Ketiadaan Kehendak

wordpress1

ketika laut bergelombang, arah tak menentu, ombak menderu mengguncang, seorang pelaut duduk di dalam sebuah perahu dan memercaya tali layer yang rapuh: demikian di tengah sebuah dunia yang begungcang seorang anak manusia duduk tenang, di topang oleh dan dengan mempercayakan diri pada principium individuationis.

— Arthur Schopenhauer

Gelas yang mulai kosong, udara yang semakin dingin, dan keheningan yang mengejutkan saat tiba-tiba ia berbisik dalam gelap  malam;

“Kamu belum mengerti tentang Fatalis!”.

Masih gemetar dan dahiku mengkerut,
“Maksudmu?”,
“Tapi, jika harus jujur, aku memang selalu bodoh dalam menafsirkan segala sesuatunya…”,
ujarku lirih dalam bingung akan ketiba-tibaannya dan tanpa pernah kubertanya.

Tanpa omong-kosong ia segera berkata,

Dasar!. Begini, Fatalis itu berarti: percaya bahwa kamu tidak memiliki kemampuan untuk merubah apapun,”

“tidak lagi ingin melakukan apapun, tenggelam dalam lumpur ketidak-pedulian,”

“hilanglah hasratmu untuk memiliki harta melimpah, tidak juga kehormatan, pula kebanggan;”

“kamu tidak lagi memiliki bayang-bayang tentang sebuah pencapaian,”

“percaya jika dirimu tidak memiliki kekuasaan apapun; yakin bahwa dirimu tidak memiliki keahlian yang berguna. Binasalah semuanya karena ketidak-pedulianmu itu”.

Terangnya panjang lebar.

Sejenak aku terdiam dan berpikir,
“Apakah itu berarti aku tidak lagi memiki nafsu dan prasangka?”, tanyaku tanpa lagi memikirkan alasan kedatangannya.

“Tentu, karena bukanlah manusia jika mereka tak memilki nafsu dan prasangka”, jelasnya singkat.

Aku tak kuasa menahan senyumku dan hampir tertawa saat akan memberitahunya bahwa sepertinya aku mulai mengerti…
Lalu ia menyarankanku untuk segera merubah pola pikirku, bergerak dan melakukan sesuatu yang berguna. Perubahan.

“Carilah kelayakan. Jadilah manusia…”, semangatnya.

“Bukan, maksudku adalah; aku mengerti bahwa aku harus segera menjadi fatalis saat kamu menjelaskan bahwa fatalis juga berarti tidak harus memiliki nafsu dan prasangka…”, tegasku tanpa perduli ucapan terakhirnya.

Dan sebelum ia kembali tenggelam dalam cahaya, ia sempat menghardikku “Bodoh! Bahkan kamu tidak dapat mengerti sesuatu yang sangat sederhana!.”
“Ketiadaan-kehendak” adalah “Keputus-asaan!”.

“Tapi, bukankah hidup tanpa nafsu dan prasangka justru akan lebih baik…?”, gumamku bingung dalam heningnya sepertiga malam.

Advertisements

0 Responses to “Ketiadaan Kehendak”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




ME

Bankbenk

Bankbenk

Know nothing

Personal Links

Verified Services

View Full Profile →

Archives

March 2016
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Follow KNOW NOTHING on WordPress.com

Blog Stats

  • 3,060 hits

%d bloggers like this: