Tentang Bahagia

It is difficult to find happiness within oneself, but it is impossible to find it anywhere else.
― Arthur Schopenhauer

Selama ini aku tidak pernah menulis tentang kebahagiaan bukan berarti aku gemar meromantisasi kesedihan itu sendiri, hanya saja ketika kesedihan hadir, aku memiliki hasrat lebih untuk menulis selain karena bercerita pada sembarang orang tidak pernah membantu menyelesaikan masalahku. Lagipula tidak semua orang mau (benar-benar mau) mendengarkan.

Dan jujur saja saat aku diminta menulis tentang hal semacam ini, sejak saat itu pula aku malah terjebak dalam kebingungan abisal, dan baru menyadari jika ternyata aku telah lama tergerogoti oleh keputus-asaan.

Banyak yang hal yang coba kulakukan untuk menemukan sesuatu yang berkaitan dengan kebahagiaan, seperti disaat aku berpikir menapaktilas ruang memori berdebu nan-gelap berharap menemukan secuil kebahagiaan tersebut.

Dan benar saja, saat aku baru melangkah dalam kontemplasi memoriku sendiri, aku menemukan secercah harapan bahwa aku akan menemukan apa yang kucari.
Aku dapati ruang kokoh estetis dengan cahaya kemilauan, kulihat didalamnya sekumpulan wajah-wajah familier, wajah-wajah manusia yang sangat kucintai. Mereka yang pernah hadir memberi tawa pada hidupku, mereka yang membentukku menjadi yang sekarang. Aku bahagia pada momen ini.
Memori yang hampir hilang dan berserakan berangsur menyusun dirinya menjadi gambaran yang semakin nyata dan semakin menyakinkan bahwa inilah kebahagiaan yang sedang kucari.

Tapi apakah ini berarti bahwa bahagia hanyalah sesuatu yang dapat dicapai pada masa lampau? Apakah bahagia adalah sesuatu yang tidak lagi dapat tersentuh? Apakah berarti ketika memori tidak lagi terkenang maka kebahagiaan tidak lagi muncul?
Tidak, aku tidak setuju tentang ini.

Aku menyeruput kopi yang mulai dingin untuk melupakan apa yang kupikirkan sebelumnya, lalu sejenak beranda-andai jika aku adalah sosok Don Corleone yang disegani setiap lawan dan kawan, seorang yang menakutkan namun juga dicintai, mendapatkan apapun yang kuinginkan. Benar-benar menjadi entitas paling berkuasa diatas muka bumi ini. Absolut
Apakah kemudian aku akan bahagia?
Mungkin.
Namun bukankah ini juga berarti ketidak mungkinan? Dan lalu bahagia hanyalah perandaian dan ilusi?
Ah aku rasa bukan, karena kenyataannya takdir tidak sebaik itu.

Apalagi yang harus kupikirkan untuk mendapat kebahagiaan?

Apakah menjadi sosok terkenal yang mengenakan pakaian desainer ternama dunia, dikagumi setiap orang, setiap bulan berkeliling eropa untuk berfoto sebagai penghias album media-sosialku, kemudian mendapat pujian dari setiap orang karena memiliki banyak penggemar dapat membuatku bahagia?
Apakah kebahagiaan harus senaif ini?
Aku rasa ini adalah bayangan paling memuakkan yang pernah terlintas dibenakku. Aku tidak tertarik hidup semacam ini, terlebih saat menyadari aku bukan siapa-siapa dari kumpulan kebukan siapa-siapaan.

Lantas, dimana kebahagiaan berada?
Apakah kebahagiaan memang abstrak?
Apakah kebahagiaan memang tidak dapat dicari?
Apakah kebahagiaan tidak berada pada dimensi ruang dan waktu yang kita tempati ini?
Dan mungkin mungkin benar adanya jika kebahagiaan hanyalah delusi yang hadir dari ketakutakan manusia akan realitasnya sendiri?

Aku tidak tahu, dan sepertinya tidak akan pernah tahu.

Seperti biasa, pada akhirnya apa yang kukerjakan selalu saja berujung kebuntuan, segala usaha yang kulakukan selalu saja berakhir pada kesia-siaan.

Pada akhirnya aku memutuskan untuk berhenti berpikir dan menyeruput kembali cangkir kopiku yang sudah sangat dingin. Aku menyerah.

Tapi,

tunggu,

Perasaa damai macam apa ini hingga tidak mampu kuutarakan?

Saat aku memutuskan berhenti dengan segala kegiatan yang kulakukan sebelumnya, saat aku berpikir untuk berhenti berpikir, saat hasrat untuk mendapatkan jawaban telah menguap bersamaan dengan asap rokok yang kuhembuskan ke udara, justru kedamaian yang sebelumnya teralihkan karena kegelisahan pikiranku sendiri dalam mencari kebahagiaan, datang menghampiri.
Justru saat aku tidak berpikir, aku mendapat ketenangan yang begitu ethereal.

Bingo! Benar ucapan seorang brengsek dengan jenggot buruknya yang telah lama mati dan aku rasa ia belum tenang didalam kuburnya sendiri; Bahwa kebahagiaan bukan melulu tentang menjadi sesuatu.

Konklusi yang kudapat dari pikiranku yang absurd ini adalah seringnya seorang menjerumuskan dirinya sendiri pada jurang ketidak-bahagiaan karena gairah yang terlampau besar dalam pencarian kebahagiaan itu sendiri, kemudian  menghiraukan detail-detail terkecil yang berharga lalu menjelmakannya menjadi kegelisahan.

Dan juga menurutku kebahagiaan tidak melulu soalan seberapa lebar mulutmu dapat terbuka saat tertawa, atau seberapa hebat kau membuat orang sekitarmu terkesima.
Hanyalah ilusi yang tercipta dari keterpkasaan.

Sejatinya bahagia hanyalah bahagia; gambaran paling sederhana dari penerimaan akan realitas yang hadir dihadapan kita, wajah paling lugu dari pelepasan hasrat akan kehendak.
Banyak kebahagiaan yang dapat kau temui dan seringnya menjadi momen yang terabaikan, seperti sesederhana kau menerima balasan chat dari wanita yang baru kau kenal, atau sesimpel mencium aroma rokok yang baru kau buka dari bungkusnya.

Dan disini tidak pula ada urusan kaya maupun miskin dengan kebahagiaan, karena terlepas dari materi, bahagia tidaklah memiliki bentuk pasti. Percayalah, kaya maupun miskin jika ia tidak merasa berkecukupan, bahkan kebahagiaan tak akan menampakkan batang hidungnya sekalipun. Karena merasa berkecukupan saja adalah satu bentuk kekayaan.
Bahkan bagi mereka yang terasing/kesepian sekalipun dapat dengan mudah berbahagia saat ia mampu menghargai arti kesunyian.
Kedamaian.

Lagipula kebahagiaan tidak hadir dari penilaian orang lain. Kebahagiaan adalah rasa yang muncul spontan saat kau mampu menghargai apapun yang hadir dihadapanmu.

Kebahagiaan adalah tentang merasa berkecukupan..

Bagimu bahagiamu, dan keheningan adalah bahagiaku.

————–

*Tapi pada akhirnya harus kuakui bahwa bahagia itu selalu insidental, tidak konstan dan hanya sementara, juga salah satu pintu menuju kegelisahan.

Tapi bukankah bahagia dan kesedihan adalah sesuatu yang membuat kita menjadi manusia? Tetap manusia?

Advertisements

2 Responses to “Tentang Bahagia”


  1. 1 angel 28/05/2016 at 1:17 pm

    Kapan ada waktu lagi buat berkopi ria? hehee

    Like


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




ME

Bankbenk

Bankbenk

Know nothing

Personal Links

Verified Services

View Full Profile →

Archives

May 2016
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Twitter

  • ketikung polisi lah, pilot lah, dokter lah. curang, mereka udah keren beraninya saingan sama manusia nirfaedah kek gua giniih... 6 hours ago
  • nasib dikhianatin terus, tuhan. yg khianat rata-rata yg bego-bego pula. itu berhasil bikin sy keliatan lebih bego dr mereka. tuhan. 22 hours ago
  • gut rain, nice kupi, and best song for read some books soundcloud.com/zaqie-ginandja… https://t.co/7MSrAmke9b 1 day ago
  • ujan seharian membawa kata-kata sendu, tapi belum cukup dingin untuk mendekap rindu. sedikit lebih dingin lagi, sedikit lagi... 1 day ago
  • ia abis abisan mnghina film dalam negeri, sementara itu masih bs menikmati filmfilm asia spt thai, jepun, korea, holwut etc etc. kontradiksi 2 days ago
Follow KNOW NOTHING on WordPress.com

Blog Stats

  • 3,274 hits

%d bloggers like this: