Aku; kepecundangan

Aku tidak benar-benar ingat sejak kapan aku menjelma menjadi pecundang, kegelisahan abstrak yang semakin solid mengitari horizon kehidupanku.
Sudah tidak mampu lagi mengingat mimpi-mimpi yang sebelumnya aku miliki, atau mungkin aku juga tidak benar-benar pernah mempunyai mimpi. Terkadang aku menjerit begitu keras dalam kebisuan ini hanya untuk memuaskan hasrat kepecundangan ini.

Aku benar-benar kehilangan kompas kehidupanku, aku tidak lagi ingat kemana akan melangkah dan untuk apa aku melangkah. Bahkan tentang eksistensi, aku telah lama melupakan hal tersebut, aku benar-benar tidak lagi memiliki hasrat akan getirnya euforia kehidupan. Aku benar-benar melupakannya.
Aku sering mendengar seberapa besar keinginan kawan-kawanku untuk menjadi seseorang yang dikenal banyak orang, setidaknya mampu menjadi manusia yang sukses katanya. Tentu aku tidak akan berkata tidak kepada mereka, karena aku juga turut bahagia ketika mereka, kawan-kawanku masih mempunyai mimpi, arah tujuan kehidupan. Dan aku akan mampu tersenyum puas jika mereka benar-benar menjadi apa yang mereka inginkan.
Disisi lain mereka, disisi tempat aku berada sekarang semuanya terasa begitu gelap, hampa tanpa gerak. Tiada mimpi, tiada hasrat dan tiada lagi yang mampu aku lakukan. Aku terkulai lemas, sekarat hampir mati.

Aku sering diingatkan tentang pentingnya suatu pengharapan, namun pengharapan seperti apa? Menjadi manusia seperti mereka? Manusia yang selalu berbicara omong kosong? Manusia yang selalu membicarakan seberapa banyak uang yang mampu mereka hasilkan? Manusia yang selalu beranggapan semuanya adalah persaingan? Manusia yang merasa tersakiti ketika sesamanya lebih unggul? Manusia yang bahkan merasa kesepian ketika malam tiba? Manusia yang menganggap dirinya tahu akan segala sesuatunya? Atau manusia yang merasa dirinya adalah pusat alam semesta? Tidak, aku tidak ingin menjadi mereka.
Aku tidak ingin menjadi mereka yang selalu beromong-kosong tentang betapa hebat dan spesial diri mereka. Aku benar-benar muak ketika mereka membicarakan seberapa mahal pakaian yang mereka kenakan, seberapa mewah mobil yang mereka kendarai, atau seberapa hebat penilaian yang didapatkan dari manusia sekitar mereka.

Aku hanya ingin menikmati getirnya kepecundangan, menjadi bukan siapa-siapa, dan hilang tanpa jejak. Melebur bersama sang Pencipta yang kemudian aku tidak pernah ada.

Advertisements

0 Responses to “Aku; kepecundangan”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




ME

Bankbenk

Bankbenk

Know nothing

Personal Links

Verified Services

View Full Profile →

Archives

May 2015
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Twitter

Follow KNOW NOTHING on WordPress.com

Blog Stats

  • 3,060 hits

%d bloggers like this: