Aku

“jika kau tidak tahu darimana asalmu, maka kau tak akan mengetahui kemana hendak pergi”

Nasib manusia berada di dalam situasi (etre-en-situation). Dengan rumusan lain; bahwa eksistensi dasar manusia pada dasarnya adalah berada di dalam dunia (etre-au-monde). Pernyataan yang mirip dengan pernyataan Heiddeger ketika menyatakan bahwa manusia adalah “in der-Welt-sein”. Dengan pernyataan tersebut, Marcel menunjukkan manusia sebagai ada yang menjelma (l’Etre incarne). Pengalaman dasar manusia sebagai ada yang menjelma tidak lain adalah intersubjektivitas.

Berdasar pada titik tolak filosofinya, yaitu la philosophie concrete, ia menyatakan bahwa orang harus hadir dan terlibat dengan situasinya sendiri. Apa yang ada di dalam realitas konkrit, harus hadir dalam kesadarannya. Pada gilirannya nanti, kesadaran itu akan menjelma dalam situasi tersebut. Oleh badanku, aku berdiri di tengah-tengah makhluk lain yang penuh dinamisme. Aku sebagai subjek yakni kesatuan badan dan jiwa, selalu berhubungan dan berkontak melalui tubuhku dengan alam semesta yang memperluas dan melipatgandakan daya-dayaku. Aku ada hampir selalu sama dengan alam semesta ada. Prinsip yang sama juga berlaku dalam bidang pengalaman intersubjekti: pengalaman hubungan antarsubjek.

Menurut Marcel, usaha seorang filosof bisa digambarkan; ia memanggil makhluk yang sudah hadir, walaupun ia sendiri tidak dipanggil; mencintasi makhluk yang sudah hadir, walaupun ia sendiri belum dicintai. Kata akhir dari seorang filosof bukanlah merupakan sekedar buah intelektualitas akal budi yang berpikir secara dingin dan objektif, melainkan dari keterlibatan sang filosuf sendiri yang dengan bebas merangkul realitas untuk mencintai kebenaran. Orang harus mengakui keberadaan makhluk-makhluk yang tidak bisa disangkal eksistensinya. Dari kesadaran, diluar berdiri pula makhluk-makhluk lain yang serupa, orang harus memunculkan sebuah keinginan untuk mencintai makhluk-makhluk tersebut. Kalau tidak, maka pengetahuannya akan tetap mandul dan orang akan tetap terisolasi dalam egonya sendiri.
Tuntutan untuk hadir dan terlibat dengan orang lain demi kebenaran, itulah yang Marcel sebut dengan participation. Pengalaman dalam kesadaranku menjamin berlangsungnyam partisipasi. Akibatnya, aku terbenam didalam dunia yang dapat disentuh dan diresapi oleh panca indera dan sebaliknya aku pun diresapi oleh dunia. Oleh rasa tersebut, aku mengalami dengan lebih mendalam sifat sosial dari segala sesuatu yang ada. Maka, dalam pengalaman intersubjektif, kita menjadi sadar, esse est xo-esse (ada selalu berarti ada bersama-sama). eksistensi manusia. Manusia selalu berada bersama dengan orang lain.

Tuntutan untuk hadir itu bersifat mutlak agar bisa mendekati dan memakai realitas konkret sebagai titik tolak filsafat. Kehadiran (presentation) mengatasi batas-batas yang berlaku untuk ruang dan waktu. Presence berarti aku berjumpa dengan Engkau secara pribadi: suatu ada bersama, suatu persekutuan (communion) dengannya. Maka dari itu, bila seseorang menjauhi situasi konkretnya, secara tidak sadar ia merongrong dasar aku nya sendiri sebagai sebagai subjek. Dengan demikian, ia tengah memutus tali-tali eksistensial yang (tali-tali eksistensial tersebut) justru menjadikannya subjek yang unik dan berpribadi. Akhirnya orang seperti itu akan menjadi seseorang yang terpisah dari akar eksistensinya.

Marcel memandang (berbeda dengan Sartre), bahwa eksistensi bersifat terbuka. Maksudnya: Aku hanya dapat mengetahui sesuatu, sejauh aku mencintai sesutau itu. Manusia yang terisolasi, terpisah dan terasing dari orang lain sebenarnya orang yang malang. Orang yang demikian (menurut Marcel) boleh dibilang tidak sungguh-sungguh hidup; jadi, tidak betul-betul ada.

Aku hanya dapat berkembang (hidup) secara wajar dan menjadi dewasa, sejauh aku membuka diriku pada orang lain dan mengadakan communion dengannya. Aku mebuka diri untuk menyerahkan diri kepada orang lain, mencintainya dan sebaliknya orang lian pun bergerak melakukan hal yang sama kepadaku. Maka dari itu, Marcel mengatakan, eksistensi manusia ditandai denga ciri keterbukaan: manusia expsea, auverta dan kerelaan untuk menyatu dengan orang lain. Dengan kata lain, saling terbuka di antara subjek merupakan kata kunci pokok dalam filsafat Marcel mengenai hubungan antar-pribadi. Sebab, bagi manusia berada selalu berarti ada bersama dengan-orang-lain.

Advertisements

0 Responses to “Aku”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




ME

Bankbenk

Bankbenk

Know nothing

Personal Links

Verified Services

View Full Profile →

Archives

November 2013
M T W T F S S
« Jul   Dec »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Twitter

  • ketikung polisi lah, pilot lah, dokter lah. curang, mereka udah keren beraninya saingan sama manusia nirfaedah kek gua giniih... 6 hours ago
  • nasib dikhianatin terus, tuhan. yg khianat rata-rata yg bego-bego pula. itu berhasil bikin sy keliatan lebih bego dr mereka. tuhan. 22 hours ago
  • gut rain, nice kupi, and best song for read some books soundcloud.com/zaqie-ginandja… https://t.co/7MSrAmke9b 1 day ago
  • ujan seharian membawa kata-kata sendu, tapi belum cukup dingin untuk mendekap rindu. sedikit lebih dingin lagi, sedikit lagi... 1 day ago
  • ia abis abisan mnghina film dalam negeri, sementara itu masih bs menikmati filmfilm asia spt thai, jepun, korea, holwut etc etc. kontradiksi 2 days ago
Follow KNOW NOTHING on WordPress.com

Blog Stats

  • 3,274 hits

%d bloggers like this: