Garis Akhir

Shadow-Bird-Everyday-Emily

 

Life is a perpetual struggle, accompanied by the certainty of being defeated — Arthur Schopenhauer

Apa yang aku capai hingga usiaku yang sekarang? Pertanyaan yang akan membawaku pada kenyataan bahwa aku adalah lelaki gagal dan terpuruk. Pecundang yang telah begitu banyak menerima kekalahan.
Tidak ada yang dapat aku banggakan untuk orang lain, keluarga, dan bahkan diriku sendiri.

Aku ingat beberapa hari yang lalu ketika aku bertemu kawanku di warung kopi pinggir jalan yang saat itu sedang hujan deras, ia bercerita tentang dirinya yang memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliahnya dan belum memutuskan untuk melakukan apapun. Aku hanya mendengarkan karena itulah tanggung jawabku sebagai seorang teman. Tapi aku yakin ia berbicara cukup banyak hingga tanpa sadar aku telah memesan gelas kopi yang ke-dua.

Hujan deras yang hampir membanjiri jalanan sempit di depan warung kopi tersebut baru saja reda, dan cuaca masih terasa sejuk. Asap tebal keluar dari mulutnya, jika aku tidak salah menafsirkan; ada kegelisahan dari setiap tarikan asap rokoknya.
Lalu ia kembali menyeruput kopi yang mulai dingin dan bertanya perihal masa depan dan tujuan akhir kehidupannya.
Jujur saja malam itu aku tidak mampu memberikan jawaban apapun karena aku memang tidak memiliki jawaban apapun, dan sebagai gantinya aku menyemangati dirinya, berusaha mendorong supaya ia dapat terus melanjutkan kehidupan yang layak sebagaimana mimpi yang ia cita-citakan sebelumnya (walaupun aku tahu itu tidak akan berarti apapun baginya). Karena sebagaimanapun aku membenci sebuah mimpi, namun hanya untuk seoarang kawan yang kukenal lebih baik dari pelajaran-pelajaran dikampusku, aku tidak akan sanggup menganjurkannya untuk berhenti bermimpi. Dan sepertinya pesimis seperti diriku masih dapat melimitasi kepesimisanku dihadapan kawanku.

Seperti kabanyakan remaja seusiaku, masa-masa dimana mereka diliputi oleh kegelisahan akan tujuan dan garis akhir. Ini adalah hal yang wajar. Walaupun mungkin bagi mereka yang merasa taat beragama bisa saja dengan mudah menjelaskan kepadaku dan kepada mereka semua seperti apa itu tujuan, apa saja yang dibutuhkan untuk mencapainya dan kapan saatnya tiba digaris akhir— tanpa bersusah payah memberikan argumentasi atau menjelaskan bagaimana mereka dapat sampai pada kesimpulan tersebut. Bentuk pandangan seperti ini yang kusebut sebagai bajingan dogmatis.
Sebagian dari kalian mungkin akan beranggapan bahwa aku terkesan menggampangkan agama, namun secara personal aku juga sangat menghormati mereka yang memiliki pengetahuan mendalam tentang agama yang mereka anut, mereka mempunya keyakinan dan aku menyukainya. Taat beragama yang aku benci disini adalah mereka yang Sok-Agamis lengkap dengan atribut keagamaan untuk dapat terlihat meyakinkan, yang pada dasarnya pengetahuan mereka dapati dari blog dan status-status facebook kacangan tanpa pernah berniat benar-benar mendalaminya. Kemudian mereka menjelmakan diri menjadi aktivis agama radikal yang gencar menybarkan isu-isu keagamaan tanpa pengetahuan apapun tentangnya di Timeline media sosial milik mereka. Dasar bajingan.

Tentang masa depan, tujuan, dan garis akhir, sebenarnya aku lebih mimilih untuk tidak membicarakannya terkecuali pada kawanku yang selalu ada beberapa belas-tahun terakhir, kawan yang mengerti resiprokal dan kawan yang dapat melihat diriku lebih dari hanya apa yang terlihat.
Lagipula, aku pikir hampir semua remaja seusiaku yang berbicara tentang tujuan akhir selalu berakhir pada perbincangan yang tidak jelas juntrungnya, dan diakhiri angan-angan ilusif yang tidak pernah terealisasi. Semua seolah menguap dihembuskan angin yang menerpa sekujur tubuh mereka.

Aku, alih-alih membicarakan tentang tujuan akhir, memikirkannya saja membuatku merasa sedang menyaksikan gabungan antara horor dan kisah percintaan yang tidak berakhir dengan bahagia.

Dan lagipula, apa itu tujuan? Tempat macam apa itu? Apa yang terjadi dikala kita sampai ke tujuan? Akankah kita menemukan titik akhir dari perjalanan panjang dan melelahkan ini? (Tida).
Bukan tidak mungkin mereka yang berusaha mencapai tujuan tersebut, pada akhirnya hanya akan menempuh setengah jalan, mati sia-sia karena keterburuan mereka menyimpulkan sebuah akhir, dengan kepercayaan palsu bahwa mereka telah sampai pada tujuan: ini dia, ini tempatnya, dan lalu melempar sauh, terlampau dini. Atau disisi lain, apa yang terjadi adalah sebaliknya, justru banyak dari mereka melempar sauhnya terlampau terlambat: tujuan yang semestinya mereka singgahi, telah jauh terlewat; pesona yang memikat, dari janji enigmatis akan sebuah tujuan yang noneksisten, malah membutakan mata mereka, dengan menimbulkan harapan palsu akan sebuah dunia indah diluar sana, saat pada kenyataannya, yang ada hanyalah padang pasir tandus, dimana tempat asal dari sumber suara yang memikat itu, justru adalah tempat yang merampas suara, tanpa ada nyanyian—hening dan kosong—tempat gersang dan kering dimana kesunyian, seperti halnya kegaduhan, turut diberangus. (Tida).

Saat ini, satu-satunya yang aku harap dapat kulakukan hingga perjalanan yang sekarang adalah dapat berbagi hal sekecil apapun bagi orang-orang yang ada disekitarku, orang-orang yang selalu ada ketika aku butuhkan bahkan saat-saat mereka tidak dibutuhkan. Tidak lebih.

Jujur saja sampai saat aku ini masih belum tahu tujuan dari perjalanan yang kutempuh. Dan mungkin juga tujuan memang tidak pernah ada karena ia hanyalah akumulasi waktu yang menyublim menjadi masa yang telah lalu. Ilusif.

Persetan garis akhir, kehidupan telah lama mati.

Advertisements

0 Responses to “Garis Akhir”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




ME

Bankbenk

Bankbenk

Know nothing

Personal Links

Verified Services

View Full Profile →

Archives

December 2015
M T W T F S S
« Nov   Jan »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Twitter

  • ketikung polisi lah, pilot lah, dokter lah. curang, mereka udah keren beraninya saingan sama manusia nirfaedah kek gua giniih... 6 hours ago
  • nasib dikhianatin terus, tuhan. yg khianat rata-rata yg bego-bego pula. itu berhasil bikin sy keliatan lebih bego dr mereka. tuhan. 22 hours ago
  • gut rain, nice kupi, and best song for read some books soundcloud.com/zaqie-ginandja… https://t.co/7MSrAmke9b 1 day ago
  • ujan seharian membawa kata-kata sendu, tapi belum cukup dingin untuk mendekap rindu. sedikit lebih dingin lagi, sedikit lagi... 1 day ago
  • ia abis abisan mnghina film dalam negeri, sementara itu masih bs menikmati filmfilm asia spt thai, jepun, korea, holwut etc etc. kontradiksi 2 days ago
Follow KNOW NOTHING on WordPress.com

Blog Stats

  • 3,274 hits

%d bloggers like this: