Tawa takdir

 

 

word1

Selamat pagi nona penanam aster, sebelumnya aku berencana segera memejamkan mata setelah buku yang cukup tebal milik Paulo Coelho ini tidak mampu kukhatamkan sejak malam tadi, namun seperti biasa, tanpa aba-aba pun siluetmu menyeruak diantara halaman tengah buku.

Setan! Buyar harapku, alih-alih mendapat dekapan hangat dari ilusifmu yang spontan ini, aku malah teringat tentang ceritamu beberapa saat yang lalu, tentangmu yang ditinggalkan oleh lelaki yang kau sayang (pikirmu), tapi setelah kupikir lagi, kau memang menyayanginya.

Aku menyadari sepenuhnya bahwa kita adalah ketidak-mungkinan, namun hanya karena ketidak-tahuan-maluanku terhadap planet-planet, semesta, dan terlebih dirimu, aku masih saja mengharapkan kesia-siaan. Tapi aku menyebut semua ini sebagai “pengorbanan“. Aku terdengar bodoh bukan? Begitulah ketetapan dewa-dewi brengsek!.

Sudahlah nona asterku, kau adalah kulminasi penduduk kahyangan yang Dewa jelmakan kedalam bentuk tubuh menawan, aku tak mau kelenjar lakrimalmu mengeluarkan air. Tidak saat kau sedang sedih, tidak juga saat kau kelilipan. Karena yang kukhawatirkan para malaikat akan kerepotan menghiburmu dan kemudian Apolion pun tidak lagi menyiksa.
Percayalah, dibandingkan malaikat dan iblis tersebut akulah yang akan lebih repot menghibur kehampaan nyata yang mengitari horizonku.

Tersenyum saja, tertawa saja. Selamanya. Asterku.
Jangan takut cibiran tetangga tentang menjadi gila, karena tanpa senyum dan tawamu itu, malah aku yang akan kau dapati menjadi gila.

Tunggu, buang jauh-jauh pradugamu, jangan dulu menuduh sesukamu seperti saat kau memutuskan melenyapkanku. Aku tidak sedang menggodamu untuk supaya kembali menjadi kekasihku, jadi istriku, terlebih ibu dari anak-anakku kelak.
Lagipula, aku tidak memiliki tulang rusuk sejak dewa-dewi tidak mengharap lahirku, lantas bagaimana mungkin kau adalah aku. Kita memang tertakdir tak pernah satu. Kau adalah surga dan aku Belphegor. Yang terusir sebelum sampai padamu.

Ini bukan tentang “engkau bisa, karena kau kehendaki!“, tapi “engkau akan, engkau harus!”.
Sekalipun aku tidak mengingatkanmu, kau pasti lebih manyadari tentang takdir memuakkan ini.
Aku lupa. Sengaja amnesia hanya supaya dapat mencium utopia. Mencumbu kemustahilanmu.

Aku merajut romantika lebay yang kubenci ini karena aku berharap mendapati lagi ceria lebay dari bibir merahmu itu.

Advertisements

3 Responses to “Tawa takdir”


  1. 1 Stpni 20/03/2016 at 8:36 pm

    ini perempuan mana lagi? di blog ini banyak perempuan

    Like

  2. 3 ask 22/03/2016 at 6:26 am

    beeeeeeeenkkk, ini mirip fotonya mrs M! bener?
    hhaa

    Like


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




ME

Bankbenk

Bankbenk

Know nothing

Personal Links

Verified Services

View Full Profile →

Archives

March 2016
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Twitter

  • ketikung polisi lah, pilot lah, dokter lah. curang, mereka udah keren beraninya saingan sama manusia nirfaedah kek gua giniih... 6 hours ago
  • nasib dikhianatin terus, tuhan. yg khianat rata-rata yg bego-bego pula. itu berhasil bikin sy keliatan lebih bego dr mereka. tuhan. 22 hours ago
  • gut rain, nice kupi, and best song for read some books soundcloud.com/zaqie-ginandja… https://t.co/7MSrAmke9b 1 day ago
  • ujan seharian membawa kata-kata sendu, tapi belum cukup dingin untuk mendekap rindu. sedikit lebih dingin lagi, sedikit lagi... 1 day ago
  • ia abis abisan mnghina film dalam negeri, sementara itu masih bs menikmati filmfilm asia spt thai, jepun, korea, holwut etc etc. kontradiksi 2 days ago
Follow KNOW NOTHING on WordPress.com

Blog Stats

  • 3,274 hits

%d bloggers like this: