereka, semacam gangguan mental yang disebabkan oleh obsesi pada berat badan dan panampilan fisik sampai akhirnya tubuh menolak segala bentuk zat makanan. Mereka berkata penyakit itu takkan pernah menimpa mereka, tapi menyadari ketika gejala-gejala awalnya muncul

Dari masa kecil mereka langsung melangkah ke dunia gemerlap dan glamor, tanpa melewati masa remaja. Ketika di tanya apa rencana mereka untuk masa depan, mereka selalu siap dengan jawaban: “Aku akan kuliah filsafat. Aku bekerja hanya untuk membiayai kuliah”.

Mereka tahu itu bohong. Atau tepatnya, mereka sadar ada yang salah dengan kalimat itu, namun mereka tidak tahu di mana salahnya. Apa mereka sungguh mengingkan gelar sarjana? Apa mereka benar-benar membutuhkan uang untuk kuliah?

Mereka tidak sempat kuliah karena selalu ada sesi casting pada pagi hari, pemotretan pada siang hari, pesta koktail pada sore hari, lalu pesta lagi yang harus mereka hadiri supaya mereka bisa dilihat orang, dikagumi, ditaksir.

Di mata orang lain, kehidupan para model bak negeri dongeng. Untuk sementara, mereke juga percaya inilah makna hidup yang sesungguhnya; lagi pula, mereka nyaris memiliki segala hal yang dulu mereka inginkan saat melihat gadis-gadis yang tampil di majalah dan iklan kosmetik. Dengan sedikit disiplin, mereka bahkan bisa menabung sedikit uang, sampai akhirnya, setelah memeriksa kulit dengan hati-hati sebagai kegiatan harian, mereka menemukan tanda pertama yang disebabkan usia. Setelah itu, mereka tahu hanya masalah waktu sebelum seorang desainer atau fotografer memerhatikan hal yang sama.

Tinggal menghitung hari.

 

Advertisements

0 Responses to “13.37; Dunia Model”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




ME

Bankbenk

Bankbenk

Know nothing

Personal Links

Verified Services

View Full Profile →

Archives

June 2016
M T W T F S S
« May   Jul »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Twitter

  • ketikung polisi lah, pilot lah, dokter lah. curang, mereka udah keren beraninya saingan sama manusia nirfaedah kek gua giniih... 6 hours ago
  • nasib dikhianatin terus, tuhan. yg khianat rata-rata yg bego-bego pula. itu berhasil bikin sy keliatan lebih bego dr mereka. tuhan. 22 hours ago
  • gut rain, nice kupi, and best song for read some books soundcloud.com/zaqie-ginandja… https://t.co/7MSrAmke9b 1 day ago
  • ujan seharian membawa kata-kata sendu, tapi belum cukup dingin untuk mendekap rindu. sedikit lebih dingin lagi, sedikit lagi... 1 day ago
  • ia abis abisan mnghina film dalam negeri, sementara itu masih bs menikmati filmfilm asia spt thai, jepun, korea, holwut etc etc. kontradiksi 2 days ago
Follow KNOW NOTHING on WordPress.com

Blog Stats

  • 3,274 hits

%d bloggers like this: